Husairi Abdi

Banjarmasin Kejar Target Herd Immunity di November, Ini Catatan dari IDI Kalsel

0

TIADA hari tanpa vaksinasi. Ini tekad Walikota Banjarmasin Ibnu Sina agar pada puncak hari Kesehatan Nasional pada Jumat (12/11/2021) nanti, tercapai herd immunity atau kekebalan komunal terhadap Covid-19.

DALAM beberapa kesempatan, Walikota Ibnu Sina menyebut capaian vaksinasi Covid-19 di Banjarmasin sudah berada di angka 61 persen. Ini berarti, hanya tersisa berapa persen menggapai target 75 persen warga Banjarmasin telah disuntik vaksin.

“Batas minimal untuk herd herd immunity  adalah pada angka 75 persen. Makanya, tiada hari tanpa vaksinasi menuju Banjarmasin herd immunity pada 12 November 2021 nanti,” ucap Ibnu Sina dalam acara penyerahan 10 jukung bantuan PT Angkasa Pura 1, pengelola Bandara Internasional Syamsudin Noor di Siring Tendean, Banjarmasin, Selasa (27/10/2021).

Rumusnya, beber Ibnu Sina, jika kasus Covid-19 bisa dikendalikan, maka pertumbuhan ekonomi akan terasa bagi masyarakat. Terkhuus, untuk pembukaan kawasan pariwisata Siring Tendean, Pasar Terapung Muara Kuin serta 10 destinasi wisata lainnya di Banjarmasin.

Walau saat ini Banjarmasin masih menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 2, Ibnu menyebut sebenarnya 30 persen kawasan wisata bisa dibuka bagi publik. Antisipasi agar tak memicu kerumunan pun jadi solusi agar roda perekonomian kota terus bergerak.

BACA : Banjarmasin Target Herd Immunity Covid-19 Paling Lambat 10 November Nanti

Nah, rencana Walikota Ibnu Sina pun diingatkan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalsel Dr Mohammad Rudiansyah. Menurut dia, ada beberapa hal yang tidak bisa hanya melihat sebuah rencana di atas kertas.

“Apakah benar-benar terbukti antibodi yang cukup mampu melawan virus Covid-19? Jadi perlu diingat, angka cakupan vaksinasi Covid-19 dihitung sejak kapan? Dosis vaksin ke berapa? Kapan dosis terakhirnya,” kata dokter spesialis penyakit dalam ini kepada jejakrekam.com, Rabu (27/10/2021).

Rudiansyah yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini mengatakan jika angka cakupan vaksinasi itu terjadi dalam waktu singkat serentak dengan dosis dan jenis yang sama.

“Apalagi, sudah diketahui efektivitasnya yakni dengan cakupan 70 persen, maka harus jenis vaksin ynag punya efektivitasnya sekitar 90 persden ke atas. Yang sekarang ada merek Moderna dan Pfizer. Jadi, jangan dicampur dengan jenis vaksin yang justru efektivitasnya rendah,” kata dokter Rudi, sapaan akrabnya.

BACA JUGA : Berdamai dengan Covid-19 Lewat Skenario Herd Immunity?

Ini skenario vaksinasi dengan target herd immunity berbahasa Inggris. (Foto Dok Rudiansyah)

Dokter RSUD Ulin Banjarmasin ini mengatakan sekitar tiga hingga enam bulan, titer antibodi dalam tubuh akan terjadi penurunan signifikan.

“Nah, ketika yang divaksin itu rata-rata sudah enam bulan lalu, tetap dihitung atau dijumlahkan sebagai cakupan, tentu tidak dibukitkan secara ilmiah akan mampu terjadi herd immunity. Jangan-jangan sudah tak ada lagi kekebalan di tubuhnya lagi,” papar Rudi.

BACA JUGA : Capaian Vaksinasi Covid-19 Banjarmasin Diklaim Tertinggi di Kalimantan Selatan

Sudah menjadi rahasia umum, doktor ilmu kedokteran lulusan Universitas Padjajaran Bandung ini menyebut pada awal program vaksinasi di Indonesia, termasuk di Banjarmasin disuntikkan vaksin Sinovac dengan VE atau efektivitas terhadap serangan Covid-19 hanya sekitar 65 persen saja.

“Ini artinya, jika ingin mencapai herd immunity maka Banjarmasin harus memiliki cakupan 90 persen dalam waktu dekat, bukan selisihnya jauh. Yang lama-lama sudah hilang lagi kekebalannya. Harus diingat, serangan Covid-19 ini seperti gelombang, yang lama tertinggal lagi. Jadi mulai dari awal lagi,” beber dokter lulusan UGM Yogyakarta.(jejakrekam)

Penulis Rahim/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.