ACT

Beratnya Amanah Kehidupan

0 53

Oleh : Almin Hatta

RASANYA baru saja Paman Birin terpilih sebagai Gubernur Kalsel. Begitu pula Ibnu Sina memenangi pilwali dan kemudian dilantik menjadi Walikota Banjarmasin. Eh, sekarang jabatan mereka sudah hampir berakhir dan karenanya segera dilakukan pemilihan kembali.

SEMENTARA itu, dalam kurun lima tahun terakhir, sudah tak terhitung lagi banyaknya pejabat yang akhirnya terjerat, mendekam di balik jeruji kamar kecil penjara yang gelap dan pengap. Mereka dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi, dan karenanya harus diasingkan ke ruangan sepi agar punya banyak waktu untuk melakukan instrospeksi.

BACA : Segelas Air

Jadi, siapa menabur badai maka badan pun tergadai. Tapi bukan itu intinya. Bukan tindakan jahat mesti membuat seseorang terjerembab, sebab masih banyak pelaku korupsi yang tak kunjung terjangkau tangan aparat Komisi Pemberantasan Korupsi. Bahkan masih banyak koruptor yang dengan sangat bebas keluar masuk kantor, dan justru sama sekali tak terlihat kotor.

Esensinya adalah, jabatan, baik itu berupa kepala daerah, kepala instansi, kepala kantor, atau sebagai wakil rakyat, adalah amanah yang teramat berat. Jabatan adalah beban yang tak sembarang orang bisa memikulnya dengan gampang. Jabatan adalah jalan yang tak lempang, karenanya bisa dengan gampang membawa seseorang terjerumus ke jurang yang teramat dalam.

Tapi, di balik itu semua, jabatan merupakan sarana untuk merengkuh dunia. Dengan jabatan, orang bisa dengan gampang meraih ketenaran. Dengan jabatan, orang bisa dengan gampang meraup segunung kekayaan.

BACA JUGA : Hujan

Hanya saja, itu semua bisa dengan gampang pula membuat orang mabuk kepayang sehingga kemudian jadi salah jalan. Maka, ujung dari jabatan pun bukan berakhir pada kebahagiaan, melainkan mentok pada penderitaan yang tak tertahankan.

Masalahnya, kebanyakan manusia lebih cenderung mengkhayalkan kesenangan ketimbang mengingat kesengsaraan. Karena itulah hampir semua orang setiap hari memimpikan jabatan. Karena itu pula, setiap dibukanya lowongan untuk meraih jabatan, seperti pilkada misalnya, selalu saja begitu banyak orang yang mendaftar untuk ikut memperebutkannya.

Persoalannya, aturan hidup bermasyarakat dan bernegara mengharuskan menempatkan seseorang pada jabatan pimpinan. Maka, seseorang, dengan sukarela dan bahkan dengan sukacita, atau justru dengan sangat terpaksa, harus bersedia menjadi wakil rakyat, menjadi bupati, menjadi walikota, menjadi gubernur, dan bahkan menjadi kepala negara.

BACA LAGI : Pedang Waktu

Kesimpulannya, seseorang harus bersedia menerima amanah jabatan, demi tetap berjalannya roda kehidupan bermasyarakat-bernegara sebagaimana mestinya. Karenanya, kepada orang bersangkutan tak cukup cuma diberikan ucapan selamat, tapi juga mesti dibekali dengan banyak doa agar ia selalu kuat memikul beban teramat berat di pundaknya. Tapi, sebenarnya, yang menjadi amanah bukan cuma jabatan. Sebab, kehidupan ini sendiri adalah amanah bagi kita sekalian.

Karena itulah, setiap helaan nafas kita sebagai pertanda masih hidup di dunia, setiap ayunan langkah kita menapaki dunia, kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan Sang Penguasa Alam.(jejakrekam)

Editor Almin Hatta

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.