ACT

Usai Social Distancing Jadi Physical Distancing, Bagaimana Pelayanan Publik Berjalan?

0 68

MENGAMATI penyebaran virus Corona yang semakin meluas. Bahkan, WHO, organisasi kesehatan dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengubah konsep social distancing (menjaga jarak) menjadi physical distancing, yaitu interaksi tidak dengan bertatap muka.

TENTU, kita semua harus patuh, agar mampu memutus mata rantai penyebaran virus Corona (Covid-19). Tetapi bagaimana dengan pelayanan publik? Seperti apa bila masyarakat ingin mengakses pelayanan publik langsung? Apakah pemberi layanan siap dengan physical distancing? Pelayanan seperti apa yang dapat ditunda dan tanpa harus bertatap muka langsung?

Asisten Ombudsman RI Perwakilan Kalsel, Ita Wijayanti, Sopian Hadi dan Zayanti Mandasari dalam program Palindangan Noorhalis di Pro 1 RRI Banjarmasin, Kamis (26/3/2020), memastikan pelayanan di lembaga pengawas pelayanan publik masih berjalan.

“Ombudsman telah menyampaikan pemberitahuan atau pengumuman bahwa bila masyarakat ingin lapor, dapat melalui saluran pengaduan yang sudah disediakan, baik telepon, WA, email dan lain sebagainya. Kecuali sangat urgen baru silahkan datang menyampaikan laporan,” ucap Ita Wijayanti.

BACA : Banjarmasin Bakal Diberlakukan Jam Malam, Tim Covid-19: Jika Warga Masih Keluyuran di Luar

Menurut dia, sejauh tidak terlalu urgen untuk bertatap muka langsung, sebaiknya di rumah saja dan cukup melalui telepon.

Senada itu, Sopian Hadi menilai masyarakat juga paham, karena yang tidak urgen tidak perlu mengakses layanan publik. Terbukti, hingga kini tidak ada yang komplain atas kebijakan ini.

“Layanan yang sudah disediakan akses onlinenya tetap diakses masyarakat. Memang sedikit banyak berdampak, karena tidak semuanya bisa memberlakukan physical distancing,” ucapnya.

Dia membandingkan pasar, sekalipun sudah ada pembelian berbasis online, tetap agak susah, karena harus melihat barang yang dibeli secara langsung.

“Layanan publik yang sudah online, manfaatkan fasilitas tersebut agar mengurangi aktivitas di luar rumah, aktivitas berjumpa, kontak fisik dengan banyak orang,” ucapnya.

Sopian Hadi mengajak agar kita harus sadar dan mematuhi protokol yang sudah dibuat pemerintah agar memutus penyebaran virus ini. “Bahkan kabarnya, nikah juga metodenya tidak lagi berjabat tangan,” selorohnya.

BACA JUGA : Masuk Balai Kota Banjarmasin, ASN Lewati Tenda Penyemprotan Disinfektan

Sedangkan, Zayanti Masdasari melanjutkan untuk pelayanan kesehatan sulit diberlakukan physical distancing. Sebab, menurut dia, tidak mungkin layanan kesehatan hanya melalui telepon atau cukup konsultasi saja, tanpa melihat dan memeriksa kondisi pasien.

“Layanan dasar seperti kesehatan, tentu saja tidak berlaku. Dengan kondisi seperti apapun, tidak ada alasan untuk tidak ada layanan, hanya tinggal bagaimana cara memberikan layanan,” ujar Zayanti.

“Mungkin perlu juga dilakukan evaluasi terhadap ASN yang disuruh kerja di rumah saja. Apakah benar-benar kerja atau justru liburan di rumah. Dengan evaluasi maka diketahui efektif atau tidak penerapan kerja di rumah tersebut,” sebutnya.

Menurut Zayanti, kalau tidak efektif, mungkin cara lain harus dicari. Begitu juga dengan belajar di rumah, apakah benar bisa terlaksana atau tidak.

“Untuk layanan umum seperti perizinan dan sebagainya, tentu sudah bisa via online, namun bagi layanan yang mengharuskan datang, sangat sulit,” ucapnya.

Beragam tanggapan datang dari pemirsa. Seperti Azhar di Banjarmasin, menanyakan soal imbauan Kapolda yang melarang dilaksanakan pesta perkawinan. Bahkan, kalau ada yang berani akan ditangkap.

“Begitu juga dengan shalat Jumat. Ada fatwa MUI yang melarang untuk rapat shaf shalatnya. Bahkan dibolehkan tidak shalat Jumat, diganti dengan shalat Zuhur,” ucapnya.

BACA JUGA : Hingga 31 Maret, THM dan Rumah Biliar di Banjarmasin Ditutup Sementara

Begitu pula, Iwan, warga Banjarmasin mengungkapkan saat ini pasar-pasar sudah pada tutup, karena berjualan dilarang. “Kami berharap tidak ditutup semunya. Boleh buka sampai jam 12 misalnya, agar tidak terjadi kepanikan bagi masyarakat karena tidak ada yang bisa dibeli,” ucapnya.

Iwan mengatakan bagaimana logistik di rumah. Memang di pasar agak sulit mengatur jarak orang perorang, namanya juga pasar, pusat aktivitas manusia. 

“Soal masker, pejabat menyuruh hanya bagi yang sakit, tapi kenapa justru pejabat selalu memakai masker?  Virus ini menurut saya hanya menulari orang kaya, orang miskin yang tinggal di kampung tidak pernah mengalaminya,” seloroh Iwan.

Menurut dia, karena orang miskin tidak bepergian dan jarang berinteraksi dengan orang dari luar. (jejakrekam)

Penulis Ipik Gandamana
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.