Ibnu-Arifin-Calon

Riset Tiga Tahun, Humaidy Siap Luncurkan Biografi 150 Ulama Berpengaruh di Tanah Banjar

0 240

PENELITI sejarah Islam UIN Antasari Humaidy ‘Ibnu Sami’ tergolong penulis aktif di akun facebooknya. Lewat dinding media sosial itu, Humaidy pun memposting kisah sosok ulama berpengaruh di Tanah Banjar baik era Kesultanan Banjar maupun kekinian.

DARI hasil penelusuran baik melalui studi kepustakaan maupun riset ke lapangan, kini sudah terhimpun ada sekitar 150 biografi lengkap dengan kisah sejarah para ulama, waliyullah atau para datuk yang ada di Kalimantan Selatan.

“Memang, kebanyakan dari biografi 150 ulama se-Kalimantan Selatan itu, berasal dari Martapura (Kabupaten Banjar), Kabupaten Tapin, Amuntai (Kabupaten Hulu Sungai Utara) dan daerah lainnya,” ucap Humaidy kepada jejakrekam.com, saat berbincang di Kampung Buku Banjarmasin, Sabtu (12/9/2020) malam.

Menurut dia, tujuan dari penulisan kisah hidup dan perjuangan para ulama pewaris ajaran Nabi Muhammad SAW di Tanah Banjar agar pandangan terhadap para pendakwah Islam itu tidak seragam.

BACA : Berawal dari Dalam Pagar, Lahir Pondok Pesantren di Tanah Banjar

“Selama ini, kita akui ada pandangan umum yang berkembang di masyarakat Kalsel, ketika melihat sosok KH Muhammad Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul), maka model ulama di Tanah Banjar seperti beliau. Padahal, ulama yang ada di Kalsel ini sangat variatif dan beragam,” tutur magister pendidikan Islam lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Menurut Humaidy, tipologi ulama baik yang masyhur maupun tersembunyi namun keilmuan dan pengaruhnya diakui masyarakat sangat beragam. Ada ulama di Tanah Banjar yang ahli mantiq (logika), tarekat hingga karomahnya yang luar biasa.

BACA JUGA : Datu Kandang Haji, Pengasas Pendidikan Islam Tertua Tanah Banjar

Sumber referensi atau rujukan utama diakui Humaidy mengacu pada babon ulama Tanah Banjar yang ditulis Guru Irsyad Zien (Abu Daudi) serta testimoni dari para ulama atau murid yang pernah berguru ke tokoh ulama tersebut.

“Seperti ketika menggali informasi soal biografi atau manakib dalam tradisi masyarkat Banjar, tokoh ulama Banjarbaru KH Abul Hasan (Guru Abul) didapat dari para muridnya. Selama ini, Guru Abul dikenal dengan dakwahnya yang menentang aliran keagamaan yang condong salafi,” tuturnya.

Ternyata untuk mengumpulkan semua biografi para ulama di Kalsel ini, Humaidy mengaku butuh waktu selama tiga tahun agar bisa dibukukan. Peneliti senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin ini mengakui dalam risetnya juga merangkum semua metodologi penelitian. “Rencananya, dalam setiap buku itu akan ditulis sekitar 40 biografi ulama yang ada di Kalsel. Apalagi, pihak lembaga Kesultanan Banjar juga meminta agar bisa segera dibukukan,” tutur Humaidy.

BACA JUGA : Diperkenalkan Imigran Yaman, Batapih Menjadi Simbol Islamisasi Masyarakat Banjar

Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari ini mengakui ciri-ciri khas kewalian di Tanah Banjar lebih menonjol pada sisi supranatural.

Humaidy mencontohkan seperti di zaman Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary (Datuk Kalampayan) dengan tongkatnya bisa membikin terusan yang kini dikenal dengan sebutan Sungai Tuan.

“Ada pula, kisah Habib Basirih yang memakai ikat kepala dengan menaruh biji kemiri memberi pesan kepada umat akan kedatangan serdadu Jepang di Banjarmasin. Atau, Syekh Jamaluddin (Surgi Mufti) untuk melihat hilal awal berpuasa dan berlebaran dengan membuka jubahnya. Karomah ini memang tidak bisa dipisahkan karena amalan dan kebersihan hati para ulama dalam mensyiarkan ajaran Islam,” kata Humaidy.

Secara garis besar, Humaidy mengakui kebanyakan ulama-ulama besar yang ada di Tanah Banjar telah digembleng dari Ponpes Dalam Pagar, Darussalam Martapura, Bangil, Tunggul Irang dan terakhir, kini Sekumpul Martapura.

Namun, menariknya dari semua riset yang dilakoni Humaidy ini, ternyata terkesan dengan sistem kaderisasi yang dilakukan keluarga besar ulama Tunggul Irang Martapura, KH Badaruddin (Guru Ibad), KH Husien Qadri, KH Ahmad Zaini, KH Abdurrahman yang justru proses pengkaderan dari keluarga.

BACA JUGA : Guru Ibad, Ulama Kesohor Martapura yang Merengkuh Jalan Politik

“Cukup belajar dari sang abah (ayah) KH Ahmad Zaini dan kakek (KH Abdurrahman), lahir ulama besar yang menjadi panutan warga Kalsel. Walau pun, misalkan, Guru Ibad menempuh jalan politik, namun dunia dakwah tetap tak ditinggalkan beliau,” urai Humaidy.

Dari sini, Humaidy berkesimpulan justru ulama-ulama besar yang lahir di Tanah Banjar itu buah dari pendidikan keluarga, bukan hanya dari lembaga pendidikan.

“Nilai-nilai ketaatan dan kesalehan dari keluarga ini merupakan model pendidikan terbaik dari para ulama besar yang ada di Tanah Banjar. Walau pun, misalkan ada pula memilih jalan berkhadam atau mengabdi kepada guru yang dipercaya seorang wali, juga melahirkan muridnya menjadi wali. Namun, sekali lagi, dalam istilah silat Banjar itu banyak ilmu paten atau panikaman justru keluar dari berkhadam, bukan mengaji di majelis,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor DidI G Sanusi
-  I K L A N  -

- I K L A N -

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.