Antisipasi Karhutla, Teknologi Tepat Guna Rekomendasi GTZ Jerman Bisa Diterapkan Lagi di Kalsel

0

KEMARAU berkepanjangan hingga memicu kebakaran lahan dan hutan (karhulta) dan bencana kabut asap telah melahirkan dampak berganda bagi Kalimantan Selatan.

FAKTANYA sejak awal 2023, berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalsel mencatat luas wilayah terbakar mencapai 1.978 hektare.

Ada 13 wilayah yang terdampak karhutla, yakni Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Timur (HST), Hulu Sungai Utara (HSU), Balangan, Tabalong, Barito Kuala, Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru.

Dari pantauan Satelit Sipongi per Agustus 2023, ada 7.987 titik hot spot termonitor dan tersebar di 13 wilayah kota/ kabupaten. Sedangkan hasil pemantauan lewat udara ditemukan 793 titik api.

Dampak kabut asap, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalsel mencatat 189.111 kasus infeksi saluran penapasan akut (ISPA) dialami warga Kalsel periode Januari-September 2023. Terbanyak berada di Banjarmasin dengan 36.082 kasus, disusul Kabupaten Banjar (26.237 kasus), Banjarbaru (22.910 kasus), Hulu Sungai Tengah (17.699 kasus), Balangan (12.174 kasus).

BACA : Karhutla Kian Parah, Warga Liang Anggang Berharap Presiden Jokowi Datang ke Kalsel

Berikutnya, Hulu Sungai Selatan (11.584 kasus), Hulu Sungai Utara (10.267 kasus), Tabalong (9.875 kasus), Tanah Bumbu (9.786 kasus),  Tapin (9.698 kasus), Barito Kuala (8.125 kasus) dan terakhir Tanah Laut terdata ada 1.229 kasus ISPA.

Anggota DPRD Kota Banjarmasin, Sukhrowardi mengungkapkan sebenarnya ada teknologi terapan dalam mengantisipasi fenomena karhutla direkomendasikan oleh tim ahli dari GTZ Jerman.

“Ternyata, teknologi terapan Jerman dengan sekat api. Caranya membangun bedeng berupa gundukan tanah kemudian ditanam pohon pisang. Itu cukup efektif, terbukti pernah diterapkan di Tanah Laut, hasilnya terasa,” kata Sukhrowardi kepada jejakrekam.com, Jumat (29/9/2023).

BACA JUGA : Ini 3 Daerah Terbanyak Karhutla di Kalsel, BNPB Rencanakan Hujan Buatan

Menurut dia, pelibatan tim ahli GTZ Jerman didampingi tim yang digawangi akademisi dan aktivis LSM di Kalsel di era Gubernur Kalsel Gusti Hasan Aman (periode 1995-2000). Di antaranya, Muhammad Budairi, Ali Mustofa, dan lainnya, termasuk Sukhrowardi sendiri.

“Teknologi terapan yang diperkenalkan oleh Deutsche Gessellschaft fur Tenchnische Zusammenarbeit (GTZ) yang kini bergabung ke GIZ Jerman ini memang bergerak dan beroperasi di lebih 130 negara, termasuk Indonesia. Nah, tim ahli dari GTZ merekomendasikan agar efektif dalam penanganan karhutla di lahan gambut dibuat sekat api atau bedeng yang kemudian ditanam pohon pisang,” tutur Sukhrowardi.

Anggota DPRD Kota Banjarmasin dari Fraksi Golkar, Sukhrowardi. (Foto Dokumentasi JR)

————

Mengapa harus pohon pisang? Menurut Sukhrowardi, dari hasil kajian tim GTZ Jerman itu terungkap jika pohon pisang itu pada musim hujan bisa menyerap air dalam jumlah banyak, kemudian pada musim kemarau akan melepaskannya sebagai cadangan air.

BACA JUGA : Tanggulangi Karhutla, Suria: Status Siaga Karhutla Berlaku Hingga November

“Bandingkan sekarang dengan pembangunan sumur bor di kawasan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin di Banjarbaru, apakah efektif di lahan rawa? Padahal, dengan teknologi sekat api model bedeng dan ditanami pohon pisang itu terbukti efektif, sayang kini mulai dilupakan,” tutur Wakil Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Banjarmasin.

Menurut aktivis NGO senior Kalsel ini, bencana karhutla ini bukan hanya terfokus pada kegiatan pemadaman, namun juga harus terukur pada kegiatan pra dan pasca. Terutama, pemulihan area lahan dan hutan pasca kebakaran.

BACA JUGA : Ada Pembiaran Perusahaan, Polda Kalsel Tangani 2 Kasus Karhutla di Kota Banjarbaru

“Nah, dalam mengurangi potensi titik api yang biasanya berada di dalam tanah, khususnya di lahan rawa itu sangat penting ada penyekatan atau bedeng dan ditanam pohon pisang. Sebab, pohon pisang juga bernilai ekonomis bagi pemilik lahan,” kata Sukhrowardi.

Menurut dia, biaya operasional terbesar adalah saat kejadian karhutla dengan menerjunkan armada seperti mobil pemadam kebakaran hingga helikopter bombing water. Sementara, sumber air juga sangat terbatas di area karena karhutla ini terjadi di musim kemarau.

“Tidak ada salahnya kembali menghidupkan rekomendasi teknologi tepat guna dari GTZ Jerman untuk membuat bedeng atau sekat api di lahan yang rawan terbakar. Ini harus segera diterapkan oleh pemangku kepentingan di Kalsel,” pungkas Sukhrowardi.(jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Ipik Gandamana

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.