Tayang Perdana, Film Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Memukau Penonton

0

FILM Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, yang menceritakan kehidupan ulama ternama di Provinsi Kalimantan Selatan, resmi ditayangkan.

DIBUKA oleh Wakil Gubernur Kalsel H Muhidin didampingi para pejabat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), dan juga di hadiri Anggota DPRD Kota Banjarmasin dari Fraksi Golkar, Sukhrowardi. Film tersebut ditayangkan perdana di bioskop Kota Cinema Mall (KCM) Belitung Darat, Kota Banjarmasin, Selasa (20/12/2022).

H Muhidin menyampaikan apresiasi terhadap film yang berjudul ‘Matahari Dari Bumi Banjar’ tersebut akhirnya tayang. Film ini dibuat untuk mengingat kembali ketokohan ulama yang lahir pada tahun 1710 dan meninggal tahun 1812 silam.

BACA: 4 Kontribusi Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari bagi Nusantara

Ulama yang lebih akrab disebutnya Datu Kalampaian tersebut ketokohannya tidak hanya mashur di Kalsel, namun juga hingga mancanegara. “Jasa dan dedikasi Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari sangat besar bagi daerah ini dan negeri ini pada umumnya,” kata H Muhidin.

Apalagi film tadi menceritakan tentang perjalanan dakwah ulama yang menempuh pendidikan di Timur Tengah tersebut, ini menjadi pengingat dan catatan sejarah bagi generasi selanjutnya, akan besarnya ulama di tanah Banjar ini.

Sementara itu Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Pemprov Kalsel melalui Kabid Kebudayaan Raudati Hidayati mengatakan, pemutaran film pada hari ini merupakan scering satu. “Artinya kita masih memerlukan saran dan masukan untuk penyempurnaan,” ujarnya.

“Kemudian pada pada tanggal 26 Desember 2022 akan diputar kembali di pusat perfilman nasional di gedung Usmar Ismail Jakarta,” sambungnya.

BACA JUGA: Bedah Buku Berumur Ratusan Tahun, Ternyata Ada Silsilah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari

“Pemutaran di Jakarta nanti Insyaallah Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor akan hadir, dan akan mendapatkan penghargaan dari yayasan Usmar Ismail,” bebernya.

Dia menambahkan, Film yang menghabiskan dana Rp 4,8 miliar ini penayangannya tidak terfokus kepada gedung-gedung bioskop, namun juga pada gedung yang representatif yang bisa dimanfaatkan.

“Sebab film ini merupakan upaya edukasi, komunikasi, ekspresi budaya dan juga kedepan akan membentuk ekosistim perfilman di Kalimantan Selatan,” ujarnya.

Disebutkan, film dibuat oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, dan digarap oleh Expresa Media Pariwara dari Kota Tangerang. Namun film ini tidak mendapatkan royalti apapun, kerena murni proyek Pemprov Kalsel untuk mengedukasi generasi muda.

Anggota DPRD Kota Banjarmasin Sukhrowardi, yang juga ikut menyaksikan film tersebut sangat terpukau melihat kiprah Muhammad Arsyad Al-Banjari yang sangat berkontribusi dalam kajian Al-Qur’an terhadap perkembangan Islam.

BACA LAGI: DPRD Banjarmasin Hanya Beri Sanksi Moral, Film Jendela Seribu Sungai Ternyata Berbiaya Rp 6,8 Miliar

“Bahkan keturunan ulama yang menulis kitab ilmu fikih “Sabilal Muhtadin” ini banyak yang menjadi ulama besar seperti KH Muhammad Zaini bin Abdul Gani atau Guru Sakumpul Martapura,” sebutnya.

“Menyaksikan tayangan film membuat kita bangga dan mencintai ulama, khususnya Datuk Klampayan. Semasa hidupnya mengajarkan kebenaran beribadah, berpemerintahan, dan mengelola hasil bumi Banua demi kemakmuran rakyatnya, serta membangun sekolahan islam yang unggul. Mencontohkan umara harus ulama yang menesehatinya. Bagaimana hukum adil dan tegak, berdasarkan hakim yang jujur dan penyidik yang berilmu,” bebernya.

Kekaguman Sukro terlihat dari alur cerita film, dimulai kepulangan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Timur Tengah. Sebelum ke Tanah Banjar, beliau singgah dulu bersama para sahabatnya di Tanah Betawi atau kini disebut dengan Jakarta.

Sejak tinggal di Jakarta itu, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari sudah menunjukkan keilmuannya. Salah satunya memperbaiki arah kiblat mesjid-mesjid di sana.

Begitu juga setelah di Tanah Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari pun banyak menyampaikan ilmu-ilmu agama Islam hingga fatwa tentang hukum syariat, dan ditaati masyarakat.

“Bahkan juga Muhammad Arsyad Al-Banjari membuat irigasi dari Sungai Tuan, sebagai transportasi air untuk pengendalian banjir dan lahan pertanian,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.