Sihir Baru Sebuah Kota, Cerita Inisiator dalam Perkembangan Sastra di Banua

0

BINCANG Literasi #2 dalam agenda diskusi buku Sihir Baru Sebuah Kota (SBSK) yaitu antologi bersama Sekte Penulis Muda Kalimantan Selatan, yang resmi diluncurkan di Kampung Buku Banjarmasin, Jalan Sultan Adam, Banjarmasin.

BERSAMA dua penulis serta inisiator buku tersebut, yakni Rafii Syihab (Penggagas) dan Akbar Rizky Sholeh (Penulis), serta pengulas buku dihadirkan yaitu Akademisi Bahasa Indonesia dari Politeknik Banjarmasin, Nailiya Nikmah.

“Antologi puisi dan cerpen Sihir Baru Sebuah Kota (SBSK) diterbitkan oleh G Pustaka (Februari 2021) berjumlah 110 halaman ditulis oleh sekumpulan penulis muda Kalimantan Selatan dengan sebutan Sekte Penulis Muda Kalimantan Selatan (demikian tertulis di sampul buku),” ucap Nailiya dalam ulasannya kepada jejakrekam.com, Kamis (8/4/2021).

Terlepas dari siapa yang memberi nama, kata Nailiya, hal apa yang melatarinya terkait makna yang bisa diambil yaitu, pertama bahwa para penulisnya merupakan sekelompok penulis muda yang berasal dari Kalimantan Selatan.

Kedua, menurut dia, penggunaan kata sekte menjadi semacam clue awal bagi pembaca sebelum menyelami satu per satu isi buku ini, ujarnya, seperti membaca rasi bintang di langit malam.

“Menurut KBBI, sekte berarti kelompok orang yang mempunyai kepercayaan atau pandangan agama yang sama, yang berbeda dari pandangan agama yang lebih lazim diterima oleh para penganut agama tersebut, yaitu mazhab,” papar Nailiya.

BACA : Setahun Kambuk Banjarmasin, Wadah Tongkrongan dan Literasi Berkebudayaan

Dalam buku SBSK, kata Nailiya, menjadi semacam ajang pencarian jati diri, baik para penulisnya sebagai individu maupun sebagai bagian dari kelompok tersebut. Ia menyebut sekaligus upaya pengklaiman mereka (penulis muda Kalimantan Selatan), sebagai kelompok penulis yang berbeda pada umumnya.

Siapa atau kelompok manakah yang hendak mereka bedakan dari kelompok mereka? Apa sebenarnya yang sedang diperjuangkan? Arah mana yang hendak dituju? Apa yang hendak dihasilkan oleh ‘sekte’ tersebut? Ramuan macam apa yang mereka janjikan? Pertanyan-pertanyaan ini kita bawa saja sambil menuju sihir baru di sebuah kota.

Pertanyaan-pertanyaan di atas, Rafii Syihab selaku inisiator SBSK menjawabnya dalam harapan ke depan, bahwa mereka tergabung dalam sekte penulis muda Kalimantan Selatan yang tersebar 13 Kabuaten/Kota. Untuk selanjutnya, ia menyampaikan bahwa bibit para penulis muda yang tergabung maupun yang belum terangkul agar dapat mengembangkan dunia sastra di Banua.

“Harapanku sih, penulis muda Kalimantan Selatan bisa lebih berkembang dalam genre apapun. Laki-laki dan perempuan, baik di kota ataupun di pelosok. Itulah tujuan awal dibangunnya perkumpulan, Sekte. Jangan terpaku pada sastra yang ada di pasar Kalsel ini saja. Kalau mau nulis pop, ayo nulis pop. Kalau mau nulis fiksi ilmiah, ayo nulis fiksi ilmiah,” tegas Rafii.

BACA JUGA : Digarap Sejak 2008, Micky Hidayat Akhirnya Luncurkan Buku Leksikon Penyair Kalimantan Selatan

Rafii menginginkan, para penulis baru tidak dibayang-bayangi dengan penulis yang lebih senior dalam hal apapun, baik pergaulan dan kekaryaannya. Dalam bedah buku SBSK, ia menjelaskan bahwa pembahasan malam kemarin selain tentang isinya yaitu mengapa ada sekte?

“Kenapa sekelompok anak muda ini bikin sesuatu. Hal kayak itulah. Bahasan masalah isi menyangkut hal-hal sosial seperti gender dan sebagainya,” ujarnya.

Dan tentu, kata Rafii, semoga dunua sastra semakin meluas di Banua, “Tidak ada anggapan bahwa sastra hanya untuk golongan tertentu saja. Bahwa menulis adalah untuk semua manusia karena setiap individu punya ceritanya sendiri-sendiri.”

BACA JUGA : 47 Penyair Lintas Tiga Negara, Semarakkan Hari Puisi Internasional

Senada dengan Rafii, Akbar Rizky Sholeh menuturkan bahwa dalam bincang literasi yang berlangsung tadi malam. Selain berbicara mengenai kekaryaan, katanya, yang ada dalam buku mengenai tentang perempuan dalam buku SBSK tersebut.

Dalam diskusi, kata Akbar, ada pertanyaan dari penyair perempuan asal Banjarbaru, Hudan Nur. Menanyakan tentang mengapa perempuan disandingkan seperti anjing dalam cerpen karya Rafii Syihab? Selain itu, katanya, ibu Nailiya menanyakan tentang adanya puisi bernuansa dewasa yang lolos kurasi.

“Terkait cerpen Rafii Syihab, sekelanjutnya akan dibahas di Kindai Seni Kreatif, pada hari Sabtu jam 10 pagi. Sementara, puisi Muhammad Rizani yang memasuki kategori 17+ dan sayangnya, kurator puisi tidak hadir dalam acara,” beber Akbar.

BACA JUGA : Musikalisasi Puisi EBTAM, Mengangkat Karya Sastrawati Nailiya Nikmah

Beberapa kelebihannya, kata Akbar, tentu buku ini digarap dan dikuratori oleh anak muda yang terkumpul dalam Sekte Penulis Muda Kalimantan Selatan.

“Sehingga, memiliki semangat muda yang luar biasa. Akan tetapi, menurut para masukan para senior di antaranya Pak Hajriansyah, yang menyayangkan dalam buku itu terdapat font kecil,” ujar mahasiswa PBSI ULM itu.

Akbar juga mengharapkan, dengan adanya buku ini dapat kembali merumuskan dan mendiskusikan tentang apa itu Sekte Penulis Muda Kalimantan Selatan, “Apa saja acaranya, dan lain semacamnya. Sehingga, Sekte ini tidak hanya berhenti pada pengumpulan karya saja. Dan juga menyampaikan bahwa kegiatan malam tadi, mengenai penulis muda perempuan yang masih sedikit dalam antalogi itu,” pungkasnya.

Dalam kegiatan bedah buku SBSK dihadiri oleh Ali Syamsudin Arsi, YS Agus Suseno, HE Benyamine, Hudan Nur, Hajriansyah, Sumasno Hadi, Ananda Perdana Anwar, Atin Septiana Abdullah, Iberahim dan sebagainya.(jejakrekam)

Penulis Rahm Arza
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.