Suara Masa Silam dari Puncak Meratus

0

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

PENOLAKAN penambangan di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan menjadi viral di media sosial sejak tahun 2020 lalu. Bahkan muncul tagar #savemeratus pun muncul sebagai bagian dukungan moral terhadap upaya penyelematan Pegunungan Meratus dari ancaman pertambangan emas hitam (batubara).

DARI catatan WALHI Kalsel hingga tahun 2018 setidaknya 814 lubang tambang milik 157 perusahaan tambang batubara. Aktivitas penambangan pada area pegunungan ini ditengarai juga berkontribusi pada terjadinya bencana banjir besar yang melanda hampir 11 Kabupaten di Kalimantan Selatan awal tahun 2021.

Meratus merupakan kawasan pegunungan yang secara geografis di tenggara Pulau Kalimantan. Membentang sepanjang ± 600 km² dari Provinsi Kalimantan Selatan arah barat daya-timur laut hingga membelok ke arah utara hingga perbatasan provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Titik tertinggi di rangkaian Pegunungan Meratus adalah Gunung Halau-halau yang memiliki ketinggian 1.901 meter dari permukaan laut.

Dibalik ketinggiannya, Pegunungan Meratus memang menyimpan banyak misteri. Terutama berhubungan dengan catatan sejarah pegunungan dengan area terluas di Kalimantan Selatan ini. Sejak seabad lalu, sejak orang Eropa (Belanda) menjelajah pedalaman Borneo, misteri dan catatan sejarah lama menjadi tabir tidak terungkap.

BACA : MA Tolak Permohonan PK PT MCM, Izin Operasi Produksi Tambang di Meratus HST Batal

Mengapa rangkaian pegunungan ini bernama meratus? Peristiwa apa saja yang pernah terjadi di Meratus? dan sederet pertanyaan lain yang mengharapkan jawaban. Penelitian ilmiah juga seakan akan menemui jalan buntu ketika sumber sumber sejarah dari catatan kolonial begitu minim. Bahkan penjelajah kawakan Anton W. Nieuwenhuis yang mengadakan ekspedisi pedalaman borneo tidak pernah bercerita tentang apapun di pegunungan ini.

Dalam tulisan klasiknya, In Centraal Borneo : reis van Pontianak naar Samarinda 1898 en 1899 (Di pedalaman Borneo: perjalanan dari Pontianak ke Samarinda 1898-1899), bahkan tidak menyebut nyebut nama Meratus dalam laporannya. Suatu keanehan.

Dalam artikel www.historia.id dituliskan bahwa A.W. Nieuwenhuis warga Belanda seorang dokter yang juga sebagai ahli etnografi dan antropologi. Didukung Maatschappij ter Bevondering Van Het Natuurkundig Onderzoek der Nederlandsche Kolonien (Perhimpunan untuk memajukan penelitian di daerah-daerah koloni Belanda) membentuk tiga tim yang terdiri dari para ahli ilmu pemetaan, penggalian suber alam, penelitian tentang penduduk pedalaman, serta flora dan fauna.

BACA JUGA : Seandainya Lockdown Total, Orang Dayak Meratus Paling Siap Bertahan

Tim ini melakukan perjalanan dari Kalimantan Barat menyusuri Sungai Kapuas hingga ke hulu Sungai Mahakam dan berakhir sampai ke Samarinda, Kalimantan Timur. Ekpedisi ini tidak memberikan penjelasan apa pun tentang Gunung Meratus. Akhirnya, catatan tentang meratus hanya berisi penggambaran dengan data minim, bercampur mistis dan reka-reka yang tidak pasti.

Wajar kemudian selimut misteri gunung meratus seakan tak terbuka. Hanya puzzle yang siap dirangkai dari beberapa kepingan kepingan sejarah tertinggal. Bagaikan meraba dalam gelap hingga akhirnya beberapa sumber kolonial sedikit membuka tabir. Terutama menjawab pertanyaan,mengapa pegunungan ini bernama Meratus.

Sumber Hindia Belanda tertua Reizen en onderzoekingen in den Indischen archipel, yang ditulis Salomon Muller (1857), memaparkan nama Gunung Meratus sebenarnya bernama Goenong Ratoes Meratoes, yang artinya seratus gunung (puncak), dalam rangkaian pegunungan ini. Hampir setiap puncaknya memiliki namanya sendiri. Tidak jauh berbeda publikasi Nederlands Historisch Genootschap (1864), Goenong Meratoes biasa disebut juga hundred mountains (Gunung Seratus).

BACA JUGA : Terlarang di Era Belanda, Kini Pegunungan Meratus Terkepung Tambang

Demikian halnya dalam laporan yang dilansir C.A.L.M. Schwaner (1853) bertitel Historische, geografische en statistieke aanteekeningen betreffende Tanah Boemboe. Menuliskan bahwa di wilayah Borneo bagian tenggara terdapat pegunungan yang memiliki banyak puncak, yang secara keseluruhan rangkaian pegunungan ini bernama Goenoeng Ratoes atau Meratoes. Mengenai nama meratus ini juga disinggung H. Kern (1956) ketika membuat artikel tentang koreksi Naskah Salasilah Kutai, berpendapat nama ratoes, dibiasanya dibaca meratoes atau beratoes ratoes.

Mengenai letak Pegunungan Meratus, sumber sumber kolonial  yang terbit kemudian seperti Aardrijkskundig en statistisch woordenboek van Nederlandsch Indie (1869) menuliskan Meratoes atau Beratoes, adalah pegunungan di bagian Borneo bagian Selatan dan Timur, di perbatasan Bandjermasin dan Tanah Laut.

BACA JUGA : Problematika Eksistensi Pegunungan Meratus

Meratoes berarti ratusan gunung menjulang seperti benteng yang tidak terhitung jumlahnya. Pegunungan Meratoes memiliki rangkaian puncak diantaranya Koesan/Koekoesan dan Bobaris (Babaris), lebih jauh ke utara di sepanjang pegunungan ini mmeiliki jalur sempit, yang melebar hingga wilayah Barabai, Amoentai dan Tandjoeng, Barito Atas hingga Djoeloi. Demikian dituliskan Schopuys, dalam Het Stroomgebeid van de Barito tahun 1936. Selain itu, Surat Kabar De Volkskrant, edisi 8 Juli 1937, juga pernah menuliskan bahwa bencana banjir di Martapura berasal dari Sungai Riam Kanan yang mengalir dari Goenoeng Koekoesan, bagian dari pegunungan Meratoes.

Cerita lisan juga hadir dalam penelusuran cerita rakyat yang dilansir www.bongkar.co.id dan www.ceritadayak.com maupun dayaktalino.blogspot.com. Menuliskan kisah tentang Gunung Meratus juga diungkapkan oleh penduduk dari Suku Bukit di Kalimantan Selatan Bernama Amung Tahe. Pria yang telah tinggal turun-menurun di Dusun Rangit, kaki pegunungan Meratus menceritakan pengalaman hidupnya, bertualang menjelajahi Meratus. Dusun Rangit sendiri adalah sebuah dusun yang bisa diakses dari pedalaman Kabupaten Paser. Walaupun bercampur mistis, setidaknya memberikan penggambaran.

BACA JUGA : Perjuangan Datu Hamawang Melawan Penjajah Belanda

Bagi masarakat Suku Bukit sendiri, mereka tak mengerti tentang dusun tempat tinggalnya apakah termasuk di daerah Kalsel, Kaltim atau pula Kalteng. Bagi mereka hal itu bukanlah persoalan. Yang jelas mereka bisa saja ada di mana-mana. Bagi mereka, hutan adalah rumah dan kehidupan mereka. Secara umum, masyarakat suku Bukit berdiam di belantara seputar kedua sisi Pegunungan Meratus.

Dikatakan Amung Tahe, gunung di sana memang berjumlah seratus gunung. Namun yang dapat dihitung gunungnya hanya ada sembilan puluh sembilan buah. Lalu yang satu gunung itu merupakan induk dan puncak tertinggi yang jarang dapat dilihat secara kasat mata. Dari kaki gunung menuju ke puncak itu bertingkat tujuh belas naik dan tujuh belas turun. Menurut penuturan Amung Tahe, di puncak tertinggi itu adalah merupakan kediaman Maharaja Meratus yang tak bisa dilihat atau gaib. Terkecuali jika dikehendaki oleh sang Maharaja.

Kerajaan gaib di Gunung Meratus ini tidak hanya sendiri, tetapi ada lagi kerajaan-kerajaan kecil diseputarnya, yang juga disebut kerajaan orang-orang gaib (bunian). Pada kawasan pegunungan ini sangat kaya dengan hasil hutan dan alam. Pernah ada seseorang, ketika berjalan di anak sungai yang terdapat di sana menemukan batu berlian dan bongkahan-bongkahan emas pada dinding kerang batu di pinggiran sungai.

BACA JUGA : Tuah Meratus, Satu Kesatuan Nilai dan Keseimbangan Cinta

Orang-orang gaib dari pegunungan Meratus sering turun ke berbagai kota, baik di Kalsel, Kalteng maupun Kaltim. Kebanyakan mereka menyaru seperti orang-orang suku Bukit berdagang kayu gaharu yang berkwalitas tinggi serta membawa bongkahan-bongkahan batu kecubung dan yakut yang masih mentah. Barang barang ini mereka jual atau barter dengan tembakau, garam, minyak wangi-wangian, bahkan butir-butiran manik dan mutiara.

Kesimpulannya, berdasarkan perbandingan antara sumber sumber kolonial dengan kisah dari sumber lokal Amung Tahe, Meratus memang identik dengan jumlah seratus, karena memiliki banyak puncak. Walaupun jumlah puncaknya belum bisa dipastikan apakah memang berjumlah seratus, tetapi asal mula nama Meratus ini menjadi suatu perlambang (simbolis) yang menggambarkan betapa luasnya rangkaian pegunungan. (jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.