ACT

Bunyi Banjar: Catatan Etnomusikologi Musik Banjar

0 192

DUNIA seni melihat ke berbagai jenis alat musik dan musik. Para peneliti bidang etnomusikologi memainkan peranan penting dalam mendokumentasikan kesenian tradisional masyarakat lokal, untuk memastikan kelestarian musik suatu masyarakat.

BANJAR juga memiliki musik, memiliki bunyi yang khas. Bagaimana bunyi dan musik Banjar itu sendiri? Bagaimana mengenalinya? Apa yang harus dilakukan untuk mengembangkan dan melestarikannya?

Kalau menelusuri sampai ke hulu tentang musik Banjar, maka baru menemukan gamalan. Lebih jauh dari gamalan belum ada, kecuali bamamang, itupun kalau mau dimasukkan sebagai bunyi yang dapat dikenali sebagai identitas kita.

“Gamalan sendiri tergolong jenis pentatonis yang hanya terdiri dari 5 nada pokok, seperti slendro yang juga memiliki 5 nada,” kata Novyandi Saputra, Peneliti, penulis buku Bunyi Banjar, pada Palidangan Noorhalis, Pro 1 RRI Banjarmasin, Kamis (16/1/2020).

Lebih lanjut Novyandi menjelaskan, bahwa daya melodi sangat tergantung dari pembuat alat musiknya. Seperti slendro tadi. Sekalipun dibuat oleh orang yang sama, dengan bahan yang sama, belum tentu melahirkan daya melodi yang sama.

Gamalan juga begitu, sekalipun dibeli dari pembikin yang sama, bunyinya bisa saja berbeda. Sebab, ia dibikin dengan cara manual, bukan hasil pabrikan. Ditempa dengan cara sederhana, sehingga tebal tipisnya tidak dapat diukur dengan pasti. Di situ keunikan dan sekaligus keistimewaan musik tradisional pentatonis.

Musik Banjar yang sangat populer adalah panting. Sekarang musik panting sudah sangat berkembang, tidak bisa lagi kita anggap sebagai musik tradisi. Apalagi ketika ia sudah sangat populer, mengikuti budaya populer, sehingga menjadi hibrid, dipadukan dengan alat musik lainnya, termasuk alat-alat musik modern, sehingga kehilangan keasliannya.

BACA : Pemertahanan Bahasa Banjar Melalui Seni Pertunjukan

Alat musik lainnya, adalah Kuriding. Walaupun alat musik yang satu ini juga terdapat di berbagai daerah lain, tertama daerah yang masyarakatnya tergolong agraris atau pertanian. Namanya bermacam-macam, kebetulan di tempat kita diberi nama Kuriding. Julak Maman, mempopulerkan Kuriding, dan menetapkan 4 Mei sebagai peringatan Hari Kuriding. Alasannya, pada tanggal itu Kuriding pertama kali diminta tampil di Jakarta.

Dari semua bunyi Banjar, akarnya hanya satu, yaitu gamalan. Walaupun diakui bahwa gamalan berasal dari Jawa yang berarti gamelan. Itu yang disebut dengan alkulturasi. Tapi produksi gamalan Banjar sudah dilakukan sejak lama di Tapin. Alat musik lainnya gong. Cuman gong hanya satu nada, tidak ada nada lain. Dipukul bagaimanapun hanya melahirkan satu nada. Saron juga begitu, hanya ada saron halus dan ganal, tidak lebih dari itu.

Sekarang ini memang orang lebih memilik atau menggemari musik diatonis. Musik-musik yang berasal dari Eropah. Sehingga musik tradisipun meniru musik modern yang diatonis. Padahal sejatinya adalah musik tradisi.

Dalam musik panting, yang menjadi ciri khas adalah penyanyinya dengan jenis vokal singik. Jenis vokal tersebut merupakan jenis vokal tradisi. Sekarang jenis vokal singik sudah mulai hilang, terpengaruh diatonis, musik-musik populer.

Para pendengar Palidangan Noorhalis, Pro 1 RRI Banjarmasin juga ikut bergabung menyampaikan pendapatnya.

Syahri di Banjarmasin, menyatakan bahwa dia merasa kecewa karena musik panting seringkali berubah menjadi dangdut. Kita menjadi kehilangan musik asli Banjar, dan dangdut kemudian merebut panting itu sendiri.

Saddam di Banjarmasin juga menyampaikan hal yang sama, menyayangkan musik panting yang berubah atau dimodernkan menjadi dangdut. Semestinya dipertahankan, jangan dicampur atau digabung, sehingga kekhasannya masih terasa. Harus mempertahankan budaya sendiri, jangan sampai digilas budaya lain.

Hariadi di Tabalong, dari sisi irama, saya kira sudah ada yang khas bagi Banjar. Kalau dari sisi bunyi belum ditemukan, maka ada baiknya terus dicari sampai ditemukan, karena rasanya tidak mungkin hanya sampai pada gamalan. Sementara itu, agar lestari, yang sudah ada saja diterapkan di sekolah-sekolah, sehingga anak-anak familiar dengan alat-alat musik yang kita miliki.

Arya di Kapuas, mengusulkan bahwa kalau tidak ada, kenapa tidak diciptakan saja. Kita bisa berinovasi dengan membuat gendang dari kayu pulantan atau ulin sebagai kayu lokal yang ada di Kalimantan.

Boy di Kapuas, mengatakan bahwa dari cerita ibunya yang seniman, mengatakan bahwa alat musik tradisional Banjar yang asli itu bukan gamalan, ada alat musik sendiri, cuman saya lupa nama alat musik yang dia sebutkan. Karena waktu itu saya konfirmasi apakah sejenis gamalan, dia bilang bukan. Alat musik ini sudah dipakai sejak dulu kala, nanti saya akan tanyakan kembali sebagai pengetahuan saya.

Novyandi kemudian memberikan tanggapan balik, bahwa musik Banjar itu yang pasti bukan dangdut, dan Melayu juga belum tentu. Kalau kita kembali ke musik-musik tradisi, maka akan bertemu lagu-lagu Damarwulan. Kalau mau mencari konsep lagu Banjar, kita cari hingga ke akarnya yang paling tua, kita akan ketemu Damarwulan, atau lebih jauh lagi “mamang”.

BACA JUGA : Walau Tak Punya Aksara, Bahasa Banjar Kaya Dengan Karya Sastra

Sayangnya, musik tradisi tersebut berbenturan dengan kebutuhan pasar. Akhirnya musik tradisi mengalah oleh permintaan pasar. Jadilah panting yang berubah ke dangdut, atau menjadi pop dan sebagainya.

“Saya juga masih bertanya apakah bunyi Banjar itu ada. Apakah musik Banjar itu ada. Ketika musik itu berbunyi, langsung bisa teridentifikasi sebagai musik Banjar. Seperti musik Bali yang mudah diidentifikasi. Kalau kemudian baru menjadi instrumen hanya dapat diidentifikasi, maka berarti ciri kita baru pada tingkat instrumen, bukan bunyi atau musik. Bunyi itu lahir dari hati pemusiknya,” bebernya.

Lagu Banjar sendiri harus dibuat standar, sehingga orang tahu standar lagu Banjar itu seperti apa. Sekarang ini ketika tidak standar, yang terjadi pemiskinan budaya. Seolah-olah tidak ada yang khas, yang tradisi, dimiliki oleh daerah.

Tradisi bermusik orang Banjar sangat kuat. Kalau kita identifikasi daerah mana yang tradisi bermusiknya cukup hidup, bisa disebut Barabai dengan Barikinnya, atau Tabalong dengan Warukinnya, Balangan dengan Halongnya, Kotabaru dengan Alahaynya, dan Banjarmasin tentu saja sudah hibrid.

Pesan atau harapan apa yang bisa sampaikan tanya Noorhalis Majid, sebagai pemandu palidangan. “Mari kita tanamkan rasa kebanggaan pada musik kita sendri. Kalau kita punya instrumen sendiri, tentu instrumen tersebut menjadi satu kebanggaan, dari itu bisa menjadi identitas. Harus ada upaya untuk melestarikan musik-musik Banjar. Caranya, kantor, lembaga, dan sekolah memiliki koleksi alat musik tradisonal. Dengan seperti itu akan sangat membantu pelestariannya. “Sangat bagus kalau kemudian semua orang belajar memainkannya, lebih lestari dan terus berkembang,” kata Novyandi mengakhiri obrolan di Palidangan Noorhalis.(jejakrekam)

Penulis Andi Oktaviani
Editor Almin Hatta

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.