ACT

Ketika Medsos Kita Dijejali Kabar Corona

0 93

Oleh: Dr. M. Suriani Shiddiq, S.Ag, M.Si

DI BALIK semua analisis apap pun, saya tetap berharap pemerintah tentu harus berhati-hati dalam memberlakukan lockdown atau karantina suatu wilayah, seperti negara lain.

TENTU sangat berhati-hati bukan berarti diam dan tak bertindak, namun bukan pula menambah  panik masyarakat.  Tentu, dengan  membubarkan perkumpulan massa adalah tindakan terakhir, jika memang imbauan tak dihiraukan.

Dari kacamata komunikasi, hemat saya pendapat ahli sudah lebih daripada cukup. Justru yang membuat panik adalah media sosial (medsos). Sebab, kita saling berlomba ingin menjadi yang paling pertama membagi informasi apapun soal isu yang menurut kita penting.

Hari-hari ini saja, hampir tak ada satu pun obrolan di medsos selain Corona. Seolah bila tak membahasnya di grup WA atau lainnya, kita menjadi primitif dan terbelakang. Bodohnya, kebanyakan kita justru menelan bulat-bulat informasi yang kita dapat di medsos.

BACA : Panik Corona Bisa Memicu Perubahan Sosial Masyarakat

Bahkan, kita sulit menemukan obrolan lain selain Corona di medsos akhir-akhir ini.  Hingga, kita hampir kehilangan selera humor dan candaan riang yang semestinya kita perbanyak, di samping nasihat dan motivasi utk saling tetap berkabar menjalin silaturahmi antar anggota medsos.

Detik demi detik kita seolah sedang bersiap menjemput maut, karena obrolan kita hampir melulu soal angka statistik kematian, korban dan orang-orang yang terpapat Corona. Inikah kiamat sesungguhnya?

Secara teologis dan iman, kita mewajibkan percaya bahwa mati, dan kiamat adalah sesuatu yang pasti. Tapi, Tuhan memberikan kita pilihan untuk menyikapi dan menggunakan daya dari iman yang kita punya dalam menghadapi apapun masalah kehidupan, termasuk bencana Corona.

BACA JUGA : NU, Politik Imajiner dan Kerajaan Halu

Setop membahas Corona barang satu dua jeda. Kita bisa tertawa dan bercanda seperti biasa,  mentertawakan diri kita sendiri. Kalaupun harus tidak saling berjumpa, saling bertatapan mata, rangkul dan genggam erat tangan saudara kita seperti biasa dari “dunia sana” tempatmu menatap layar ponsel kita.

Ayo semangat, Corona mungkin bencana dan bisa menimpa siapa saja. Lalu mengapa kita harus takut dan kehilangan selera humor kita. Seraya berdoa dan bermunajat kepada Yang Kuasa, agar bencana ini segera berlalu dari hadapan kita.(jejakrekam)

Penulis adalah Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Kalimantan (JIMKa)

Dosen Komunikasi dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.