Husairi Abdi

Penulis Muda dari Komunitas Arkalitera Bedah Buku Antologi Puisi Hajriansyah

0

KAMPUNG Buku Banjarmasin menggelar ajang Ngobrol Seni dan Sastra (Ngobrass) menghadirkan narasumber dari komunitas Arkalitera yakni Rizky A Setiawan, Musa Bastara dan Syahrul Chelsky. Mereka mengupas buku antologi Jalan-jalan, Senang-senang, Mati. Menjemput Abajada, Sabtu (22/1/2022).

BUKU ini berisi antologi puisi karya Hajriansyah. “Ada dua puisi dari 40 karyanya bertema tentang perjalanan kehidupan Hajriansyah. Kereligiusan penulisnya terasa banget, dan dipadukannya dalam nilai lingkungan tersebut. Nilai ketuhanan memang sangat mendominasi dalam karya puisinya,” ungkap Syahrul Chelsky selaku pembedah.

Syahrul menyampaikan, puisi-puisi Hajriansyah terdapat banyak pilihan kata (diksi) yang asing didengar oleh masyarakat awam, seperti diksi Darwis, Menenung dan sebagainya.

“Sebenarnya diksi yang digunakan itu baku aja, namun jarang digunakan orang dalam berbahasa. Dan ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),” ujarnya.

BACA JUGA: Film Dialog Kuliner Ungkap Bagaimana Makanan Bisa Jadi Sarana Persatuan Warga

Selain itu, Syahrul melihat gaya penulisan yang selalu dimainkan oleh Hajriansyah dalam menyusun diksi, kerap dipisah-pisahnya atau maju mundur didalam lariknya. Ia juga telah menelaah 40 puisi Hajriansyah secara serius, yang diulang-ulangnya beberapa kali hingga mematangkan analisisnya. “Sudah dibaca semua, dan dibaca beberapa kali puisi-puisinya itu. Tiga kali diulang,” katanya.

Sementara, Musa Bastra menangkap tiga komponen yang kuat dalan perpuisian Hajriansyah dan temanya sangat bernilai lokalitas, yang mempengaruhi perjalanan kehidupan pribadinya.

BACA JUGA: Apresiasi Seni Yang Minim Di Tengah Karya Terbaik Maestro Banua

“Dalam hasil pembacaan saya, setidaknya saya menemukan tiga komponen yang memberi kesan adanya kesatuan integral tema lokalitas dalam cerpen-cerpennya: ekologis, mitologis (mithe), dan sosio-kultural,” ungkap Musa.

Dari 10 cerpen, kata Musa, tema lokalitas yang mengandung ketiga aspek itu merupakan perjalanan spritulitas kehidupan Hajriansyah, yang mendominasi dari karya-karya cerpennya tersebut. Di antaranya yaitu 3 cerpen bernilai ekologis, 4 cerpen mitologis dan 3 sosio-kultural.

“Benar saja, bila saya harus menciutkannya lagi, maka semuanya bermula atau bersumber dari satu titik kecil bernama kegelisahan. Adapun dalam cerpen penulis mempunyai kecenderungan menutup cerita berupa permenungan dan bumbu suasana,” katanya. (jejakrekam)

Penulis Rahim

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.