Cerita Pekerja Seks di Banjarmasin: Sering Tertangkap, Tapi Sulit Berhenti

0

DI tengah pandemi Covid-19, praktik prostitusi di Banjarmasin masih marak. Ini terbukti dari razia Satpol PP Kota Banjarmasin yang menemukan puluhan pekerja seks, pada Jumat (9/4/2021) dinihari.

PANTAUAN jejakrekam.com, banyak dari mereka yang masih berusia belia. Bahkan ada pula yang sudah berkali-kali mengalami aksi kejar-kejaran dengan Satpol PP, hingga bolak-balik keluar masuk Rumah Singgah Banjarmasin. Namun, mereka masih melakukan hal yang sama.

Ambil contoh YL. Perempuan berusia 18 tahun ini kerap mangkal di kawasan Pasar Sudimampir. Atas hal itu, YL juga acapkali digelandang Satpol PP Kota Banjarmasin.

“Saya sudah tiga kali tertangkap,” ucapnya saat berbincang dengan media ini, Jumat (9/4/2021).

BACA JUGA: Sempat Melawan, PSK dan Waria Diamankan Satpol PP Saat Razia Pekat

YL mengaku sudah sekitar 6 tahun malang melintang di dunia prostitusi. Bahkan, warga pinggiran Banjarmasin itu mengaku telah menikah dua kali dan selalu berujung perceraian.

“Mulai SMP kelas 7 ulun sudah di hotel,” ujarnya.

Berkali-kali tertangkap tak jua membuat YL jera. Meski pada dasarnya, menjadi pekerja seks tentu bukan keinginannya. Tetapi, dia mengaku terdesak. Sebab, demi bertahan hidup.

YL juga mengakui sering berjanji kepada petugas untuk berhenti menjadi pelaku prostitusi.

“Tetapi saya butuh uang untuk makan,” tuturnya.

BACA JUGA: ABG Terjaring Razia karena Ngelem, PSK Waria Hanya Bisa Pasrah

Nasib sama dialami perempuan berinisial YT berusia 32 tahun. YT yang juga kerap mangkal di kawasan Pasar Sudimampir. Perempuan asli Banjarmasin tersebut mengakui bahwa dirinya sudah dua kali terjaring Satpol PP.

Kondisi itu juga membuat YT khawatir saat bekerja. Tetapi, sama dengan YL, YT mau tidak mau harus melakukan pekerjaan prostitusi untuk menghidupi keluarga. Terlebih, ia kini memiliki satu anak berusia 2 tahun.

“Ada rasa takut dirazia, cuman keadaan memaksa,” ungkapnya.

Di satu sisi, YT mengakui bahwa di tengah pandemi ini para pekerja seks mengalami pasang surut. Terkhusus untuk dirinya sendiri, YT mengaku pelanggan yang datang kepadanya cukup sepi sekitar hampir satu bulan terakhir.

“Corona ini sepi. Setengah bulanan sudah, tetapi memang ada aja pelanggan setiap kali kerja,” ujarnya.

Tarif yang dipatok YT pun bervariatif. Mulai dari Rp 150 sampai 250 ribu untuk satu kali kencan. “Tergantung mas, sesuai keinginan saya menentukan harga. Biasanya lewat michat di pasar,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis M Syaiful Riki
Editor Donny

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.