Panglima Wangkang dan Taktik ‘Menyerah’ dalam Perang Banjar (1)

0

Oleh : Iberahim

SEBAGAI ibukota Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo, Banjarmasin menjadi salah satu target utama penyerangan oleh para pejuang dalam Perang Banjar.

DI ANTARANYA serangan yang dilakukan oleh pejuang Alalak yaitu Gusti Aminin bersama Datu Kayyan dan Datu Kapitan di Muara Schans van Tuyl (Muara Mantuil).

Disusul serangan oleh Kiai Mangoen Karsa juga masih di Schans van Tuyl dan Fort Tatas di Banjarmasin, namun gagal. Lalu gempuran Panglima Wangkang di Kween yang semula kedatangan untuk menanyakan surat pengampunannya dari Gubernur Jenderal di Batavia yang tak kunjung datang. Mungkin masih banyak lagi serangan yang dilakukan oleh para pejuang tapi tak tercatat dalam sejarah.

Mengenai Panglima Wangkang ini, Helius Sjamsuddin dalam bukunya Pagustian dan Tumenggung, Akar Sosial, Politik, Etnis dan Dinasti,. Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906 menceritakan bagaimana kabar angin sering beredar pasca berbagai peristiwa pertempuran di Hulu Barito dan Hulu Sungai.

Pertempuran yang sebagian besar diikuti oleh Panglima Wangkang yang bergelar Kiai Mas Demang. Ia diangkat oleh Surapati sebagai pemimpin dari sebuah laskar yang terdiri atas 50 orang. Laskar-laskar Panglima Wangkang seluruhnya terdiri atas orang-orang yang berasal dari Talu Nyaring.

BACA : Menghadirkan Panglima Wangkang

Panglima Wangkang diduga membunuh Dokter Dilg di atas kapal Onrust. Tampaknya, Panglima Wangkang mempunyai dendam pribadi terhadap Belanda karena Belanda telah menggantung ayahnya Pembakal Kendet pada tahun 1825. Atas nama Alquran, Wangkang telah bersumpah untuk membalas dendam atas kematian ayahnya kapan saja dan di mana saja ia mempunyai kesempatan.

Taktik Menyerah Panglima Wangkang

Untuk pertama kali pada September 1864, pejabat-pejabat Belanda di Banjarmasin menerima berita-berita dari K.W. Tiedtke. Asisten Residen di Muara Montallat mengungkapkan bahwa beberapa pemimpin perlawanan dari daerah-daerah Lahei dan Teweh bermaksud untuk menyerah.

Di antara mereka ialah Wangkang dan Haji Taib (orang yang menyaksikan pembunuhan dan penenggelaman kapal Onrust). Pada kesempatan ini Wangkang bertemu dengan Tiedtke di atas kapal api Boni.

Lokasi pertahanan Pembakal Kendet yang kemudian menjadi pertahanan Panglima Wangkang dan pasukannya setelah pertempuran Sungai Miai. Koleksi De Haan ANRI

Setelah pertemuan itu, Wangkang dengan ditemani oleh Temenggung Mangkusari pergi ke hulu sungai pada 2 September 1844. Wangkang dan Mangkusari berjanji pada Tiedtke bahwa dalam waktu sepuluh hari mereka dapat membawa Panembahan Muhamad Said dan Sultan Muhamad Seman dan pemimpin-pemimpin lainnya untuk menyerah di Muara Montallat.

BACA JUGA : Suku Bakumpai, Penyambung Kesultanan Banjar dengan Masyarakat Dayak

Pada Maret 1870, pejabat Belanda di Muara Teweh mengetahui  Panembahan Muhamad Said dan Sultan Muhamad Seman berada di Gunung Bundang bersama dengan Temenggung Surapati. Sementara itu, ada lagi berita angin bahwa Wangkang akan menyerah.

Pada 28 April 1870, van Ham menggantikan rencana Tiedtke, yang pada waktu itu telah menjadi Residen dari Keresidenan Kalimantan Selatan dan Timur meninggalkan Marabahan menuju Muara Teweh dalam kapal api Cinrana.

Sebelum berangkat, ia telah memerintahkan Temenggung Mangkusari yang ketika itu menjadi kepala distrik Dusun Hulu untuk menjemput Wangkang yang sedang bersembunyi di Sungai Laung supaya menemuinya di MuaraTeweh. Kapal Cinrana tiba di Muara Teweh pada 4 Mei.

Van Ham segera mengirim Mangkusari ke Murung. Dari mata-mata Mangkusari, van Ham mengetahui bahwa Surapati berada di Sungai Laung. Ia sedang mengumpulkan 1000 orang prajurit dengan sebuah rencana untuk menyerang benteng Muara Teweh. Van Ham menduga-duga bahwa ini merupakan bagian dari rencana Surapati untuk mencegah Wangkang dan putra-putra Antasari menyerah.  

BACA JUGA : 24 Ramadhan 1275 H dan Meletusnya Perang Banjar

Seperti halnya pada September 1864, ketika ia telah menghancurkan benteng Kiai Rangga Niti Negara di Muara Teweh. Oleh sebab itu, van Ham mengirimkan Mangkusari lebih jauh ke hulu sungai untuk menghadapi kemungkinan serangan ini.

Akhirnya pada malam tanggal 11 Mei, Wangkang datang dengan 100 orang pengikutnya lengkap bersenjata. Ia ditemani oleh Mangkusari. Kemudian Mangkusari mengatur pertemuan antara Wangkang dengan van Ham pada 12 Mei.

Pos keamanan Belanda yang terapung di Sungai Barito. Koleksi : Josias Cornelis Rappard

Pertemuan itu dihadiri Haji Kiai Demang Wangsa Negara, kepala distrik Marabahan yang juga adalah menantu Wangkang, serta beberapa kepala daerah yang lebih rendah. Pada umumnya mereka membicarakan situasi politik di Dusun Hulu dan para pemimpin yang belum menyerah seperti putra-putra Antasari.

Ketika ditanya oleh van Ham, Wangkang memberi alasan-alasan mengapa ia telah memihak Surapati dan oleh karena itu menunda penyerahan dirinya. Wangkang takut kepada Surapati yang mempunyai “pengaruh yang besar dan kekuasaan yang mutlak” terhadap setiap orang di Dusun Hulu.

BACA JUGA : Benteng Oranje Nassau, Simbol Supremasi Belanda Pemicu Perang Banjar

Kini, setelah sanggup melepaskan diri dari Surapati, ia ingin menyerah dan mengajukan permohonan pengampunan kepada pemerintah. Hanya saja, karena van Ham tak mempunyai wewenang untuk memberikan pengampunan kepadanya, ia meminta Wangkang pergi bersama-sama ke Banjarmasin.

Mula-mula Wangkang menolak. barangkali karena ia takut diasingkan. Wangkang akhirnya setuju dengan syarat menantunya. Haji Kiai Demang Wangsa Negara, dan Temenggung Mangkusari akan ikut bersamanya.

Tampaknya van Ham tidak keberatan. Dalam laporannva kepada Residen setelah pertemuan itu, van Ham merekomendasikan pengampunan bagi Wangkang. Ia malah menambahkan bahwa ia mempunyai harapan besar bahwa kapitulasi Wangkang akan segera diikuti oleh putra-putra Antasari.

Antara bulan Mei dan November 1870. Wangkang mengunjungi Banjarmasin. Ia bermaksud menanyakan pengampunannya dari Gubernemen. Pertama kali, pada 23 Mei, Wangkang ditemani Van Ham, Haji Kiai Demang Wangsa Negara, dan Mangkusari.

Pada kesempatan ini, Residen Tiedtke menanyakan mengenai peranan Wangkang sebagai salah seorang pemimpin pemberontak antara tahun 1861 sampai 1870.

BACA JUGA : Intan Sultan Adam, Rampasan Perang Banjar yang Kini Dikoleksi Museum Belanda

Setelah interogasi itu, Tiedtke memutuskan untuk membiarkan Wangkang tinggal di Marabahan sambil menunggu pemberian ampunan dari Gubernemen. Keputusan Tiedtke ini menyulitkan dirinya sendiri.

Kelak tindakan itu dianggap oleh pengkritiknya sebagai “suatu kesalahan politik.” Marabahan adalah tempat kelahiran Wangkang dan ia tinggal di tengah-tengah kaum kerabatnya, temantemannya, dan pengikut-pengikutnya.

Selama kira-kira enam bulan menunggu pengampunannya, Wangkang berhasil menghimpun pengikut-pengikut untuk menimbulkan kegelisahan. Penyerahannya hanya merupakan satu cara untuk mengulur-ulur waktu sambal menggerakkan pemberontakan lain. Inilah yang persis dikritik oleh bawahan, rekan, dan atasan Tiedtke kepadanya ketika kemudian kesulitan benar-benar mulai muncul.

Pada gilirannya, Tiedtke mencoba membela posisinya dengan mengatakan bahwa ia mengikuti alur tindakan itu untuk kepentingan “hukum dan ketertiban” di Bakumpai dan di daerah tanah Dusun. Lebih lebih lagi, Wangkang telah ditempatkan segera di bawah pengawasan van Ham.

BACA JUGA : Tenggelamnya Onrut, Kapal Modern dari Feyenoord dalam Perang Banjar (1)

Berdasar atas interogasi terhadap Wangkang, pada tanggal 1 Juni. Tiedtke mengirimkan suratnya kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Tiedtke benar-benar percaya bahwa Wangkang “tidak bersalah. Yang harus disalahkan adalah Surapati. Setiap orang di Dusun Hulu takut kepada Surapati.

Pertemuan Panglima Wangkang sewaktu dipanggil oleh Residen di Banjarmasin
Koleksi : O. M. De Munnick

Sejak tahun 1864, setiap kali Wangkang bermaksud untuk menyerah bersama-sama dengan putra-putra Antasari, Surapati selalu mencegah mereka. Penyerahan Wangkang akan menguntungkan bagi “perdamaian dan ketertiban” di Dusun Hulu, teristimewa jika teladannya itu diikuti oleh putra-putra Antasari. Penyerahan mereka akan menyudutkan keluarga Surapati, yang menurut bawahannya, van Ham, pengaruh mereka sedang menurun. Oleh sebab itu, Tiedtke meminta kepada pemerintah untuk memberikan segera pengampunan yang diharapkan Wangkang.

BACA JUGA : Tokoh Sentral Perang Banjar, Pangeran Hidayat dan Tipu Muslihat Belanda

Enam bulan antara bulan Juni dan September, ditandai dengan kegelisahan di kalangan rakyat Bakumpai di Marabahan dan sekitamya. Kejahatan dan perompakan di sungai menjadi semakin menyeruak. Sebenarnya bagi Belanda. orang-orang Bakumpai yang berpusat di Marabahan sudah sejak lama dikenal sebagai tukang membuat keonaran. Kini, sejak Wangkang telah berada di antara mereka, beberapa pejabat Belanda beranggapan bahwa Wangkang merupakan penyebab sebenarnya, terutama ketika ada berita angin bahwa permohonan pengampunannya akan kedaluwarsa.

Pada awal bulan Juli, desas-desus tersebar di Banjarmasin bahwa tanggal 5 Juli “gerombolan-gerombolan musuh” akan datang untuk membunuh orang-orang Eropa dan membakar tempat tinggal mereka di Banjarmasin.

BACA JUGA : Politik Belah Bambu Snouck dalam Perang Banjar

Tentu saja berita angin ini membuat mereka panic, sehingga Residen harus pergi sendiri ke Marabahan untuk memeriksanya. Residen teryata menemukan bahwa berita angin itu memang berasal dari Marabahan dan tersebar ke Banjarmasin.

Berita angin itu dibawa oleh seorang yang bemama Mahmud untuk menakut-nakuti dan membuat gelisah penduduk Banjarmasin. Tujuan berita angin ini ialah “untuk membujuk Wangkang alias Kiai Mas Demang kembali ke Dusun Hulu.” Setelah diketahui bahwa ia telah membuat kepanikan, Mahmud lari dan bersembunyi di Sungai Alalak. Besar kemungkinan Mahmud bekerja atas perintah Surapati dan putra-putra Antasari.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Pemerhati Sejarah Banjar

Ketua Lembaga Adat Kerajaan Pulau Laut Korwil Banjarmasin

Sekretaris Syarikat Adat, Sejarah dan Budaya (SARABA) Hulu Sungai

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.