Meruntuhkan Fenomena Gunung Es HIV/AIDS

PERINGATAN hari AIDS sedunia sudah di depan mata. Tanggal 1 Desember sudah hampir menjelang. Momentini perlu menjadi perhatian bagi kita semua. Kita jadikan PR bersama untuk bisa benar-benar terbebas dari penyakit yang mengerikan itu. Khusus banua kita tercinta, Kalimantan Selatan, yang jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun semakin meningkat.

TENTU perlu kita carikan solusi agar bisa menghentikan bom waktu HIV/AIDS yang mengancam kehidupan kita, khususnya generasi muda pelanjut estafet pembangunan bangsa.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dengan menghancurkan sel CD4 (sel T). Sel CD4 adalah bagian dari sistem imun yang memiliki tugas khusus untuk melawan infeksi.

Adapun AIDS, adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. AIDS dianggap sebagai tahap akhir dari infeksi HIV jangka panjang. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa AIDS adalah sebuah penyakit kronis akibat infeksi HIV yang memunculkan sekelompok gejala berkaitan dengan penurunan daya tahan tubuh (hellosehat.com, 16/11/2018).

Bahkan sakit flu pun bisa menghantarkan kepada kematian, bagi penderita AIDS. Demikian mengerikannya penyakit ini.

Banua kita pun tak lepas dari penularan virus HIV/AIDS. Seperti yang dilansir oleh media online Banjarmasinpost.co.id pada tanggal 19 Agustus 2018 lalu, bahwa ada 2.128 orang Kalsel yang terinfeksi HIV/AIDS. Masih di media tersebut, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kalsel pun melanjutkan, 2.128 orang tersebut tersebar di seluruh kota dan kabupaten yang ada di Provinsi Kalsel.

BACA : VCT Mobile HIV/AIDS bagi WBP Karang Intan

Posisi pertama ditempati Kota Banjarmasin dengan 647 orang, disusul Tanah bumbu (294), Banjabaru di urutan ketiga (236 orang) dan Kabupaten Banjar dengan 117 orang. Satu hal yang sangat memprihatinkan adalah ketika fakta berbicara bahwa yang terinfeksi paling besar adalah dari golongan usia produktif atau generasi usia 20 tahun hingga 29 tahun.

Fantastisnya angka-angka dari peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di Kalsel menambah keprihatinan kita. Data diambil dari Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, tentang jumlah penderita HIV/AIDS di Kalsel sejak tahun 2013 hingga Agustus 2018. Tahun 2013, ada 185 orang, tahun 2014 ada 250 orang, tahun 2015 ada 276 orang, tahun 2016 ada 513 orang, tahun 2017 ada 1.864 orang dan hingga Agustus 2018 sudah ada 2.128 orang penderita (banjarmasinpost.co.id, 16/11/2018).

Menurut Sekretaris KPA Kabupaten Banjar, data tersebut masih bersifat sementara, jika temuan 100 kasus berarti harus dikalikan 100 (prokal.co, 30/11/2017). Mengapa demikian? Karena data tersebut didapat dari pasien yang datang berobat, sementara yang belum berobat tidak terdata dan tak terlaporkan.

BACA JUGA : KPA Kalsel Estimasi Ada 11 Ribu Orang Berisiko HIV/AIDS

Hal ini akan menjadi masalah karena yang tak terdeteksi akan beresiko tinggi menularkan kepada orang lain. Inilah gunung es kasus HIV/AIDS di Banua kita, yang perlu kita runtuhkan bersama.

Data berbicara bahwa 80% penularan virus HIV melalui hubungan seksual yang beresiko, seperti dengan PSK atau waria (Banjarmasinpost.co.id, 7/5/2018). Pemerintah sudah melakukan upaya preventif  dengan melakukan edukasi program ABCDE sejak tahun 2012.

Adapun ABCDE tersebut adalah A=Abstinancy Maksudnya absen untuk berhubungan seks yang berisiko bila diketahui pasangan memiliki potensi penyakit menular seksual. Antisipasinya dengan melakukan seks yang sehat.  B=Be faithfull = Saling Setia pada pasangan, jangan gonta-ganti pasangan seks.  C = Condom, Kalau sudah tahu seks yang dilakukan akan berisiko menuai penyakit, maka gunakan kondom. Ini merupakan cara aman dan sehat berhubungan seks. D = Drugs, Jauhi drugs sebab drugs, baik yang diminum atau disuntik dapat berpotensi menyebabkan HIV. Drugs yang ditelan seperti ekstasi dapat menyebabkan gairah seks meningkat, hilang sadar dan akal sehat, sehingga seks yang dilakukan cenderung tidak aman. Demikian juga drugs suntik. Jarum suntik yang tidak steril dapat meningkatkan risiko. E = Equipment, Equipment yang dimaksud merupakan perlengkapan secara umum.

Alat suntik jangan sharing dan harus steril. Kondom dalam seks yang sehat sebagai preventif penularan penyakit dan hamil yang tak diinginkan (okezone.com, 21/5/2012). Selain itu, adapula program edukasi kesehatan reproduksi remaja, karena di rentang usia ini terjadi kasus HIV/AIDS terbanyak.

Upaya pengobatan pun sudah banyak dilakukan. Dengan didirikannya posyando khusus pengidap HIV/AIDS. Dan terus memberikan penyuluhan tentang hubungan seks yang aman. Pemerintah pun sudah mulai menutup beberapa lokalisasi. Di banua kita, lokalisasi pembatuan di Banjarbaru dan begau di Banjarmasin sudah di tutup.

Kasus HIV/AIDS ini laksana bom waktu yang siap memusnahkan orang-orang produktif negeri ini. Sosialisasi pencegahan penularan pun seakan menguap tak berbekas. Buktinya, jumlah penderita HIV/AIDS semakin tahun semakin meningkat tak terkendali.

Apa sebenarnya akar masalah HIV/AIDS ini? Mengapa begitu sulit meruntuhkan gunung es kasus HIV/AIDS? Hal ini tidak lain karena mind set dari masyarakat yang dipengaruhi gaya hidup hedonisme begitu mendominasi. Meskipun sudah ditutup lokalisasi, ternyata muncul prostitusi online. Meskipun ada anjuran memakai kondom, tetaplah tak dipakai. Meskipun ada program setia pada pasangan, tetap seru jika memiliki banyak wanita.

Tak cukup puas dengan perempuan lewat hubungan tak sah tersebut, dibiarkan pula adanya waria dalam memenuhi nafsu bejatnya. Keberadaan waria dianggap biasa di sistem liberal ini, bahkan dilindungi oleh HAM, sebagai bagian masyarakat yang minoritas, atau kaum marjinal.

Belum ada upaya kuratif  bagi pelaku seks menyimpang, telah menumbuhsuburkan penularan virus HIV/AIDS. Tak ada sistem sanksi yang menempatkan pria beristri yang suka “jajan” sebagai pesakitan. Apalagi jika ternyata pelakunya adalah remaja, tak ada pasal apapun yang menjerat pelaku seks bebas berusia produktif ini. Bak cendawan di musim penghujan, semakin banyaklah kasus seks bebas yang berujung pada penambahan jumlah penderita HIV/AIDS.

BACA LAGI : LK3 Ajak Jauhi Virusnya, Bukan Orang Terinfeksi HIV/AIDS

Pada saat kampanye program ABCDE, terutama pada penggunaan kondom, telah ada kritik dari ketua MUI. Alasan beliau, penggunaan kondom akan menyuburkan seks bebas karena bisa dipakai siapa saja termasuk remaja, bukan hanya pasangan suami istri. Langkah efektif adalah kembali kepada agama. Menkes pun mengakui bahwa apabila kembali kepada agama, takkan terjadi seks bebas dan narkoba (bbc.com, 1/12/2012).

Mari kita lihat bagaimana agama, terutama Islam mampu menuntaskan masalah HIV/AIDS. Tuntas dan tak menyisakan masalah pada aspek yang lain.

Islam telah mengatur sistem pergaulan Islam dengan lengkap. Upaya preventif dijalankan berlandaskan keimanan. Mulai dari kewajiban menundukkan pandangan bagi laki-laki dan perempuan beriman, menutup aurat, larangan tabarruj bagi perempuan, dan larangan khalwat. Larangan ikhtilath (campur baur) tanpa keperluan yang dibolehkan oleh Syara’. Upaya kuratif pun sudah ada dengan sanksi tegas bagi pelaku pezina. Hingga akan membuat berpikir ribuan kali bagi yang berniat melakukan zina demi melihat pelaksanaan hukuman bagi pezina.

Sebelum sampai pada upaya kuratif. Sistem Islam pun sudah membangun masyarakat yang diselimuti ketakwaan. Masing-masing anggota masyarakat akan saling berlomba dalam kebaikan demi meraih ridho Allah dan beramar ma’ruf nahiy munkar. Sistem seperti inilah yang mampu meruntuhkan fenomena gunung es kasus HIV/AIDS.(jejakrekam)

Penulis adalah Praktisi Pendidikan di Kalsel