Dirgahayu

‘Nyanyuk’ Didera Pikuk Pemilu, Nada Tak Nyaman di Depan Penonton

ALUNAN musik tradisional berpadu dengan balutan modern kembali menggema di Panggung Terbuka Bakhtiar Sanderta, Taman Budaya Provinsi Kalsel, Jalan Brigjen H Hasan Basry, Sabtu (20/7/2019) malam.

PENONTON dibuat kagum dengan penampilan dan beragam peralatan musik yang dikemas Banjarbakula Enterprise, Nusantara Etnik, Ading Bastari Barikin dan Jurusan Seni Musik SMKN 4 Banjarmasin. Terakhir, giliran NSA Project berkolaborasi dengan Julak Larau.

Pergelaran musik bertajuk ‘Banua Maninti Ilun’ ini pun diawali dengan penampilan Ading Bastari Barikin dari Hulu Sungai Tengah (HST).

Dalam penyajiannya, memang terbilang unik. Sebab, sebelum memainkan musik, mereka menyuguhkan atraksi dua pengendara motor di bawah panggung dengan suara knalpot yang kencang, hingga membuat berisik para pemainnya.

BACA : Panggung Bakhtiar Sanderta Meriah, Petikan Panting Kolosal Membelah Keheningan Taman Budaya

Hal ini dilakukan sebagai gambaran awal dari penampilannya di atas panggung, melalui suara motor menggambarkan kondisi ‘Nyanyuk’ sebagai tema yang disajikan.

Ya, bukan tanpa alasan, mereka mengambil tema ini lantaran, terinspirasi dengan suasana perhelatan Pemilu 2019 yang dinilainya banyak menebar isu yang belum tentu benar, dalam perebutan kekuasaan.

“Apalagi, masing-masing kandidat merasa benar. Sehingga hal itu tentunya membuat bingung masyarakat. Hal itulah yang menjadi inspirasi kami,” kata penata musik Ading Bastari Barikin, Lupi Andriani.

BACA JUGA : Gawi Manuntung, Album Terbaru Grup Musik JEF

Walhasil, Ading Bastari Barikin ingin mengkomposisikan dan mencoba menafsirkan situasi dengan keadaan nyanyuk (pusing) ke dalam bentuk suara. Lupi bersama enam pemain lainnya sengaja membentuk nada-nada yang tak seimbang untuk dibenturkan dalam menghasilkan nada-nada yang tak nyaman. “Tak nyaman didengar itu yang kita suguhkan ke penonton supaya nyanyuk,” ujarnya.

Umumnya dalam berkesenian tentunya menggunakan kostum yang kompak. Lantas, mengapa tak menggunakan kostum sama? “Sekarang saya balik tanya, apakah musik itu mesti formal?,” ucapnya.

Lupi menjawab, meskipun menggunakan media tradisi, sajian yang ditampilkan disebutnya sudah keluar dari tradisi. Malah diakuinya mengarah ke kontemporer alias kekinian.

Dirinya beralasan, membebaskan kostum, karena tak ingin mengikat pemain. Ia mempersilakan penonton menginprentasikan sajian musik yang disuguhkan dengan imajinasinya masing-masing. “Misalnya sedih, galau, lucu ataupun kada rami (tidak ramai). Kalau mereka merasa tak nyaman, artinya pesan kami sudah tersampaikan,” pungkasnya.(jejakrekam)

 

Penulis Arpawi
Editor Didi GS