ACT

Hujan

0 54

Oleh : Almin Hatta

SEJAK kecil aku sangat menyukai hujan. Karena itulah, ketika beberapa hari terakhir hujan deras kerap turun, aku sering berlama-lama duduk di teras rumah, terpesona menatap jutaan rintik hujan yang membasahi taman kecil di samping halaman. Ada kenikmatan tersendiri menghirup sejuknya udara hujan.

DUA hari lalu, saking asyiknya menikmati hujan, aku tanpa terasa melayang ke masa puluhan tahun silam. Dulu, ketika masih duduk di bangku SD, setiap hujan deras aku selalu mandi hujan di pancuran atap rumah. Aku tak akan berhenti sebelum hujan berhenti. Ketika SMP dan SMA, aku memang tak lagi suka mandi hujan. Tapi, kalau waktu bubar sekolah kebetulan hujan deras, aku biasanya pulang dengan jalan kaki menerabas guyuran hujan. Aku tak pernah merasa kedinginan, dan justru menikmati kesenangan.

Akhirnya hujan berhenti, dan aku sadar kembali, lalu teringat cerita menarik mengenai hujan dalam buku bertajuk Parodi Sufi karya Muhammad Hussein Owadally.

BACA : Banjarmasin, Kota Sungai Dihantui Bayang Krisis Air Bersih ‘Abadi’

Dikisahkan, suatu hari ketika hujan deras turun, seorang pemuda bernama Aga cepat-cepat lari mencari tempat berteduh. Melihat ulah pemuda itu, Nashruddin Hodja yang kebetulan berada di jalan yang sama, menegurnya. “Kenapa Anda menghindari hadiah dari Allah? Sebagai manusia beriman, semestinya Anda sadar bahwa hujan adalah berkah bagi semua makhluk Allah.”

Aga mengakui kebenaran kata-kata Nashruddin Hodja. Karenanya ia meneruskan perjalanan menerabas hujan deras, melewati jalan kecil becek, hingga sampai ke rumahnya dalam keadaan basah sebasah-basahnya.

Setelah berganti pakaian dan berselimut sarung karena masih kedinginan, Aga  menengok jalanan lewat jendela. Di kejauhan ia melihat Nashruddin justru sedang berteduh di bawah atap sebuah bangunan, sementara hujan belum juga reda.

Aga penasaran, lalu berteriak lantang, “Hal mullah, sekarang jelaskan kepadaku, kenapa Anda justru lari dari berkah Allah. Kenapa Anda justru menghindari hujan?”

Tapi, sambil tersenyum, Nashruddin berseru pelan, “Hai anak muda, Anda rupanya tidak menyadari bahwa aku berteduh dari hujan sekarang ini justru sedang menahan diri dari memperoleh berkah yang jauh lebih banyak lagi,” ujarnya.

BACA JUGA : Banjir Di Cempaka, Personel Kodim Martapura Evakuasi Penderita Stroke

Ucapan Nashruddin yang sufi kenamaan itu tentulah sarat makna. Tapi, yang pasti, sebagaimana halnya kemarau kelewat panjang yang menyengsarakan, maka kebanyakan hujan pun bisa membuat kita kelimpungan. Sebab, banjir setiap saat datang menghantam permukiman. Dan, itulah yang kita saksikan melanda Jabodetabek beberapa hari lalu. Banjir di mana-mana. Puluhan ribu rumah terendam, bahkan sekian puluh orang ditemukan meninggal dunia. Maka duka pun mengharu-biru perasaan kita. Sebagaimana halnya hujan yang kelewat banyak akan berubah menjadi bah, maka seseorang yang tak pernah cukup akan berkah yang diterimanya bisa tergelincir menjadi serakah.(jejakrekam)

Editor Almin Hatta

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.