ACT

Istana Sultan Banjar Mewah Karena Melimpahnya Lada

0 498

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

KEMEWAHAN Kayutangi Palace atau Istana Kayutangi benar-benar mengesankan bagi Johan Andreas Paravicini. Komisaris dagang VOC Belanda yang menjalani misi perdagangan dengan Sultan Banjar pada 1756 pun harus melontarkan decak kagumnya.

JOHAN Andreas Paravinci menggambarkan sebuah istana mewah. Ia berbicara tentang tongkat kekuasaan Sultan dan mahkota yang tertutup emas dan dihiasi dengan berlian dan berkilau batu berharga. Selain itu, wilayah Kayutangi juga terkenal dengan tanaman lada yang berlimpah dan produk hutan yang diekspor ke Tiongkok.

Namun, kekayaan yang daerah tidak ditujukan bagi kesejahteraan petani. Bagi mereka, semakin berkembang perdagangan, berarti hanya satu hal, pemaksaan dan penindasan kepada mereka, karena sultan dan anggota keluarga kerajaan dan pengadilan para pejabat tidak akan ragu untuk memaksa petani lada melepaskan hasil panen mereka.

Tampaknya perjanjian ini ditindak lanjuti, hal itu terbukti pada 04 September 1635, Kerajaan Banjarmasin yang diwakili oleh Syahbandar Godja Babouw menandatangani kontrak dengan VOC Belanda di Batavia yang berisi menyetujui tentang urusan pembelian lada, aturan bea cukai dan penaklukan Pasir serta Kutai. 

Hingga, Kerajaan Pasir diserang, ketika mereka menolak menyerah. Begitu pula, Kerajaan Kutai berjanji akan mengakui kekuasaan Kerajaan Banjar serta monopoli lada VOC.

Penyebab Kerajaan Banjar begitu berambisi untuk menaklukan Paser dan Kutai adalah karena kedua daerah tersebut merupakan kekuasaan orang Makasar sebagai daerah produksi kapal, armada dagang dan perang. Bahkan, dari kedua daerah tersebut mereka sering merampok lada ke daerah Tabalong.

Munculnya Bandarmasih karena Perdagangan Lada di Tatas (sekarang Masjid Sabilal Muhtadin)

Keberadaan Bandarmasih atau juga disebut Banjarmasih sebagai bandar dagang dikarenakan perpindahan pusat kekuasaan dari ibukota Nagara Daha di Muara Hulak ke Bandarmasih yang sekarang dikenal sebagai Banjarmasin. Kemudian bandar dagang ini semakin berkembang akibat agama Islam yang membuat kontak dagang semakin meluas.

BACA : Ada Lada Nagara, Tanah Laut dan Kayutangi yang Bawa Kemakmuran

Perpindahan rute perdagangan pada abad 17 yang melewati Makasar-Banjarmasih-Pattani-Cina atau Makasar-Banjarmasih-Banten-India, turut membuat Banjarmasih seperti poros tengah jalur dagang, hingga posisinya semakin dilirik. Hingga akhirnya Bandarmasih di Kuin semakin ramai.

Tahun 1635, Tatas merupakan sebuah loji dan kantor dagang VOC dibawah pimpinan Wollebrandt Gelenysen de Jonge.  Kurun waktu 1700-1800 setidaknya memunculkan tatas sebagai pelabuhan dagang yang ramai sebagai akibat dari Kuin yang dibakar. Pembakaran tersebut disebabkan adanya perang antara Anglo (Inggris) dengan Kerajaan Banjar.

Laporan Hamilton menyebutkan bahwa pada tahun 1701 pasukan Banjar dibantu 3000 orang Biaju menyerang Inggris, oleh karena itu pusat kegiatan kota dipindahkan ke Tatas. Ramainya aktifitas dagang di Tatas, membuat daerah sekitarnya menjadi berkembang. Perkembangan tersebut dimulai dari Sungai Miai sampai ke Pulau Kalayan.  Hal tersebut membuat VOC melirik tatas sebagai pusat aktifitas mereka.

Perdagangan Lada Merosot karena Perenutan Lahan, Politik dan Faktor Alam

Perdagangan merosot akibat kebun lada dihancurkan. Sedangkan, komoditi lada merupakan salah satu sumber devisa yang terpenting bagi kesultanan Banjarmasin. Akibat dari perdagangan merosot, maka kekayaan negara juga merosot dan akhirnya lemah, sehingga menjelang abad ke-19 Kerajaan Banjarmasin menghadapi Belanda yang sudah cukup kuat, sedangkan kesultanan sudah sangat lemah.

Abad ke-18 ditutup dengan meninggalnya Sultan Nata Alam, sultan terbesar dalam Kerajaan Banjar yang meninggal pada tahun 1801. Kepemimpinan tradisional memang diwarnai oleh faktor kharismatik, profil seorang pemimpin tradisional, disamping memiliki darah bangsawan, tetapi juga memiliki olah batin yang memadai.

BACA JUGA : Ditanam Sejak Sultan Suriansyah, Banjarmasin Pusat Lada Dunia

Olah batin Sultan Banjarmasin, dilandasi agama Islam, yang dapat terefleksi lewat kearifannnya dalam memimpin pemerintahan. Sultan Hamidullah (Sultan Kuning) dan Nata Alam, pemimpin yang dapat menstabilkan pemerintahan, sehingga kesultanan Banjarmasin pada waktu kedua pemerintahan ini, mengalami kemajuan yang pesat di bidang ekonomi, pihak-pihak asing tidak dapat merongrong kesultanan.

Pada sisi lain, mundurnya perdagangan lada di Banjarmasin karena dampak perang perebutan kekuasaan, rakyat pergi ke daerah lain yang lebih aman.  Hal ini menimbulkan pengaruh besar terhadap hasil komoditi perdagangan, karena penduduk tidak hanya meninggalkan rumahnya namun juga lahan pekerjaan mereka. Korban jiwa dikalangan rakyat akibat perang juga mengakibatkan berkurangnya tenaga kerja.

Mundurnya perdagangan pada akhir abad ke 18, juga disebabkan penanaman lada yang membuat ekosistem tidak seimbang. Terjadinya erosi, mengakibatkan pendangkalan terhadap sungai yang berakibat sulitnya kapal memasuki wilayah Banjarmasin. di tambah lagi terjadinya kemarau panjang dari tahun 1776 juga menjadi sebab permukaan air sungai menurun.

Dapat disimpulkan bahwa monopoli perdagangan yang dilakukan oleh VOC Belanda hingga pertikaian antar kerabat istana dalam perebutan takhta telah menjadi sebab mundurnya perdagangan. Pada akhirnya mendorong sebagian rakyat untuk mengalihkan usahanya dan mulai menanam lahan pertanian lain seperti, karet, tembakau dan paling terutama adalah menanam padi untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

BACA LAGI : Identifikasi Struktur dan Perubahan Lanskap Banjarmasin di Masa Kesultanan (1526-1860) (3- Habis)

Jadi, dapat diketahui bahwa pada abad ke-18, Kesultanan Banjarmasin merupakan salah satu pusat perdagangan di Nusantara. Berkembangnya perdagangan disebabkan oleh peran sultan yang telah berupaya mengembangkan perdagangan dengan berbagai cara. Di antaranya dengan cara, perluasan ekspansi ke pedalaman, keamanan dan kenyamanan yang diberikan oleh sultan terhadap para pedagang dalam melakukan transaksi perdagangan di Banjarmasin.

Hal ini juga dipicu akibat monopoli hasil bumi, dengan cara mewajibkan kepada rakyatnya untuk menyerahkan hasil buminya kepada sultan, yang kemudian hasil bumi ini dijual oleh sultan kepada para pedagang yang datang ke Banjarmasin. Semua itu telah menjadi bukti bahwa peran sultan sangat menentukan berkembangnya perdagangan di Kesultanan Banjarmasin.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.