Tatas, Ibukota Kesultanan Banjarmasin

0

Oleh : Setia Budhi

ABAD ke-17 dan 18 Kesultanan Banjarmasin sangat dipengaruhi oleh perdagangan lada. Oleh karena letaknya yang strategis di tepi Laut Jawa dan Selat Makassar yang menjadi jalur perdagangan di Kepulauan Indonesia.

MAKA tak mengherankan jika Pulau Tatas, Ibukota Kesultanan Banjarmasin yang terletak Sungai Martapura dan bermuara Sungai Barito, tumbuh menjadi pelabuhan yang ramai disinggahi oleh kapal dagang yang melewati jalur itu.

Migrasi pedagang-pedagang dan Pantai Utara Jawa yang menghindarkan diri dari tekanan Sultan Agung dari Mataram pada pertengahan abad ke-17 mendorong perkembangan perdagangan di Banjarmasin.

BACA : Melacak Jejak Keraton Banjar, Apakah di Kuin atau Pulau Tatas?

Tatas berkembang menjadi pelabuhan pembongkaran dan pemuatan barang dari dan ke Banjarmasin. Terutama pedagang dari Cina, Jawa dan Makasar memegang peranan penting dalam perdagangan. Mereka membawa porselen, beras, garam, teh dan budak, sebaliknya Banjarmasin menyediakan hasil hutan rotan, emas, intan dan lada.

Komplek Keraton Kesultanan Banjar di Martapura yang berada di deretan Sungai Martapura. (Foto KITLV Leiden)

Permintaan lada yang semakin bertambah dari Cina dan perhatian VOC yang semakin besar terhadap Banjarmasin. Ini ketika kepentingannya untuk mendapatkan lada dipersulit oleh penguasa Banten pada sekitar tahun 1661. Hal ini mendorong penduduk Banjarmasin untuk meningkatkan hasil ladanya.

BACA JUGA : Istana Sultan Banjar Mewah Karena Melimpahnya Lada

Tiga tahun kemudian yaitu pada tahun 1664 EIC berusaha mengadakan hubungan dagang dengan Sultan Mustain billah (1650-1678) dan diizinkan berdagang di Tabanio.

EIC adalah East India Company, atau Perusahaan Dagang Hindia Inggris, didirikan di London pada tahun 1600. Sedangkan VOC adalah Perusahan Dagang Hindia Belanda. EIC dibangun oleh para pedagang Inggris untuk memonopoli perdagangan ke dan dari Hindia Timur (India dan Indonesia).

BACA JUGA : Dari Benteng Tatas Menjadi Masjid Raya Sabilal Muhtadin

Abad ke-17 dan ke-18 itu, Perserikatan Dagang Hindia Timur (VOC), yang didirikan pada tahun 1602. Tidak lama sesudah kelahirannya, badan ini berhasil menyingkirkan orang Portugis, yang satu abad sebelumnya telah membangun imperium perdagangan di Asia, dan hampir menyisihkan saingannya IEC di perdagangan Asia-Eropa.

Benteng Tabanio yang menjadi pos pemeriksaan oleh Kolonial Belanda terhadap kapal-kapal dagang yang akan memasuki wilayah Banjarmasin. (Foto Bubuhan Banjar)

Pada masa awal perkembangan lada di belahan kedua abad 17 Sultan Mustainbillah dan penggantinya Sultan Inayatullah (1678-1685) mengadakan hubungan perdagangan bebas dengan pedagang Cina, Bugis, VOC dan EIC.

BACA JUGA : Melintas Batas Benteng Tatas, Dibina Inggris hingga Bumi Hangus

Hubungan perdagangan yang semakin erat antara Banjarmasin dengan EIC terjadi pada masa pemerintahan Sultan Saidilah (1685-1700) karena sultan mengijinkan orang-orang-orang Inggris mendirikan kantor dagangnya di Pasir dengan sebuah perjanjian pada sultan.

Sebaliknya di bawah pemerintahan Sultan Tahililah (Panembahan Kusumadilaga 1700-1745) orang-orang Inggris diusir dari Tabanio setelah terjadi konflik bersenjata untuk memperebutkan jalur perdagangan yang strategis yang menghubungkan pelabuhan Tatas dengan Pasir.

BACA JUGA : Dari Benteng Tatas, Tata Kota Banjarmasin Digagas

Menilik sejarah perdagangan Belanda, Inggris di Banjarmasin dan Tatas sebagai pelabuhan terpenting, maka dapat dikatakan bahwa pelabuhan tatas sebagai kunci permanen hubungan perdagangan Banjarmasin dengan Eropa terutama VOC dan EIC dalam komuditas Lada. Jadi, kalau begitu Tatas adalah ibukota perdagangan Kesultanan Banjarmasin.(jejakrekam)

Penulis adalah Ketua Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin

Peneliti Sejarah dan Doktor Universiti Kebangsaan Malaysia

Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.