ACT

Mengenal Aksara Arab Melayu dan Huruf Jawi

3 59.251

Oleh : Humaidy Ibnu Sami

AKSARA Arab Melayu (huruf Melayu) atau Aksara Jawi (huruf Jawi)  menurut kamus linguistik adalah huruf Arab yang dipakai untuk memuliakan bahasa Melayu. Sedangkan aksara Arab itu sendiri adalah aksara yang mula-mula dipakai untuk menuliskan bahasa Arab, diturunkan dari aksara Aramea, sekitar wilayah Syiria dan Irak.

ADAPUN peninggalan tertua beraksara Arab berasal dari tahun 512 M. Dalam penyebarannya juga dipakai untuk menuliskan bahasa Urdu, bahasa Melayu, bahasa Jawa yang dituliskan dari kanan ke kiri.

Disebut dengan istilah Jawi untuk huruf-huruf Arab, berkaitan erat dengan panggilan Jawi yang digunakan oleh orang Arab terutama di Mekkah terhadap Bangsa Melayu dan Indonesia sampai saat ini. Istilah Jawi ialah kata sifat yang artinya orang Jawa atau artinya yang berasal dari tanah Jawa.

Penulis-penulis Arab pada zaman klasik termasuk Ibnu Batutah dalam bukunya Al-Rihlah menyebut pulau Sumatera sebagai Al-Jawah. Oleh karena itu orang Arab menyimpulkan orang Melayu dan orang Jawa sebagai bangsa Jawi dan tulisan Melayu yang menggunakan hurub Arab itu disebut dengan tulisan huruf Jawi.

BACA : Walau Tak Punya Aksara, Bahasa Banjar Kaya dengan Karya Sastra

Di samping itu, menurut Abdul Hadi WM disebut huruf Jawi karena yang pertama kali menyusun huruf ini bernama Syekh Jawini. Syekh ini adalah guru bahasa yang hidup pada akhir abad ke-13 di Samudra Pasai, Aceh.

Dialah yang mempelopori penulisan karangan-karangan berbahasa Melayu dengan menggunakan aksara yang disebut huruf Jawi.

Tulisan huruf Jawi adalah campuran huruf-huruf arab yang terdiri dari 29 huruf dengan 5 huruf bukan huruf Arab, melainkan huruf yang diciptakan oleh orang Melayu sendiri. Hal ini disebabkan huruf-huruf Arab mempunyai kekurangan dari sudut lambang-lambang untuk fonem Melayu, atau orang-orang Melayu telah meminjam beberapa huruf Arab yang telah di variasikan dengan ini bertambahlah jumlah huruf Jawi.

Huruf-huruf tambahan ini ialah ca, (ج ), nga (غ ), pa (ف ), ga(ك ), nya ( ث ), huruf yang lima ini adalah menurut Prof S.M Naguib Al-Attas bahwa huruf-huruf baru ini diciptakan untuk melambangkan bunyi-bunyi yang lazim untuk lidah orang Melayu. Huruf-huruf baru ini ditiru dari huruf Arab misalnya ca ( ج ), diambil dari huruf jim ( ج ), huruf nga ( ع ), dari huruf ain ( ع ) huruf pa ( ف ) dari huruf fa ( ف ) dan ga ( ك ) dari huruf kaf ( ك ). Tetapi menurut Omar Awang pula huruf ca ( ج ) dan ga ( ك ) diambil dari huruf Parsi karena bahasa itu berkembang dengan luas di Asia tengah dan India dan pengaruhnya sampai ke alam Melayu dibawa oleh penulis Islam Hamzah Fansuri.

BACA JUGA : Bahasa Banjar Zaman Dulu dan Rumah Lanting Diusulkan ke Kemendikbud

Pada zaman Islam juga, bahasa Melayu mulai berkembang menjadi bahasa pengantar dalam bidang penulisan kesusastraan, Ilmu teologi dan falsafah. Sebelum kedatangan Islam, bidang ilmu ini hanya ditulis dalam bahasa Jawa.

Dengan Islam berkembang banyak istilah Arab dalam bidang ilmu-ilmu tersebut telah dipijamkan ke dalam bahasa Melayu. Sehingga bahasa ini menjadi bahasa pengantar di bidang ilmu pengetahuan dan bahasa perhubungan. Sesudah zaman Islam bahasa Melayu mulai meningkat maju. Bahasa Melayu telah dijadikan bahasa resmi dalam kerajaan-kerajaan di alam Melayu.

Pengunaan huruf Jawi dalam penulisan berbentuk surat, telah digunakan lebih dari 400 tahun, menjadi sarana komunikasi antara raja-raja dikepulauan Nusantara dengan raja, pembesar dan pedagang-pedagang dari mancanegara.

Meskipun surat-surat ini berasal dari tempat yang jauh jaraknya antara satu dengan yang lain, tidak banyak perbedaan yang terdapat pada bahasa melayu yang digunakan.

Menurut William Marsden, tidaklah lebih sulit untuk menerjemahkan surat dari raja kepulauan Maluku dari pada surat di raja kedah atau Terengganu di Semenanjung atau dari wilayah Minangkabau di Sumatra. Adapun tulisan-tulisan yang berbahasa Melayu yang terdapat di Sumatea Selatan di Kedukan Bukit, Talang Tuo, Karang Berahi dan Sungai Merangi, semuanya menggunakan tulisan yang berpengaruh Hindu.

Sedangkan di Aceh berbeda bentuk tulisan dan prasastinya, karena menggunakan dua jenis aksara yaitu aksara India dan aksara Arab. Ini menggambarkan adanya zaman peralihan pada masa itu yaitu dari pengaruh Hindu yang mulai menipis ke pengaruh Islam yang mulai bertambah menebal. Selain itu juga prasasti yang bertuliskan huruf Jawi yang tertua dijumpai di Kuala Terengganu yaitu pada tahun 4 Rajab 702 Hijriyah atau bersamaan dengan 2 Maret 1303 Masehi.

Mempelajari Huruf Jawi

Menulis dan membaca tulisan huruf Jawi mempunyai kaidah tersendiri dan mempunyai keunikan tersendiri pula, seperti tulisan Latin dan tulisan lainnya. Arab atau huruf Hijaiyah, kemudian ditambah dengan aksara Arab yang telah dimodifikasikan. Hal ini karena ada fonem bahasa Indonesia yang tidak dijumpai dalam bahasa Arab. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada huruf dibawah ini:
A – B – C – D – E – F – G – H – I – J – K – L – M – N – O – P – Q – R – S – T – U – V – W – X – Y – Z – NG – NY – TY – S – D – T – Z – S – SY – KH – H – Z.

BACA LAGI : Pemertahanan Bahasa Banjar Melalui Seni Pertunjukan

Pengetahuan yang harus dimiliki dalam menulis dan membaca tulisan huruf Jawi ialah mengetahui semua kaedah atau tata cara menulis dan membaca tulisan huruf Jawi, diantaranya yang terpenting adalah : mengenal dan mampu menuliskan aksara Jawi dalam semua bentuk perubahannya, yaitu huruf yang berdiri sendiri, berada di awal kata, di tengah kata dan di akhir kata. Untuk lebih jelas dapat dilihat di bawah ini:
Akhir kata Tengah kata Awal kata Sendiri Latin
ا ا ا ا A ب ب ب Bث ث ث ُث Cد د د د D
فاف تف ؤفيفي ف Fجوك رو كى كا رو غ ك G ح H ئ I
ج J ك Kل Lم Mن Nف Pك ق Q Kر R س Sت T
و W U ا ي Y Iز Zغ NGب NYس Sش SYث Sد D
ت Tذ Z

2. Cara menulis kalimat yang terdiri dari dua suku kata
a. Suku kata ke dua berbunyi A seperti :
kata = كات Buka = بوك Bila = بيلا
b. Suku kata kedua berbunyi U dan I seperti :
Maju = ماجو Babi = بابى Babu =بابو
c. Suku kata kedua berbunyi A dan huruf mati sepert :
Marah = ماره Susah =سوسه Patah =فاته
d. Suku kata kedua berbunyi A sedang suku kata pertama berbunyi E seperti :
Reda =ريضا Kera =كرا Tera =ترا
e. Suku kata kedua berbunyi AI, U dan I seperti :
Tupai = توفي Pulau = فولو Pandai =فن دي
f. Suku kata kedua berbunyi I dan U yang mati seperti :
Duit = دوئت Laut =لا ؤت Kuil = كو ئل
g. Suku kata pertama terdiri dari vokal A tunggal (tidak ada huruf sebelumnya) seperti :
Ada = اداApa = اف Asa = ا سا
h. Gabungan dari dua suku kata yang majemuk seperti :
Apabila = افبيلا Matahari = متهارى
i. Dua suku kata yang mendapat imbuhan, seperti awalan, sisipan dan akhiran umpamanya
1. Penyambungan lah, kah, I dan pun seperti :
Apakah = افكه Adakah = ا د كه
Bacalah = باجله Kitapun = كيتؤون
Selimuti = سليموتي Katai =كتائ
Adapun = ادا فون Kitapun = كتافون

2. Akhiran kan pada kata yang satu suku kata keduanya mati sedang suku kata pertamanya hidup seperti :
Sarungkan = سا رغكن Hapuskan = ها فسكن

3. Awalan me seperti :
Mengambil = مغمبيل Ambil = امبل
Menarik = منا رك Tarik = تا ر ك
Mengharap = مغهارف Harap = ها رف

j. Penulisan kata-kata yang berbunyi WA pada suku kata kedua dan U pada suku kata pertama seperti :
Dua = دوا Tuah = تواه Buah = بواه
Tuang = تواغ Buang = بواغ Buat =بوا ت
k. Penulisan Ku dan Kau di awal kalimat, seperti :
Ku = كو Kau =كا و seperti : سفر تي
Kudengar = كو دغر Mukaku = موكا كو
l. Kata ulang dengan penambahan akhiran seperti :
Pada-pada i = فد – فد-ئ kata-kata = كا ت كا تئ
m. Pengecualian dari kaedah penulisan yaitu :
a. Yang berasal dari Bahasa Arab
Semua kata yang berasal dari Bahasa Arab harus ditulis menurut cara penulisan Bahasa Arab, seperti :
Khusus = خصوص Syukur =شكر
Sahih = صحيح Mustahil = مستحيل
Sifat = صفة Alamat =علا مة
Alam = عا لم Nasib =نصيب
Masyhur = مشهور Manfaat =منفعة
b. Yang bukan berasal dari bukan bahasa Arab
Ini = اني Itu = اتو Pada =فدا
Dari = داري Kepada = كفدا Ialah =اياله
Kemudian = كمدين Serta = سرت Dan =دان
Kita = كيتا Seperti = سفرتي Yang = يغ.(jejakrekam)

Penulis adalah Pengajar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin

Peneliti Senior LK3 Banjarmasin

3 Komentar
  1. Meninas berkata

    Salahh nama jawi di ambil dr jambi, kota yang dulunya ramai dengan pedagang arab dan mesir

    1. Re design berkata

      Kalau dari jambi..saya lebih setuju…bukan jawa…
      Kalau dari jawa ya..suku jawa…melayu itu banyak dari sumatera…bulan pulau jawa….
      Macammane..semue mau diakui dari jawa…?
      Ya..kalau melayu itu identik dengan pedagang dari arab…islam…
      Maaf ini pendapat kami…
      Setahu saya..tulisan jawa dan keraton2 di jawa itu identik dengan tulisan..dari seperti huruf india..sepertinya..sangskerta ya pak?
      Kami dari kecil utk suku malayu di sumatera sudah mengenal tulisan tangan dari orang tua kami..orang melayu..dan bahasa arab melayu…kitab2 yg dituliskan pujangga melayu seperti Raja Ali Haji banyak dengan arab melayu..bukan jawi..
      Terima kasih

  2. YANUWAR berkata

    KITAB “ARAB MELAYU ”
    ==================

    Pada Cover / Sampul Kitab Arab Melayu tidak Pernah Ditulis Kitab AL-Djawi. Yang dimaksud dengan AL- DJAWI yt Penisbatan Tempat yang ditulis dengan huruf Arab yt berasal dari الجوة (AL-DJAWAH).
    Kemungkinan Penamaan ini berasal dari Bahasa Sanskrits India “Yava Dvipa” yang artinya Tanah Bijian Rempah-rempah. Karena dalam Huruf Arab tidak ada Abjad “V” yang ada Abjad “F” yaitu ف “pha” sehingga huruf “V” tergantikan dengan و “wow” maka oleh karena itu “Yava” dalam Bahasa Arab ditulis الجوة “AL-Djawah”.
    Lalu mengapa ada AL-Djawah di Arab Saudi tepatnya di Yaman Utara yang melewati Teluk Aden.
    Kemungkinan besar Tempo Dulu para Pelaut Pedagang yang berlayar dari Teluk Aden membawa Bijian Rempahan (Yava) membuat pasar rempah di Yaman Utara yang berbatasan dengan Yordania sehingga tempat itu diberi nama الجوة “AL-DJAWAH”.

    Ibnu Battuta dalam Perjalanan Tournya ke Timur Abad 13 Masehi dan sampai di Samudra Pasai Atjeh dimana setelah berlayar dari kampungnya AL- Magribi melewati Teluk Aden yang berada di AL- Yamani dan Beliau Ibnu Battuta telah mengenal nama AL – Djawah di Yaman Utara Arab dimana tempat ini Pusat Perdagangan Bijian Rempah (Yava) dengan rempah yang terkenal “Kemenyan” yang dusebut “Luban Jawi”.

    Sekarang kita mengkaji kembali kata “Yava” untuk Penulisan “Arab Melayu”
    dimana dalam Bahasa Melayu telah lama menggunakan Huruf Arab dalam penulisan kata-kata, cara penulisan Bahasa Arab menulis dari “kanan kekiri”
    sedangkan Bahasa Sanskrits menulis dari “kiri ke kanan”. Untuk itu cara penulisan dalam Bahasa Melayu untuk yang berkebalikan atau berlawanan biasanya di akhir kata diganti dengan huruf “i”.

    Misalnya :

    Muda (anak muda laki-laki)
    Mudi (anak muda perempuan).

    Saudara (laki-laki)
    Saudari (perempuan)

    Kesana (menjauh)
    Kemari (mendekat)

    Dewa (untuk laki-laki)
    Dewi (untuk Perempuan)

    Indra Pura
    Indra Puri

    Pramugara
    Pramugari

    Bayangkara
    Bayangkari

    Gapura
    Gapuri

    Serba
    Serbi

    Dan lain-lain sebagainya.
    Makanya dalam Penulisan “Yava” yang ditulis dengan huruf “Arab Melayu” ditulis dengan لجو يl “AL- DJAWI” yang mengikuti cara penulisan Bahasa Arab dari Kanan ke Kiri.
    Ditulis “AL-Djawi” dikarenakan merupakan “Kebalikan Arah Penulisan dari Bahasa Aslinya yang dimulai dari kiri ke kanan maka kebalikannya dari Kanan ke Kiri”
    Tempo Dulu, orang-orang yang berasal di Timur India (Asia Tenggara) di Makkah dinisbatkan dengan sebutan AL-Jawi pada akhir namanya.
    Kebanyakan orang-orang berfikir kata Jawi bukan hanya menjadi Penistabatan Tempat tetapi juga kepada suku, bahasa, atau Pulau Jawa semata seperti sekarang kita sebut Penduduk Pulau Jawa itu semua suku Jawa padahal suku Jawa cuman di Jawa Tengah/Timur orang-orang asli Pulau Jawa yang bukan Suku Jawa yang tinggal di Jakarta malah mereka marah bila disebut orang Jawa (suku Jawa), begitu juga Tempo hari Orang-orang Asli Arab / Makkah menyebut pada semua Bangsa yang berasal dari kawasan Timur India (Asia Tenggara /Nusantara Malaysia) lainnya, seperti Atjeh, Melayu, Palembang, Minangkabau, Mandailing, Sunda, Madura, Birma, Sumbawa, Banjar, dan lain sebagainya menisbatkan mereka ke AL-DJAWAH.
    Bahasa Melayu yang menjadi Lingua-franca di kawasan Asia Tenggara (Nusantara Malaysia ) pun dalam bahasa Arab disebut al-Lughah al-Jawiyyah (bahasa Jawian/bahasa Melayu) hal inilah yang membuat Kekeliruan kita pada hal Al-Djawi adalah kebalikan arah tulis dari “Yava” bahasa sanskrits menulis dari kiri ke kanan sedangkan bahasa Arab menulis dari kanan kekiri.

    Jadi Kitab-kitab Aksara Arab Bahasa Melayu bukanlah kebalikan atau terjemahan bahasa Sanskrits melainkan memang Bahasa Melayu sendiri yang ditulis dengan Aksara Arab, sehingga Tidak Layak disebut Kitab Arab Melayu dengan Kitab Djawi. Oleh karenanya pada Cover/Sampul Kitab Arab Melayu tidak pernah ditulis Kitab Djawi, kalaupun ada penulisan AL-Djawi hanya pada Nama Pengarangnya sebagai petunjuk Asal Usul Tempat Pengarang Kitab.

    Hanya Demikian Ulasan saya mengenai Bahasa “Arab Melayu”
    Wassalam Terimakasih.

    Sumber :
    https://www.kompasiana.com/www.nessma-majid.com/sama-orang-arab-ini-orang-jawa-di-kira-semacam-orang-bukhorinepal-atau-barmamyanmar_551fd25a813311bf199dfa5d
    http://klikweb.dbp.my/wordpress/?p=1275

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.