Tenggelamnya Onrut, Kapal Modern dari Feyenoord dalam Perang Banjar (1)

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

0

KAPAL Onrust atau Stoomschip Onrust adalah kapal Belanda yang tenggelam pada Perang Banjar, 26 Desember 1859 di Sungai Barito, Kabupaten Barito Utara, sekarang wilayah Kalimantan Tengah.

KAPAL ini 160 tahun lalu, ditenggelamkan oleh laskar pejuang Tumenggung Surapati, pengikut Pangeran Antasari di wilayah Lalutung Tuor atau Lontontour/Lalutung Tour, Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.

Bagaimana sejarah pembuatan Kapal Onrust? Kapal Onrust mulai dirancang dan dikerjakan tahun 1845, kemudian mulai dinamakan dengan ‘Onrust’. Pada sumber lain dituliskan Nama ‘Onrust’ sendiri diambil dari bahasa Belanda yang berarti ‘Tidak Pernah Beristirahat’ atau dalam bahasa Inggrisnya adalah ‘Unrest’.

Ada sumber lain yang mengatakan bahwa nama Onrust tersebut diambil dari nama penghuni pulau Onrust di Teluk batavia (Jakarta), yang masih keturunan bangsawan Belanda, yaitu Baas Onrust Cornelis van der Walck. Pada Abad ke-17, VOC berniat untuk membangun sebuah galangan kapal di teluk tersebut. Niat tersebut diizinkan oleh Pangeran Banten dengan menggunakan Pulau Onrust. Pembangunan dimulai tahun 1613.

BACA :  ‘Menggugat’ Kiprah Pangeran Antasari Di Kecamuk Perang Banjar

Mukeri Inas (2009) menuliskan Kapal Onrust adalah kapal uap Belanda dibuat mulai tanggal 15 september 1845 di pabrik Kota Feyenoord untuk Marinir angkatan Laut Belanda. Nama kapal Onrust diambil dari nama Pulau di teluk Pelabuhan Jakarta yang juga bernama Onrust, sebagai tempat tahanan atau narapidana Pemerintah Belanda pada waktu itu.

Kapal uap tersebut sudah dilengkapi radar dari besi. Kapal termasuk klasifikasi kelas 4, panjang sekitar 24 meter lebar 4 meter dengan lunas kapal di dalam air 1,15 meter. Daya mesin uap 70 tenaga kuda. Mesin kapal mampu melakukan 33 kali putaran permenit (rpm) dengan tenaga tekanan uap 8 pound. Kecepatan kapal 81/4 knots.

Kapal dapat berlayar  ±  selama 4 hari dalam radius aktif kira-kira 1500 Km dengan persedian 30.000 pound batubara.Selanjutnya armada ini merupakan kapal perang modern dengan persenjataan meriam dan 6 senapan mesin putar (gutling gun Amerika). Jumlah personilnya 93 orang, korban 93 orang.

BACA JUGA : Bubuhan Haji Dalam Perang Banjar Abad Ke-19

Kapal tersebut cukup 40 orang awak kapal. Kapal juga dilengkapi dengan persenjataan meriam pelempar peluru seberat 24 pound dan 6 senapan mesin yang berputar (gutling gun Amerika). Tahun 1846-1847 kapal Onrust di bawa ke Indonesia (Indie), dengan ditumpangkan kapal dagang bernama Bato dan tiba di Surabaya pada akhir tahun 1848.

Kapal Onrust di resmikan masuk dalam dinas angkatan laut mulai tanggal 1 Januari 1848. Reparasi kapal di lakukan pada tahun 1851 di Surabaya. Pada tanggal 3 April tahun 1851 kapal ini mulai bisa dioperasionalkan di dekat Soerabaja (Surabaya), tepatnya di wilayah Kuyperrif.

Setelah semua peralaan, suku cadang mesin, jangkar, boiler, meriam 24-pon. Ternyata pada pelayaran pertamanya tidak sukses setelah kapal membentur batu/kandas. Kapal ‘Onrust’ kemudian ditarik kapal uap Zr.Ms. Etna ke dok di Surabaya.

BACA JUGA : Tokoh Sentral Perang Banjar, Pangeran Hidayat Dan Tipu Muslihat Belanda

Kapal ‘Onrust’ rencananya akan dioperasikan kembali pada bulan September 1853.  Setelah mengalami kerusakan, pada tahun 1857 mulai ioperasikan setelah direparasi di Surabaya.

Selain kapal Onrust atau Zr.Ms. Onrust (Zijner Majesteits/His Majesty’s Onrust atau Kapal Yang Mulia Raja Belanda Onrust), terdapat beberapa kapal lain yang memiliki teknologi sama dan terbilang moderen di jamannya yakni Zr.Ms. Celebes, Zr.Ms. Admiral van Kinsbergen, Zr.Ms. Suriname, Zr.Ms. Borneo serta beberapa kapal lainnya.

Kapal Onrust diperkirakan pertama kali dipakai pemerintah Hindia Belanda dalam ekspedisi di Montrado (Mandor, Kalimantan Barat). Ekspedisi ini adalah ekspedisi hukuman (1854-1855) dari Angkatan Darat Hindia Kerajaan Belanda melawan pemberontak warga Cina di Montrado (Kalimantan Barat).

BACA LAGI : Politik Belah Bambu Snouck Dalam Perang Banjar

Keadaan setelah ekspedisi sebelumnya ke Afdeeling Kalimantan Barat belum memuaskan. Oleh karena itu, pada bulan Mei 1854, ekspedisi lain dikirim ke Afdeeling Kalimantan Barat (dengan kekuatan 2.200 orang) yang dipimpin oleh Augustus Johannes Andresen, yang akan maju melawan pemberontak di Montrado. Pasukan Hindia Belanda diperkuat Kapal uap Borneo dan Onrust, brig Banda dan sekunar Haai dan Doris yang membawa 1.700 orang serta artileri yang diperlukan ke darat ke Sambas dan Pontianak. Serangan dilakukan dari tiga arah berbeda, setelah terlebih dahulu menguasai Singkawang.

Kemudian Kapal Onrust juga dipakai dalam ekspedisi bombardir kraton Sultan Taha di Jambi oleh kapal angkatan laut Hindia Belanda tahun 1858. Kapal Onrust bersama kapal Celebes, kapal Laksamana Kinsbergen melakukan bombardir pada 8 September 1858. dalam lukisan berjudul De Strijd te Djambi (Pertemburan Jambi), terdapat Tiga kapal perang Belanda di Sungai Jambi menembaki rumah-rumah dan pondok-pondok di sepanjang sungai.

Dari lukisan yang dibuat pelukis yang tidak dikenal tahun 1865 dan ini juga menunjukkan penembakan kraton (istana) sultan Ratoe Taha Tsafioe’ddin di ibukota Djambi di pulau Sumatra Hindia Belanda pada 5 September 1858 oleh kapal uap Zr.Ms . Celebes (1852-1872), Zr.Ms. Onrust (1863-1892) dan Zr.Ms. Admiral van Kinsbergen (1852-1877).

BACA JUGA : Sejuta Memori Dari Perangko Pertama Di Banjarmasin

Di bawah komando kapal perang “Celebes”, kapal “Admiraal van Kinsbergen” dan “Onrust”, pasukan Belanda berhasil bergerak maju di sepanjang sisi kanan sungai utama ke ibu kota Djambi. Setelah pertempuran tiga jam, semua bala bantuan  Jambi kalah.

Namun, Keraton Sultan tetap dipertahankan dengan matia matian, akhirnya jatuh ke tangan Belanda keesokan paginya pada pukul sepuluh. Pertempuran ini dipimpin W.J. Cohan Stuart. Setahun setelah ekspedisi ke Djambi, kapal ini dikirim ke wilayah Afdeeling Borneo (Kalimantan) Selatan dan Timur. Kemudian dipergunakan dalam ekspedisi ke Boni (Bone) di Sulawesi.

Akhir dari keberadaan Kapal Onrust dan Armada Militer Laut Hindia Belanda ketikap pada tanggal 27 Desember 1859 Di bawah komando letnan kelas satu J.C.H. van der Velde, kapal onrust berangkat ke Kalimantan. Jaraknya sekitar 450 km ke pedalaman dekat Lontontoeor, diserbu oleh pejuang dalam Perang Banjar dan tenggelam di Sungai Barito.

Terdapat beberapa lukisan sebagai ilustrasi yang menggambarkan keberadaan Kapal Onrust yakni lukisan berjudul De Onrust bij Lontontoeor (Sketsa Kapal Onrust sedang berlayar di kampung Lalotung Tuwur) yang dibuat J.P. de Veer tahun 1900.

BACA LAGI : Semangat Heroik Antasari Kobarkan Perang Banjar

Lukisan ini bersumber dari G. Kepper, Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger. Kemudian lukisan berjudul Het aflopen van de Onrust (litografi Kapal Onrust sedang berlayar di kampung Lalotung Tuwur) tahun 1865 yang dibuat W.A. van Rees dalm bukunya De Bandjermasinse Krijg.

Mengenai sumber foto tentang kapal Onrust berjudul Zr.Ms. stoomschip Onrust yang dirilis beberapa media online di Banjarmasin yang menuliskan bahwa foto tersebut adalah “Kapal Onrust ketika bersandar di Pelabuhan Telawang Banjarmasin, Kalsel sekitar tahun 1859 atau sebelum ditenggelamkan pada 26 Desember 1859 di pedalaman Sungai Barito” bersumber dari Scheepvaart Museum Amsterdam, masih meragukan.

Pada sumber lain foto Zr.Ms. stoomschip Onrust tersebut diambil dari Majalah Eigen Haard, berangka tahun 1877. Sebagai pembanding terdapat foto yang sama tetapi keterangan foronya lain yakni bertitel Zr.Ms. stoomschip Onrust, koleksi Nederlands Instituut voor Militaire Historie scheepsnaam berangka tahun 1863. Apakah Kapal itu adalah kapal Onrust yang tenggelam tahun 1859? masih diragukan karena caption fotonya juga meragukan.

BACA JUGA : Film Perang Banjar Tegaskan Hidayatullah Tak Menyerah

Tertulis tahun 1863, dimana pada saat itu Kapal Onrust sudah tenggelam lima tahun sebelumnya. Atau berangka tahun 1877 dimana Onrust sudah tenggelam 8 tahun sebelumnya. Apakah angka tahun tersebut berarti tahun publikasi, masih perlu penelitian mendalam.

Pada tahun 2019, 160 tahun kemudian, bangkai Kapal Onrust milik Pemerintah Hindia Belanda yang tenggelam dalam Perang Barito, 26 Desember 1859 silam,  akhirnya terlihat pada saat Sungai Barito surut. Tentunya hal ini menggembirakan karena akan memperkuat serta menanamkan nilai-nilai perjuangan di wilayah pedalaman Kalteng dan nilai kesatuan dan persatuan antar etnis yang terbentuk sejak lama.

Tentunya perlu peran aktif dari pemerintah serta instansi terkait untuk mengangkat bangkai kapal ini sehingga dijadikan objek wisata atau monumen cagar budaya pada wilayah setempat.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.