Husairi Abdi

Pegang Prinsip Huma Betang, Darius Dubut : Jika Merusak Alam Bukan Lagi Orang Dayak

0

KOMUNITAS Akademisi Sosiologi dan Antropologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bersama Ikatan Cendikiawan Dayak Nasional (ICDN) Kalsel menghelat diskusi filosofi Huma Betang: Belum Bahadat dan ekploitasi kawasan hutan. Seri kelima ini menghadirkan lintas daerah dari masyarakat Dayak di pulau Borneo.

PESERTA yang ikut diskusi virtual ini tak hanya dari Kalimantan Selatan (Kalsel), tapi ada pula dari Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Timur (Kaltim) hingga Sarawak dan Sabah, Malaysia, Jumat (26/11/2021) sore lewat aplikasi zoom.

Tokoh intelektual dayak, Dr Darius Dubut mengungkapkan perubahan iklim saat ini akibat ulah manusia yang tidak bersahabat dengan alamnya. Dalam aspek kearifan lokal, Darius orang Dayak mengatakan sangat bersahaja dalam kehidupannya, bahkan memandang antar manusia dengan alamnya sebagai sesama subjek, bukan subjek dan objek.

“Ketika kita melihat bencana ekologis, itu karena akibat mengganggu harmonisasi antara nilai kemanusiaan dan alamnya. Itu bentuk kemarahan hutan kepada kita,” ucap dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) GKE Banjarmasin ini.

BACA : Siap Lawan, Tokoh Dayak Loksado Wanti-Wanti Jangan Tambang Pegunungan Meratus

Kata Darius, sebagai orang Dayak maka seyogyanya harus memiliki konsep harmonisasi ini dalam menjalankan prinsip kehidupan. Takutnya, Darius mengkhawatirkan selama ini melupakan fungsinya sebagai orang Dayak dalam mempertahankan identitas diri dengan lingkungan sekitar. Bahkan, dalam halnya organisasi masyarakat (ormas) Dayak di bumi Kalimantan.

“Kita akan kehilangan kedayakannya jika tidak harmonis dengan alam. Kalau ormas-ormas Dayak ini semestinya harus memasuki subtansi kedayakan itu, bukan cuma permukaannya saja dalam pergerakan,” kritik doktor Islamologi lulusan STT Jakarta ini.

Peserta diskusi Dayakologi di lima provinsi Kalimantan dan Borneo; Sabah dan Sarawak. (Foto Rahim Arza)

BACA JUGA : ‘Urang’ Banjar Sebenarnya Dayak, Ini Teori yang Dikemukan Antropolog ULM

Menurut Darius, siapa pun yang merusak lingkungan maka merusak harmoni itu antara hubungan Tuhan, manusia dan lingkungannya. “Itulah konsep Huma Betang. Kitalah pemilik yang sah, rumah Kalimantan ini,” cetus penulis produktif buku-buku seputar kultur Dayak ini.

Darius menguraikan secara prinsip, harmonisasi dalam membangun toleransi itu patut dipandang dari segi kesadaran kemanusiaannya sendiri. “Ini harus dibangun lewat toleransi dengan siapa saja, baik lingkungan, manusia maupun kepada Tuhannya,” ucapnya memaparkan konsep ekologi dalam perspektif masyarakat Dayak Maanyan.

BACA JUGA : Antropolog UIN Antasari : Salah Kaprah, Justru Masyarakat Dayak Itu Pelestari Hutan

Masih menurut Darius, orang Dayak itu sangat egalitarisme dalam berkehidupan. Dalam bahasa lisan sehari-hari misalnya dengan kalimat ‘ikau’ itu bahasa yang sangat setara, sekalipun dalam berkehidupan maka sangat menjaga sekali dengan lingkungan.

“Jadi orang Dayak itu demokratis banget. Maka dalam halnya hubungan dengan alam, ia sangat menjaga betul. Karena itu wilayah sakral baginya, bukan memandang objek tetapi subjek. Saling mengasihi mereka dan jika diganggu, maka gerbang kekerasan terjadilah dan melanggar prinsip harmonisasi itu,” tegasnya.(jejakrekam)

Penulis Rahim Arza
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.