Ada 9 Tingkatan Wali Allah dan Gambarkan Struktur Organisasi yang Rapi

0

MENGHORMATI para aulia atau wali dalam tradisi keislaman Banjar sangat kental. Tak mengherankan, jika banyak makam ulama yang berkeramat di Kalimantan Selatan pun dihormati dan diziarahi demi memetik berkah.

BUDAYAWAN Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, Humaidy Ibnu Sami pun mengatakan wali dalam konteks sebagai subjek atau pelaku mengandung makna penolong, pembela, pendukung, teman setia dan yang mencintai.

“Jadi, wali Allah adalah orang yang tak sekadar melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, tetapi senantiasa pula mencari kecintaan dan keridhaan-Nya,” ucap Humaidy Ibnu Sami dalam postingannya di akun facebook dikutip jejakrekam.com, Kamis (1/4/2021).

Menurut dia, dengan kata lain, mereka termasuk golongan yang sangat dekat dengan Allah hanya saja berada di bawah golongan nabi dan rasul. Di antara wali Allah ini mempunyai kedudukan, derajat dan pangkat yang berbeda-beda satu sama lain.

BACA : Riset Tiga Tahun, Humaidy Siap Luncurkan Biografi 150 Ulama Berpengaruh di Tanah Banjar

Ibnu Arabi, filsuf Islam yang terkenal dengan kitabnya berjudul al-Futuhat al-Makiyyah dan Fusus al-Hikam, menyebut ada 9 tingkat posisi wali Allah.

Humaidy juga mengutip pendapat Ibnu Arabi dalam konsep pandangan soal al-walayah. Dalam konsep ini, Ibnu Arabi mengatakan al walayah itu  meliputi hakikat, ciri, keistimewaan, tingkatan wali dan konsep khatam al-awliya.

Bahkan, Ibnu Arabi menggunakan istilah wali untuk semua orang suci, termasuk nabi dan rasul. Kerasulan dan kenabian sebagai pangkat dalam kewalian adalah bersifat temporal, tetapi kewalian itu sendiri bersifat permanen. Khatam al-anbiya mempunyai kedudukan yang sebanding dengan khatam al-awliya. Namun mengenai kedudukan antara nabi dan wali, ini bisa dilihat dari ungkapan Ibnu Arabi.

BACA JUGA : Gelar Al Banjary dan Budaya Lokal dalam Ijtihad Syekh Muhammad Arsyad

Ibnu Arabi menegaskan andaikata kasyaf awliya bertentangan dengan undang- undang nabi, maka yang harus diikuti adalah undang-undang nabi. Seorang wali berhak meniadakan dan mengubah hukum Islam apapun yang berdasarkan ijtihad, tapi bukan terhadap hukum yang diwahyukan kepada nabi”.

Nah, menurut Humaidy, Ibnu Arabi pun menjabarkan 9 tingkatan posisi para wali Allah. Yakni, pertama adalah wali aqthab atau wali quthub dengan jumlah yang terbatas. Tingkatan kedua adalah wali aimmah atau wali imam, terdiri hanya dua orang setiap masa.

Berikutnya, posisi ketiga adalah wali autad dan wali watad terdiri dari empat orang. Peringkat keempat adalah wali abdal atau wali badal, terdiri dari 7 orang.

“Nah, posisi kelima adalah wali nuqaba atau wali naqib, hanya 12 orang. Kemudian, posisi keenam adalah wali nujaba atau wali najib, hanya 8 orang. Lalu, ada pula disebut wali hawariyyun, hanya ada satu orang,” papar dosen UIN Antasari Banjarmasin.

BACA JUGA : Jejak Syekh Muhammad Arsyad di Tanah Betawi

Humaidy mengatakan peringkat kedelapan adalah wali rajbiyyun, jumlahnya mencapai 40 orang, dan terakhir wali khatmiyyun, yang hanya satu orang.

“Selain itu ada lagi, wali berhati Adam As (300 orang), wali berhati Nuh As (40 orang), wali berhati Ibrahim As (70 orang), wali berhati Jibril As (lima orang), wali berhati Mikail As (tiga orang), wali berhati Israfil As (satu orang), wali berhati Isa as, ada beberapa orang. Lalu, wali berhati Daud As, yang dimaksudkan ada beberapa orang,” paparnya.

Masih menurut Humaidy, adalah pula di kalangan wali itu disebut dengan rijalul ghaib, jumlahnya 10 orang, rijal quwwatul ilahiyah  ada 8 orang. Lalu, rijalul hanani wa athfil ilahi, ada lima orang dan rijalul haibah wal jalali (empat orang), rijalul fathi (24 orang), rijalul ma’wal ula  (7 orang), rijal tahtil asfal (4 orang), rijalul imdadil Ilahi wal kauni (3 orang), ilahiyyun rahmaniyyun (3 orang), rijalul istathaillah (1 orang).

BACA JUGA : Mengenal Metode Instinbath yang Digunakan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Berikutnya, kata Humaidy lagi, ada pula disebut rijalul ghina billah (2 orang), rijal ainut tahkim waz zawaid (10 orang), rijalul isytiqaq (5 orang) dan mulamatiyah dengan jumlah tak terbatas. Ada pula yang disebu Al-fuqara yang banyak,  Al-‘Ibad (banyak), Az-Zuhad (tak terbatas), Rijalul Maa i (banyak), Al-Afrad (banyak), Al-Umana (tak terbatas), Al-Qurra (banyak), Al-Ahbab (banyak), Al-Muhaddathun (tak terbatas), Al-Akhilla (banyak), As-Samra (banyak) dan Al-Wiratsah (tak terbatas).

“Ini menggambarkan begitu rapi, disiplin dan terbitnya organisasi kewalian yang menjadi bagian dari cabang keilmuan dalam Islam, khususnya ilmu tawasuf,” pungkas Humaidy.(jejakrekam)

Penulis Rahm Arza
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.