Husairi Abdi

Apresiasi Seni yang Minim di Tengah Karya Terbaik Maestro Banua

0

BANJARMASIN belum punya galeri seni atau pasar seni yang bisa menyuguhkan karya-karya pelukis atau perupa ibukota Kalimantan Selatan.

HAL ini terungkap dalam dialog seni rupa dan art tark show di depan Bengkel Seni Gusti Sholihin Hasan, Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin, Sabtu (15/1/2022) sore. Di hadapan dua maestro lukis Kalsel, Nanang M Yus dan Misbach Tamrin dan Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarmasin Hajriansyah, Walikota Ibnu Sina memaparkan pendapatnya.

Nanang Yus yang sudah berkarya di tengah usia telah menginjak 78 tahun. Dalam berkarya, Nanang Yus pun membeber pesan moral keseharian masyarakat Banjar yang divisualisasikan di atas kanvas. Tak mengherankan, jika tema pameran lukisan menyatakan sebuah titik nadir dalam berkarya alias kemapanannya.

Sementara itu, Misbach Tamrin berpandangan soal aliran gaya pelukis atau seni rupa. Karena hal itu berkelindan dengan mood sang pelukis yang inspiratif. Misbach pun bisa memetakan seni rupa di Kalimantan Selatan berdasar hasil karyanya yang telah menembus pasar nasional dan internasional.

Lain lagi dengan Ibnu Sina. Mantan anggota DPRD Kalsel ini lebih menyorot pada objek lukisan yang dituangkan Nanang Yus dalam pameran tunggal bertajuk Titik Nadir.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin Hajriansyah mengungkap pendapatnya. Menurut dia, apresiasi adalah jiwa kesenian, tanpanya dedikasi seniman terasa sia-sia. Yang pertama mengapresiasi keindahan adalah senimannya sendiri, ia merawatnya sebagai anak-kandung ideologis melalui karya seninya.

“Totalitas atau dalam kata lain proses dan dedikasinya membuat orang lain turut meluangkan waktu untuk mengapresiasi. Bahkan hingga ada yang obsesif, seperti kisah Hong Djien di awal-awal masa ia mengoleksi karya–hingga nekat membawa pulang puluhan karya pelukis oldmaster Indonesia dari luar negeri yang tak terkira biayanya,” beber Hajriansyah.

Begitu pula, menurut dia, soal kebijakan otoritas akan lebih lancar jika dimulai dari ketulusan mengapresiasi. Tentu saja, semuanya mesti berjalan secara bertahap, terintegrasi dalam strategi yang jelas.

“Bukan paksaan, rengekan, atau malah ancaman kekanak-kanakan. Saya kira begitulah seni mengajarkan kita mengapresiasi hidup dan semesta keindahan yang singkat namun penuh makna ini,” papar pemilik Kampung Buku Banjarmasin ini.

Selebihnya, menurut dia, soal strategi pasar yang tidak bisa diremehkan untuk menjaga keseimbangan iklim berkesenian yang ajeg dan niscaya. Inilah industri kreatif dan eksklusif yang banyak orang bergantung hidup padanya.

“Inilah mengapa Banjarmasin sebenarnya butuh galeri seni atau minimal pasar seni seperti di kota-kota besar di Indonesia. Sebut saja Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta hingga Bandung,” pungkas Hajriansyah.(jejakrekam)

Penulis Iman Satria/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.