Didominasi Batubara, Volume dan Nilai Ekspor Kalsel Alami Peningkatan di Tahun 2022

0

KEPALA Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi Kalimantan Selatan, Birhasani mengungkapkan volume dan nilai ekspor hingga November 2022 tetap menjadi pendorong tertinggi bagi pertumbuhan ekonomi Kalsel.

MESKI perkembangan ekspor Kalsel dari bulan ke bulan menunjukkan terkadang alami penurunan, Birhasani menegaskan tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap nilai dan volume ekspor tahun 2022.

“Bahkan, sepanjang tahun 2022 hingga data terakhir November, justru terjadi kenaikan nilai dan volume ekspor. Dari sisi neraca perdagangan Kalsel, yakni ekspor berbanding impor, tentunya mengalami surplus,” tutur Birhasani kepada jejakrekam.com, Minggu (1/1/2023).

Menurut dia, Kalsel bertengger dalam 10 besar daerah provinsi yang punya andil ekspor nasional. Di sisi lain, kegiatan impor ke Kalsel juga turut mewarnai sepanjang tahun 2022. “Namun, volume dan nilai impor jauh lebih kecil dibandingkan ekspor Kalsel pada tahun 2022 lalu,” kata Birhasani.

BACA : Selain Batubara dan Sawit, Ini Produk Andalan Ekspor Kalsel ke Berbagai Negara

Menurut dia, barang impor yang masuk ke Kalsel lebih didominasi bahan baku industri dan peralatan peralatan atau mesin industri. Dari sisi lain, barang impor lainnya sangat kecil, seperti berupa peralatan atau keperluan rumah tangga yang bersifat pribadi. 

“Justru, terjadinya impor berdampak pada peningkatan aktivitas industri dan peningkatan produksi. Ujung-ujungnya, justru bisa meningkatkan volume dan nilai ekspor Kalsel berikutnya,” tutur Birhasani.

Secara garis besar, Birhasani mengungkapkan dari data menunjukkan ada lima besar komoditas atau produk ekspor Kalsel. Paling utama masih ditempati produk tambang; batubara, produk sawit, produk kayu, karet alam dan produk perikanan.

BACA JUGA : Harga Batubara Dunia Melonjak 202 Persen, Nilai Ekspor Kalsel Naik Drastis

“Dari lima komoditas atau produk tersebut yang mendominasi atau yang sangat potensial adalah produk pertambangan atau batubara,” kata Birhasani.

Ia tak memungkiri nilai atau volume ekspor Kalsel masih sangat bergantung pada batubara. Tak mengherankan, jika terjadi penurunan akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi Kalsel.

Neraca Perdagangan Kalsel sepanjang tahun 2022 dari data Dinas Perdagangan Provinsi Kalsel. (Foto Istimewa untuk JR)

“Selain batubara, ternyata sepanjang tahun 2022 justru ada beberapa jenis ekpor lainnya seperti produk hewani, tanaman, rempah-rempah, produk nabati, produk olahan dan lainnya mengalami pergerakan positif, walau dari segi nilai tidak terlalu besar,” papar Birhasani.

BACA JUGA : APINDO Kalsel Ekspor Sasirangan dan Tas Purun ke Amerika

Ke depan, menurut dia, guna meningkatkan nilai dan volume ekspor Kalsel maka perlu dikembangkan lagi melalui program intensifikasi hilirisasi industri.

“Sedangkan, pada tahun 2023, diprediksi Kalsel tetap sebagai salah satu daerah yang masuk dalam 10 besar provinsi yang berkontribusi terhadap ekspor nasional. Memang, produk tambang seperti batubara masih menempati posisi teratas dalam menyokong nilai ekspor Kalsel,” kata Birhasani. 

Dia hakkul yakin jika Kalsel bisa membangun hilirisasi produk batubara maupun hilirisasi komoditas lainnya, maka nilai ekspor Kalsel akan berlipat ganda. “Para ekonomi juga memprediksi pada 2023 akan terjadi resesi global. Tentu, kita tak berharap itu terjadi di Kalsel, umumnya di Indonesia,” ungkap Birhasani.

BACA JUGA : Saingi Batubara, Nilai Ekspor Pertanian Kalsel Tahun 2021 Capai Rp 10,5 Triliun

Menurut dia, negara atau daerah yang bisa bertahan terhadap ancaman krisis global adalah memiliki ketahanan pangan yang kuat. Artinya, tidak bergantung dengan daerah lainnya.

“Termasuk pula, daerah yang kaya dengan potensi alamnya baik tanaman pangan, perkebunan, serta sektor pertanian lainnya maupun sumber daya alamnya. Inilah mengapa Kalsel harus didukung hilirisasi industri yang kuat,” imbuh Birhasani.(jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.