Husairi Abdi

Dikulimbiti Urang

0

Oleh : Noorhalis Majid

HARTA dan kekayaan yang dimiliki, diperas habis-habisan oleh orang lain. Diambil satu persatu, mulai dari tabungan, hasil warisan, rumah, tanah, mobil, dan segala aset yang dimiliki, dikuras tanpa terasa dan berpindah tangan kepada orang lain, itulah makna dikulimbiti urang.

BADAN dikuliti orang, begitu arti harfiahnya. Bisa dibayangkan betapa sakit dan kejamnya. Menjadi ilustrasi tentang harta dan kekayaan yang diambil satu persatu dari badan, seakan menguliti tubuh sang pemiliknya. Diambil, berpindah tangan dan yang tersisa hanya luka.

Mungkin ada yang pernah menyaksikan atau mengalami, bersengketa kepemilikan harta warisan dengan saudara sendiri, lalu meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikannya, ternyata biaya membayar orang lain tersebut setara dengan separuh dari nilai harta yang disengketakan, bahkan justru harta tersebut berpindah pada pihak yang menjadi penengah. Karena keras hati, lebih rela harta berpindah pada orang lain ketimbang saudara sendiri.

BACA : Teranyar ‘Dijamak Jibril’, Dokumentasikan Paribasa Banjar Berisi Nasihat dalam Tiga Buku

Ada juga seorang yang kaya – mapan, lalu setelah pasangan hidupnya meninggal, memilih kawin lagi. Pasangan hidup yang baru ternyata hanya mengejar hartanya. Akhirnya satu persatu, harta berpindah kepada pasangan hidup yang baru. Surat-suratnya berganti nama, dan ketika meninggal dunia, anak-anak pemilik waris yang sah, mendapati semua harta sudah bukan milik orang tuanya lagi.

Cerita-cerita tersebut mungkin seperti kisah sinetron, tapi ternyata juga kerap terjadi dalam dunia nyata. Seringkali, kebaikan, kepolosan atau yang lebih parah lagi kebodohan, dimanfaatkan orang lain untuk mengambil apa yang dimiliki.

BACA JUGA : Kuliner Banjar; Refleksi di Ujung Lidah, Warisan yang Tak Boleh Luntur

Begitu baiknya, hingga sangat percaya pada orang lain, padahal yang bersangkutan menggerogoti harta dan segala kepemilikan kita. Begitu pun karena kepolosan dan kebodohan, mempercayakan pada orang lain untuk mengurus segala hal yang tidak dimengerti dan pahami, tapi akhirnya justru menipu dan merugikan diri kita.

BACA JUGA : Lama Vakum, Dewan Kesenian Banjarmasin Kembali Gelar Ajang Musyawarah Seniman

Ungkapan ini memberikan pelajaran, berhati-hati dalam menjaga harta – kekayaan dan asset, karena pasti menjadi incaran orang lain. Semua yang mendekat, siapa dan apapun statusnya, bisa saja memiliki maksud terselubung untuk mengambil kekayaan yang dimiliki, karena sudah menjadi kondratnya, setiap ada harta dan kekayaan, akan banyak orang yang berkerumun, waspada jangan sampai dikulimbiti urang.(jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar

Staf Senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin

Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.