Husairi Abdi

Jangan Jadi Keranjang Kosong, Revitalisasi Bahasa Bakumpai Harus Digalakkan

0

BANYAK tantangan dihadapi dalam revitalisasi bahasa Bakumpai ke depan. Ini karena, bahasa sub Dayak Ngaju ini diyakini belum bisa membumi akibat banyak kendala yang dihadapinya.

HAL itu dipaparkan Nasrullah, antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin dalam Seminar/Webinar Nasional  Seri 02 Kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB) Kalimantan Tengah di Kafe Kampung Sebrang, Palangka Raya, Kamis (16/12/2021).

Dalam makalahnya berjudul Revitalisasi Bahasa Bakumpai dan Tantangan di Masa Sekarang, Nasrullah membeber soal bahasa Bakumpai, genealogi, identitas dan pelestariannya. Sebagai pembuka, Nasrullah mengungkap sebuah buku lawas karya KH Haderanie berjudul Ilmu Ketuhanan Ma’rifat Musyahadah, Mukasyafah, Mahabbah (4M).

“Ini merupakan buku pertama yang saya temukan memuat kalimat dalam bahasa Bakumpai sekitar tahun 1994-an. Membicarakan bahasa Bakumpai merupakan sesuatu yang vital, karena bahasa merupakan garda depan dari kekhasan kebudayaan Bakumpai sebagai bagian dari suku bangsa Dayak,” papar dosen program studi pendidikan sosiologi FKIP ULM Banjarmasin ini.

Menurut Nasrullah, pada dasarnya istilah Bakumpai mengacu pada etnis atau bahasa yang digunakan oleh orang Bakumpai. Kemudian, nama satu wilayah yang berada di kota Marabahan dan sekitarnya.

“Bakumpai juga dikaitkan dengan nama tanaman sejenis rumput yang tumbuh di tepi sungai. Maka Bakumpai yang digunakan adalah mengacu pada pengertian etnis atau bahasa,” ucapnya.

BACA : Membumikan Istilah Tren Saat Pandemi Covid-19 dalam Bahasa Bakumpai

Masih menurut dia, istilah revitalisasi menunjukkan sangat penting untuk mengembalikan fungsi bahasa sebagai sesuatu yang sangat vital baik dalam kehidupan sehari-hari dan terutama dari sudut pandang antropologis sesuai dengan keilmuan.

“Bahasa sangat terikat pada bagaimana pendukungnya menempatkan pada posisi tertentu sehingga kondisi /karakter mendukung bagaimana perkembangan bahasa,” kata antropolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Nasrullah mengutip Antropolog Levi-Strauss yang memandang bahasa dan kebudayaan sebagai hasil aneka aktivitas yang pada dasarnya mirip atau sama.

Aktivitas ini berasal dari apa yang disebutnya sebagai tamu tak diundang (uninvited guest) yakni nalar manusia (human mind).

“Jadi ada semacam korelasi antara bahasa dan kebudayaan bukanlah karena adanya semacam hubungan kausal (sebab-akibat) antara bahasa dan kebudayaan, tetapi karena keduanya merupakan produk hasil dari aktivitas nalar manusia,” paparnya mengutip pendapat guru besar antropologi Fakultas Budaya UGM Yogyakarta, Heddy Shri Ahimsa-Putra.

BACA JUGA : Jadi Muatan Lokal, Bangga Berbahasa Bakumpai Harus Dibangkitkan

Menurut Nasrullah, ada dua hal utama mencakup tantangan dan revitalisasi bahasa Bakumpai baik secara lisan maupun tulisan hingga konteks kekinian. Nasrullah berpendapat tantangan bahasa Bakumpai sebagai lingua franca sepanjang Sungai Barito yang pada awalnya digunakan para pedagang, pejuang Bakumpai dan migrasi orang Bakumpai ke hulu Barito, Katingan, hingga Kalimantan Timur.

“Dari waktu ke waktu tentu akan mengalami tantangan yang dapat mengakibatkan penggunaan bahasa Bakumpai dalam praktik sehari-hari ditinggalkan yang diisebabkan pada beberapa hal,” beber sarjana agama IAIN (UIN) Antasari ini.

Pertama, menurut Nasrullah, bahasa Bakumpai sebagaimana bahasa daerah pada umumnya merupakan bahasa yang pasif, ia tidak membumikan bahasa teknologi ke dalam bahasa lokal. Bahasa Bakumpai kesulitan membumikan istilah “handphone”, “kouta”, “follow”, dan lain sebagainya. “Penutur Bakumpai hanya mampu memodifikasi tulisan asing ke dalam gaya Bakumpai,” katanya.

BACA JUGA : Bahasa Bakumpai Diseminarkan, KKB Palangka Raya Helat Muscab

Kedua, kata Nasrullah lagi, penutur bahasa Bakumpai ada yang mengutamakan perasaan malu menggunakan bahasa ibu menghadapi persaingan dengan bahasa lain. Ini tidak hanya ditemukan pada daerah perkotaan, tetapi juga pada kawasan pedesaan yang semestinya mempertahankan bahasa Bakumpai.

Nasrullah mengatakan fenomena ini membutuhkan penjelasan lebih jauh, sebab tidak serta merta desa tetangganya ikut latah menggunakan bahasa lain dalam percakapan sehari-hari.

“Ketiga, bahasa Bakumpai sangat kuat dalam praktik keberlisanan. Dengan kata lain, bahasa Bakumpai masih aman ketika berada dalam zona unconscious (ketidaksadaran) melalui percakapan sehari-hari,” ucapnya.

Hanya saja, menurut dia, sedikit saja bahasa Bakumpai digeser penempatannya, seperti dalam sambutan pada rapat resmi, apalagi pidato berbahasa Bakumpai, sepanjang yang diketahui hal tersebut akan sulit dilakukan. Belum lagi jika bahasa Bakumpai ditransformasikan ke bahasa tulisan. Meskipun demikian, ada beberapa tokoh Bakumpai justru fasih berbahasa Bakumpai dalam acara resmi. Seperti H Abdussamad Sulaiman HB, H. Adriannopel Samudera, Badriansyah Mudjidi, dan H Hasanuddin Murad, sering menggunakan kosa kata Bakumpai dalam sambutannya.

BACA JUGA : Berburu Kosa Kata, Dosen UPR Susun Kamus Bahasa Bakumpai-Indonesia

“Keempat, bahasa Bakumpai belum disajikan dalam narasi atau teks keagamaan oleh para tokoh agama Islam yang orang Bakumpai sendiri, kecuali hanya sedikit misalnya dalam buku Ilmu Ketuhanan Ma’rifat Musyahadah, Mukasyafah, Mahabbah (4M) setebal 232 halaman terdapat kutipan “Uluh ji jida maku mangatawani kungaie, sama beh dengan lanjung buang,” tuturnya.

Nasrullah menjelaskan tentu yang yang ingin disampaikan dalam diskusi bukan pada ajaran tersebut, melainkan pada penggunaan bahasa Bakumpai secara tertulis yang nyaman dibaca dan terkesan tidak dipaksa atau bukan seperti bahasa Indonesia yang di-Bakumpai-kan.

Sebagai perbandingan teks keagamaan Islam, Nasrullah mengatakan menemukan secara penuh memuat bahasa Ngaju yakni buku Pamawat (Memelihara) setebal 32 halaman dalam kata pengantar. “Pahimatkoe mangarang soerat djetuh, dia idje handak mamparahan kaharatingkoe, djete dia sama sinde. Malengkan handak mawat uluh are, oeka awen te ela sampai tame golongan ewen idje moesjrik (tulisan Abdurrahman, tanpa tahun),” ungkapnya.

BACA JUGA : Kaya Kosa Kata, Secara Linguistik Bahasa Bakumpai Serupa Bahasa Bajau

Begitu pula, masih menurut Nasrullah, dalam teks buku setebal 186 halaman berjudul Palisang Oloh Kristen Manintoe Lewu Surga (Perjalanan Orang Kristen Menuju Kampung Surga) dalam kata pengantar ditulis Metoh ie 20 njelo oemoere, John kawin dengan oloh bawi, idje pambelom sama kilau ia kaboeat kea; tapi oloh bawi te oloh Kristen hoeing katotoe (Boenjan, 1928,).

“Saya teringat sekitar tahun 2004-an, waktu itu Profesor H Aswadie Syukur membuka pengajian kitab Sabilal Muhtadin yang pesertanya adalah kalangan dosen IAIN Antasari. Salah satu cerita beliau mengenai kesulitan menerjemahkan kitab Sabilal Muhtadin ke dalam bahasa Indonesia karena kitab tersebut tidak hanya dalam ditulis dalam bahasa Melayu juga bahasa Aceh,” paparnya.

Namun hal menarik adalah Prof Aswadie Syukur menceritakan bahwa dalam kitab Sabilal Muhtadin juga ada bahasa Bakumpai. Secara kebetulan saat itu, sang professor ini membaca kitab Sabilal Muhtadin yang terdapat bahasa Bakumpai. “Mun kada percaya, takuni lawan Inas” kata Aswadie Syukur secara tiba-tiba menghubungkannya dengan dirinya.

BACA JUGA : Melawan Ancaman Kepunahan, KKB Gagas Bikin Kamus Bahasa Bakumpai

Lantas bagaimana peluang revitalisasi bahsa Bakumpai di tengah tantangan beratnya? Nasrullah mengungkapkan hal yang dialami bahasa Bakumpai terutama bagi penggunanya, ternyata peluang revitalisasi terbuka lebar.

Peserta diskusi atau seminar bahasa Bakumpai di Palangka Raya, dihadiri warga Bakumpai di Kalteng. (Foto Istimewa)

Menurut dia, melalui bahasa Bakumpai, peluang revitalisasi itu dimulai, melalui kamus Bahasa Bakumpai. Hingga saat ini sudah ada beberapa kamus Bahasa Bakumpai yakni Kamus Bahasa Bakumpai I dan II (Ibrahim, Tarmini, dan Sumaryati, 1995), Kamus Bakumpai Indonesia (Rangga, 2007), Kamus Dwibahasa Bakumpai – Indonesia (Fauzi, 2019).

“Belum lagi upaya yang saat ini dilakukan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan untuk membuat kamus Bahasa Bakumpai. Barangkali masyarakat cenderung menduga pembuatan kamus hanya alih bahasa, tetapi tidak sesederhana itu, bahkan mendefinisikan pengertian nama buah durian pun ternyata cukup rumit,” ungkapnya.

Kedua, menurut Nasrullah, secara praktis melalui pesan pemerintah. Dirinya melihat pesan dari bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Satpol PP Kabupaten Barito Kuala di trotoar jalan Trans Kalimantan, kawasan Handil Bakti, bertuliskan “Ela Bajualan Si Hituh”.

“Sayangnya pesan melalui spanduk itu tak lama kemudian hilang, ikut hanyut terbawa banjir besar awal tahun 2021 tadi. Saya juga melihat ungkapan berbahasa Bakumpai dalam baju kaos petak danum akan anak ensu (tanah air untuk anak cucu) dari kelompok pemuda menggunakan stiker berbahasa Bakumpai,” paparnya.

BACA JUGA : Hadirkan Penutur Bakumpai dan Banjar, Diskusi Pemerkayaan Kosa Kata Dinamis

Ketiga, kata Inas-sapaan akrabnya, ada semangat untuk menamakan klub olahraga seperti sepakbola menggunakan bahasa Bakumpai. Klub-klub itu cenderung menggunakan nama binatang yang menunjukkan kekuatan dan ketangguhan.

“Keempat, diskusi berbahasa Bakumpai sebagaimana dilakukan akademisi, aktivis, hingga politisi membahas isu-isu kebudayaan sebagai dilakukan kelompok Hapakat: Diskusi Merawat Kebakumpaian di Kota Banjarmasin,” urainya

Kelima, beber dia, terlihat mudah tapi belum dilakukan yakni menyisipkan pepatah Bakumpai dalam pesan keagamaan, misalnya khutbah Jumat. Model seperti ini tentu lebih mudah dilakukan dibanding seandainya khutbah Jumat secara keseluruhan dalam bahasa Bakumpai.

“Seperti di kota Padang, saya sering mendengar khatib menggunakan bahasa Indonesia tapi menyisipkan pepatah bahasa Minang dalam khotbahnya,” ucapnya.

Inas juga mengamati kanal youtube Bakumpai Lucu (Komedi berbahasa Bakumpai) dan akun IG barasmundu_88 (dubbing Bakumpai) sebagai peluang revitalisasi Bahasa Bakumpai yang sangat kekinian.

BACA JUGA : Kalangan Intelektual Bakumpai Gelar Diskusi Bertajuk Wayah Danum, Kenangan, dan Pengalaman

“Hal ini sekaligus penawar pada tantangan bahasa Bakumpai bagian kedua, yakni ketika ada penutur asli yang malu menggunakan bahasa Bakumpai ternyata di media social bahasa Bakumpai justru diminati hingga puluhan ribu orang,” ungkap Inas.

Bagi dia, tantangan bahasa Bakumpai dapat menjadi tembok penghalang yang kuat jika tidak dihadapi dengan serius. Demikian pula, peluang-peluang melakukan revitalisasi dapat muncul dari berbagai kreativitas dan media yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya.

“Peluang tersebut juga dapat bersifat sesaat dan tertutup jika tidak dilakukan secara terus menerus. Maka revitalisasi ini dalam bahasa Bakumpai memerlukan orang atau institusi yang bajuju hetang (lebih dari serius) agar bahasa Bakumpai kembali menjadi sesuatu yang vital. Semoga budaya Bakumpai ida kilau lanjung buang (tidak seperti keranjang kosong) karena bahasa Bakumpai ditinggalkan penuturnya,” pungkas Inas.(jejakrekam)

Pencarian populer:www penajian ilmu marifat com
Penulis Iman Satria
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.