ACT

Mandi Kekayaan Pedagang Bakumpai yang Merajai Tanah Dusun

0 333

KIPRAH para pedagang Bakumpai asal Marabahan sangat mengemuka di Tanah Dusun, Borneo Bagian Selatan pada 1920 hingga 1930-an. Mereka pun menjelma menjadi pesaing alami para pedagang Tionghoa.

SEJARAWAN muda FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin Mansyur mengutip tulisan Dana Listiana dalam Perekonomian di Kota Dagang Kolonial (2011), menuliskan keberhasilan orang Bakumpai asal Marabahan, justru menguasai perdagangan di Tanah Dusun.

Saat ini, Tanah Dusun (Afdeeling Doesoenlandeen) merupakan bekas sebuah afdeling dalam Karesidenan Selatan dan Timur Borneo berdasar Staatblad tahun 1989 Nomor 178. Sebuah kawasan berada di hulu Kota Mengaktip. Tanah Dusun juga disebut Barito Raya, terdiri dari Muara Teweh dan Puruk Cahu, dewasa ini berkembang menjadi empat kabupaten di Kalimantan Tengah yakni Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara dan Murung Raya.

BACA : Berburu Kosa Kata, Dosen UPR Susun Kamus Bahasa Bakumpai-Indonesia

“Kejayaan para pedagang Bakumpai di Tanah Dusun hingga dijuluki dengan istilah mandi kekayaan. Ini terbukti, banyak hartawan atau saudagar Bakumpai yang menguasai perdagangan di Tanah Dusun,” ucap Mansyur kepada jejakrekam.com, Selasa (14/1/2020).

Jebolan magister sejarah Universitas Diponegoro Semarang ini menyebut nama Haji Matnoer bergelar Haji Matnoer Borneo Sumatra, karena sebutan ini ditahbiskan kepada pedagang yang mempunya tangan kanan perusahaan Borsumij.

“Selain Haji Matnoer, ada pula Haji Mohd Joesoef yang papan namanya berlapis emas. Begitupula, H Mohd Djapri yang memiliki istana peranginan, bahkan saudaranya juga memiliki rumah besar dan mewah,” ucap Mansyur.

Dosen muda yang akrab disapa Sammy ini mengatakan para saudagar Bakumpai ini bahkan memiliki kapal sendiri bernama Herma, setara dengan para pedagang asal Singapura.

“Hampir sebuah kebutuhan warga di Tanah Dusun disuplai para pedagang Bakumpai asal Marabahan. Mereka mengangkut barang-barang yang dibutuhkan seperti tembakau, garam, kain, korek api dan keperluan hidup lainnya di atas perahu,” ucap Sammy.

Ketika itu, diakui Sammy, kebanyakan masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan belum mengenal mata uang, sehingga banyak keuntungan yang diraih para pedagang Bakumpai asal Marabahan. Dia mencontohkan, masyarakat Dayak sangat senang jika sepikul jeluntung ditukar dengan 2-3 kati (617,5 gram tembakau).

“Jadi, saat itu, komoditas yang didagangkan para pedagang Bakumpai itu menggunakan sistem barter,” ucap Sammy.

BACA JUGA : Bandar Marabahan dan Melacak Asal Usul Orang Bakumpai (2)

Sammy mengungkapkan meski Pemerintah Kolonial Belanda menyediakan moda transportasi sungai ke Marabahan, Negara, Babirik, Amuntai, Buntok, Muara Teweh dan Puruk Cahu dengan SS Negara, dan kapal pos BIM, toh kapal-kapal milik pribumi seperti Kapal Selamat dan Sampoerna menjadi pilihan para pedagang.

Sementara itu, dalam makalah Ahmad Syadzali, dosen Fakultas Ushuluddin IAIN (kini UIN) Antasari Banjarmasin berjudul Perjumpaan Islam Tradisi dan Dayak Bakumpai (26-30 November 2006) menegaskan istilah etnik Bakumpai tak bisa dibatasi sekat-sekat geografis.

“Dalam hal ini, Bakumpai secara konteks geografis itu berpusat di Marbaahan. Ini karena pada abad ke-15, Banua Bakumpai belum ada. Baru pada abad ke-16 (1525) ini ditandai dengan datangnya sebuah jukung (perahu) dari arah Barat Sungai Barito yang didayung satu keluarga terdiri dari lima orang, dua laki-laki dan tiga perempuan dengan ciri fisik kulit dan rambut berwarna kemerah-merahan (pirang),” tulis Ahmad Syadzali.

Hingga mencuat dugaan satu keluarga disebut Datu Habang Rambut (Datu Bahandang Balau) versi lain menyebut berkebangsaan Spanyol, dan versi lain menyebut Portugis.

Menurut Syadzali, sebelum ada Lebu (Banua) Bakumpai, Sungai Barito sudah ada, hingga alur pelayaran atau perdagangan yang dikuasai etnis Bakumpai membentuk perkampungan dari Marabahan ke Kuripan. Hingga terbentuk beberapa desa seperti Desa Banitan, Palingkau, Balukung, Jambu, Hampelas, Kabauau, Jaerangan, Palangkau dan Desa Kuripan.

“Dari jalur air ini melewati desa-desa yang erupakan tanah rawa atau selokan alami yang disebut sebagai jalan babi, rusa dan marga sastwa lainnya. Terutama di empat desa yakni Desa Banitan, Palingkau, Balukung dan Jambu. Lama-lama kelamaan selokan itu menjadi parit dan makin melebar dan akhirnya tembus ke Desa Ulu Benteng, Marabahan, sekarang,” tulis Syadzali.

Di Desa Ulu Benteng ini, menurut Syadzali, menjadi tempat bermukim orang-orang Bakumpai hingga menjadi perkampungan atau Lebu. Konon, akibat kampung terbakar, akhirnya masyarakatnya pun bercerai berai. Ada yang hulu, ke hilir serta menetap tidak jauh dari lokasi kebakaran,” tulis Syadzali.

BACA JUGA : Diaspora Orang Bakumpai dari Barito hingga ke Mahakam dan Katingan (1)

Arus perpindahan penduduk ini akhirnya membentuk kampung-kampung baru seperti Kampung Pasar, Kampung Bentok (Tengah), Kampung Basahab, Kampung Timbuk Ngambu, Kampung Ngawa Masjid, Kampung Sungai Madang, Kampung Jembatan Tiga, Kampung Baliuk Ngaju, Kampung Senali (Baliuk Ngawa), Kampung Bagus, Kampung Sungai Lukut dan Kampung Rumpiang.

Syadzali juga mengutip tulisan Heliu Sjamsuddin dalam Pagustian dan Temenggung Akar Sosial, Politik, Etnis dan Dinas, Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimatnan Tengah 1859-1906 (Balai Pustaka Jakarta; 2001), berdasar laporan Schwaner, sejak abad ke-19 Bakumpai telah berubah menjadi sebuah distrik utama yang meliputi beberapa daerah disepanjang alur Barito, seperti: Balawang, Marabahan, Kuripan, Paminggir, Mengkatib, Patai, Siong, Dayu, Paku dan Karau.

“Selain itu sebutan Bakumpai juga digunakan untuk menyebut Negeri utama Marabahan atau Muara-Bahan. Adapun mengenai kegiatan penduduknya, mereka bermata pencaharian sebagai pedagang,” tulis Syadzali.

BACA LAGI : Kaya Kosa Kata, Secara Linguistik Bahasa Bakumpai Serupa Bahasa Bajau

Dari laporan Schwaner, orang-orang Marabahan memiliki ratusan armada perahu dagang. Sedangkan jumlah penduduknya pada tahun 1845 berjumlah 5.265 orang. “Pada umumnya orang-orang Bakumpai menganggap dirinya merdeka, meskipun mereka berada di mana saja, dan mereka hanya taat pada negeri induknya di Bakumpai. Namun, kehadiran orang-orang Bakumpai memberi keuntungan bagi penduduknya,” tulis Syadzali.

Senada Mansyur, Syadzali juga menyepakati bahwa orang-orang Bakumpai merupakan kunci sukses perdagangan dari produksi para pemukim di Sungai Negara, Barito, Kapuas, dan Kahayan. “Karena ketika itu, jalur perdagangan harus melalui Marabahan,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.