Mengawal Pembangunan Kota Banjarmasin, Infrastruktur Berbasis Kewilayahan

0

Oleh : Sukhrowardi

SESUAI target yang diberikan kepada pelaksana kerja Jembatan Sulawesi atau yang lebih dikenaĺ Jembatan Pelamangan, dengan panjang grider melengkung 30 meter dan lebar 8 meter kini tinggal menghitung hari untuk diresmikan pemakaiannya.

DIRENCANAKAN pada akhir Desember 2022, sudah selesai pekerjaan dan dapat dinikmat terutama untuk warga Banjarmasin Utara dan warga Banjarmasin Tengah, minimal pada awal tahun 2023 mendatang.

Pengerjaan jembatan ini sempat tertunda akibat lambatnya pelaksanaan lelang dan anggaran bantuan (pemerintah) pusat. Ini ditambah akibat adanya pandemi Covid-19 yang semua kegiatan pembangunan di-reposing guna mengatasi pandemi selama masa waktu 2,5 tahun.

Konsistensi pemerintah kota di bawah kepemimpinan Ibnu Sina-Hermansyah, dan kini Ibnu-Arifin Noor membangun infrastruktur berbasis kewilayahan seperti Jembatan Bromo. Jembatan Gerilya dan Jembatan HKSN, serta jembatan kembar Jembatan Sulawesi atau Pelamangan Utara dan Tengah, tentu berkat dukungan sinergi dengan legislatif periode 2019-2024 yang mempunyai visi yang sama.

BACA : Kejar Target Selesai Akhir Tahun, Proyek Jembatan Sulawesi 2 Kembali Dilanjutkan

Bahwa Banjarmasin kota yang memiliki luas wilayah 92 kilometer dan berbatasan Kabupaten Batola dan Banjar juga sebagai lintas Provinsi Kalteng, tentu menjadi kaharusan membuka diri dan terdesak transportasi daratnya oleh kemacetan.

Kota Banjarmasin juga berperan strategis untuk kegiatan perekonomian wilayah Kalsel ditopang adanya pelabuhan laut nasional dan internasional Trisakti.

Jembatan Sulawesai atau lebih familiar disebut sebagai jembatan Pelamangan di era tahun 90-an,  selama ini fungsi memperlancar transpotasi antarwilayah, Juga didesain guna mendukung kawasan Masjid Jami yang berdiri sejak lama, sebuah mesjid tua dengan arsitektur Banjar asli.

BACA JUGA : Tender Sempat Tertunda, Dinas PUPR Banjarmasin Optimistis Jembatan Sulawesi 2 Rampung Akhir 2022

Tentu saja, banyak ulama-ulama kondang di zamannya.  sebut saja almarhum KH Hanafi Gobet, KH Usman Abdulah, KH Kastalani, Guru Tani, KH Zunaidi  hingga jamaahnya ribuan. Disetiap ceramah malam Jumat dan minggu, yakni KH Zuhdian Noor yang familar disapa Guru Zuhdi yang wafat dalam usia sangat muda di tengah umat rindu akan ulama sejuta umat KH Zaini Abdul Ghani atau Guru Izai yang wafat duluan,

BACA JUGA : Masjid Jami Banjarmasin Memutih, Haul Akbar ke-2 Guru Zuhdi Berlangsung Khidmat

Dengan selesainya Jembatan Kembar Sulawesi ini menambah indah dan teraturnya kawasan Mesjid Jami, dapat benar-benar mendukung terwujudnya kawasan wisata religi di tempat itu. Sekarang, pedestirian jalan dan toko-toko pakain dan kuliner di pinggir jalan lebih tertata rapi.

Begitu pula, dari jembatan pertama arah Kampung Arab menyeberang kawasan Antasan Kecil Timur, di mana sepeninggal Guru Zuhdi yang sekarang makam beliau menjadi kunjungan peziarah dari berbagai daerah, menjadi terbuka dari kemecaten.

BACA JUGA : Trotoar Jalan Masjid Jami Mulai Terlihat, Proyek Pelebaran Jalan Terus Dikebut

Kita berharap dan terus mengawal pembangunan Pemerintah Kota Banjarmasin mewujudkan kawasan Masjid Jami benar-benar menjadi kawasan religi. Di mana, majelis zikir atau pengajian rutin oleh ustadz penerus, dan masih ada KH Husin Nafarin, yakni Ketua Umum MUI Kalsel dengan sekolah agama STIH Al Jami berjalan. Bahkan, terus berkembang dipenuhi para santrinya melaksanakan aktivitas di sana.

Di samping rumah-rumah di pinggir sungai, tepi jembatan sungai Jembatam Kembar Sulawesi akan segera ditata sehingga sungai yang di kawasan Masjid Jami pintu masuk  menuju Pasar Terapung, Muara Kuin menjadi lebar, kembali seperti di zaman tahun 1980-an hingga tahun 1990-an. Banjarmasin Utara dan sekitarnya diharapkan juga terbebas dari genangan air alias calap dan banjir di musim penghujan tiba.(jejakrekam)

Penulis adalah Anggota Fraksi Golkar DPRD Kota Banjarmasin

Editor Ipik Gandamana

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.