ACT

Si Kaya yang Papa

0 94

Oleh: Almin Hatta

ADA cerita menarik mengenai Nashruddin. Sufi kenamaan yang kerap memberikan teladan bagi kehidupan ini suatu hari pergi ke danau bersama istrinya tercinta. Nashruddin mau mandi, sedangkan istrinya ingin mencuci.

BEGITU sampai di tepi danau, Nashruddin langsung mencebur ke dalam air yang segar dan berenang ke tengah danau. Sedangkan istrinya bersiap-siap untuk mencuci pakaian. 

Nah, saat itulah tiba-tiba datang sekawanan gagak. Burung-burung hitam legam itu kemudian menukik turun, lalu mencuri sabun mandi dan sabun cuci milik Nasyruddin dan istrinya yang diletakkan di atas batu.

Melihat itu, istrinya berteriak, “Lihat, burung-burung gagak itu mencuri sabun kita!”

Tapi Nashruddin tenang-tenang saja. Sambil menggosok tubuhnya dengan sebongkah batu kecil, ia berseru, “Biarkan saja, kenapa mesti bingung? Bukankah burung-burung gagak yang hitam legam itu jauh lebih kotor ketimbang diri dan pakaian kita? Karena itu mereka jelas lebih membutuhkan sabun ketimbang kita.”

BACA : Kaya

Nukilan cerita Nashruddin karya Nashiruddin dalam buku Nawadhir Juha al-Kubra di atas memang terasa kurang lazim. Bagaimana mungkin orang kecurian justru tenang-tenang saja, dan bahkan menyatakan bahwa si pencuri memang lebih membutuhkan barang yang dicurinya.

Tapi, sebenarnya, pencuri umumnya memang jauh lebih membutuhkan barang yang dicurinya ketimbang pemilik barang tersebut. Hanya saja, hal ini cuma berlaku pada pencuri “sejati”. Yakni orang yang terpaksa mencuri karena sudah tak ada lagi upaya lain baginya untuk menghidupi anak-istri.

Hal semacam ini berlaku pula pada kisah “Maling Budiman” yang tiap malam menyatroni rumah orang kaya, mengambil sebagian kecil harta mereka untuk kemudian dibagikan kepada rakyat yang papa.

Masalahnya, di sekeliling kita ada banyak pencuri yang bukan pencuri “sejati”. Mereka melakukan pencurian, dan bahkan perampokan, bukan karena tak ada yang dimakan, bukan pula untuk membantu rakyat yang dihimpit kesusahan atau dilanda kelaparan.

Mereka ini bisa terdiri dari orang-orang yang dengan sengaja memilih mencuri atau merampok sebagai pekerjaan. Artinya, meski sudah sering sukses melakukan aksi pencurian atau perampokan, mereka tetap saja terus melakukan pencurian dan perampokan.

BACA JUGA : Berilah!

Maklumlah, mencuri dan merampok bagi mereka adalah pekerjaan. Sebagaimana pekerjaan lainnya, maka kegiatan itu terus mereka lakukan. Sebab, orang yang sudah biasa bekerja tentu akan merana jika menganggur saja.

Celakanya, ada pula orang-orang yang melakukan aksi pencurian atau perampokan sebagai usaha sampingan. Pekerjaan resmi mereka boleh jadi pejabat negara atau pengusaha ternama, tapi disamping itu, mereka juga menjadi pencuri atau perampok. Yakni melakukan tindakan korupsi atau membabat hutan dan menjarah barang tambang dengan cara curang.   

Mereka ini tentu saja sudah kaya raya, namanya juga penjabat atau pengusaha. Hanya saja, orang-orang seperti ini tak pernah merasa berkecukupan melainkan terus merasa kekurangan.(jejakrekam)

Editor Almin Hatta

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.