Tadarus Sungai

0

Oleh: Dr H Sukarni

Esai Sungai  dalam Perspektif Islam

SELARAS dengan tibanya Ramadan sebagai bulan tadarus Alquran tahun ini yang berpadu dengan giat masyarakat Kalsel, khususnya Kota Banjarmasin dalam restorasi sungai, tulisan ini dihadirkan dengan tema Tadarus Sungai. 

TULISAN ini diniatkan menjadi media silaturahmi di tengah pandemi, saat terbatasnya forum komunikasi , untuk tetap membangun  spirit agama bagi semuanya dalam memperjuangkan kerja sama pasca banjir, merestorasi sungai-sungai agar membawa keberkahan.  

Tadarus Sungai merupakan  wahana  memadukan nilai-nilai kearifan sungai dengan bulan suci Ramadan. Sungai adalah tempat menampung air kehidupan. Ramadan adalah wadah keberkahan. Sungai mengalir dan melarutkan. Ramadan saat pertobatan segala kesalahan. Sungai mengalir menumbuhkan kehidupan.  Ramadan mengalir turunnya Alquran.  Di atas sungai terbentang jembatan. Ramadan siap menghantarkan menuju kesucian.

Surga Sungai Mengalir

Mengapa gambaran surga itu sebagai kebun dengan  sungai-sungai  mengalir di bawahnya,  sebuah pertanyaan yang jawabannya mungkin hanya dapat dirangkai oleh manusia yang tinggal di kota seribu sungai, orang Banjar. Lah, bagaimana bisa menjelaskan, kalau orang tidak pernah melihat apalagi hidup berdampingan dengan sungai, sebuah hal yang mustahil, menjelaskan sesuatu yang tidak jelas, bukan bertambah jelas.

Begini. Surga itu tempat yang belum pernah dilihat mata, dirasa lidah, bahkan didengar telinga. Begitu penjelasan baginda Nabi. Surga itu aneh tapi nyata. Aneh karena hakikatnya belum  pernah dialami manusia; nyata karena janji Yang Maha Kuasa. Akan tetapi, karena sangat cinta kepada hamba-Nya, Allah jelaskan perumpamaannya, bukan persamaannya. Perumpamaan sebagai misal saja, sebagai gambaran sedikit tentangnya. Mari kita perhatikan dua ayat berikut.

QS ar-Ra’d/13:35 “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka”.

BACA : Pakar Fikih Lingkungan UIN Antasari Sebut Bangunan Di Atas Sungai Langgar Hukum Islam

QS Muhammad/47/15 “Perumpamaan (penghuni) jannah (surga) yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya”.  

Bagi orang yang tinggal di padang pasir tandus, seperti  permukiman teman-teman setia Nabi, tempo dulu, ayat tersebut bagai sebuah hayalan. Jangan pun informasi sungai mengalir,  ditemukannya sumur saja sudah sebuah anugerah dan kebanggaan mereka. Bahkan, karena sumur itulah, penduduk masyarakat Arab, dahulu, bermukim dan berkelompok membangun kabilah. Bagi kita yang hidup dalam geografis Kota Seribu Sungai, perumpamaan surga itu langsung dapat menjadi petunjuk.

Bahkan, dengannya kita dapat menyusun kondisi terbalik, bahwa saat sungai-sungai tidak mengalir karena tertutup sampah dan bangunan, ketika mutu airnya berubah menjadi tercemar, ketika air bakunya tidak layak konsumsi dan ikan-ikan pun enggan hidup mambangun generasi, maka saat itulah surga telah hilang, dan mungkin akan berganti menjadi siksa kehidupan. Hilang keberkahan, yang didapat hanya laknat Tuhan. Na’zu billah.

Oleh karena itu, perumpamaan surga sebagai sungai mengalir menunjukkan manfaat keberkahan yang diberikan Allah bagi masyarakat di dunia yang sungai-sungainya bersih mengalir jernih sampai jauh. (jejakrekam)     

Penulis adalah Dosen Ilmu Fikih FEBI UIN Antasari Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.