Ilmuwan Sejati

0 297

Oleh : Almin Hatta

KETIKA remaja dan masih duduk di bangku SLTA puluhan tahun silam, aku pernah tinggal di rumah seorang dokter selama sekitar enam bulan. Dokter yang beranak lima itu sebenarnya bukan sanak bukan saudara.

AKU bisa numpang tidur dan makan secara cuma-cuma di rumah dokter itu semata atas ajakan sopirnya yang kebetulan teman sekolahku di SMA. Selain aku dan sopir muda itu, di rumah tersebut ada pula penumpang lainnya. Yakni seorang guru muda.

Sopir muda itu tentu saja jelas apa yang wajib dilakukannya. Yakni menyetir mobil, mengantar sang dokter dan segenap keluarganya ke mana sana. Sedangkan guru muda itu tiap malam membantu anak-anak sang dokter mengerjakan tugas sekolahnya. Lalu aku apa?

Tak jelas apa yang harus kukerjakan. Padahal, sebagaimana sopir dan guru muda itu, aku juga dapat kamar tidur dan makan minum secara cuma-cuma. Tak enak tentu saja, menerima kebaikan orang tanpa membalasnya dengan perbuatan yang bermakna.

Karena itu, suatu pagi aku membantu-bantu menyapu halaman samping, depan, dan belakang. Tapi, begitu ketahuan, dokter itu langsung melarang. Ketika aku membantu menerima kedatangan pasien yang ingin berobat, ternyata tidak pula diperbolehkan.

“Kalau tempat tidur dan makan yang kamu terima itu harus dibayar dengan bekerja, itu namanya aku tidak membantu apa-apa. Jangan samakan dirimu dengan sopir dan si guru muda, sebab keduanya kuberi gaji yang tetap sebagaimana mestinya,” katanya.

Kala itu aku nyaris tak percaya akan apa yang dikatakannya. Tapi kemudian aku bisa memakluminya, dan sekian waktu belakangan akan bahkan dapat memahaminya maknanya.

Intinya, pemberian yang mengharapkan balasan, tentulah bukan pemberian lagi namanya. Pemberian yang mengharapkan imbalan tentu saja tak bedanya dengan utang-piutang.

Meski demikian, aku tetap saja sesekali membantu membersihkan ruang prakteknya atau mengatur pasiennya. Dari situ aku dapat pengetahuan yang kukira sangat berharga. Ternyata dokter itu tidak pernah menentukan (menyeragamkan) tarif pengobatan yang diberikannya.

Kepada pasien yang dari kalangan orang berada, ia menarik bayaran sebagaimana mestinya. Tapi kepada pasien dari kalangan biasa, ia silakan kepada si pasien untuk membayar berapa saja. Sedangkan kepada pasien yang tak berpunya, ia tak mau menerima apa-apa. Bahkan tak jarang justru si dokter itu memberi uang kepada pasiennya. “Ini sekadar untuk ongkos pulang naik becak,” katanya.

Kala itu belum ada ojek, apalagi ojol dan entah apalagi namanya yang sekarang begitu banyak ragamnya. Atau ia bilang, “Ini sekadar untuk membantu Anda membayar harga obat yang saya kira lumayan mahal harganya,” ujarnya.

Ingat dokter yang baik hati ini, ingat dengan kondisi kehidupan sekarang ini, terutama jika teringat akan tarif dokter dan harga obat yang belakangan ini semakin nyaris tak terbeli, aku tiba-tiba teringat kepada petuah seorang ulama (aku lupa namanya) yang berbunyi begini: seorang ilmuan sejati (mukhlis) ialah yang tidak merendahkan orang-orang yang di bawahnya, tidak mendengki terhadap yang di atasnya, dan tidak menentukan atau menetapkan tarif atas ilmu pengetahuannya.(jejakrekam)

Editor Almin Hatta

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.