Populerkan Sasirangan, Cerita Eks Walikota Effendi Ritonga Temukan Toples Kain Sarigading

0

SEBUAH toples berisi kain Sarigading, bermotif batik jemputan, begitu menarik perhatian Effendi Ritonga bersama sang istri, ketika berkunjung di sebuah desa di pinggiran Kabupaten Banjar pada tahun 1985-an. Dari sini, kain Sasirangan pun populer dan menjadi produk bernilai ekonomis tinggi.

“WAKTU itu, saya melihat motifnya sangat khas. Jadi, terpikir kain ini bisa menjadi khas Banjarmasin, seperti kain batik yang ada di Pulau Jawa,” kenang Effendi Ritonga kepada penulis, beberapa tahun, saat menggelar diskusi soal kota di Menara Pandang pada Februari 2016 silam.

Walikotamadya Banjarmasin periode 1984-1989 ini pun mendapat informasi bahwa kain itu bertuah. Sebab digunakan sebagai media pengobatan tradisional yang dipasang sebagai ikat kepala, atau laung dalam tradisi Banjar.

“Saya melihat itu, motifnya antik, dan warnanya juga cerah,” ujar Effendi. Dia lantas memanggil para pengurus PKK Banjarmasin untuk membuat kain yang kemudian dikenal dengan Sasirangan. Kain yang berasal dari ‘sa’ berarti satu, dan ‘sirang’ bersinomin jelujur.

Motif Sasirangan yang bercorak warna kuning, cokelat, hitam, hijau, dan ungu, serta merah dengan ukiran khas gigi haruan dan daun sulur, dan sebagainya, kemudian dikembangkan Effendi Ritonga bersama sang istri dengan mengirim para pengrajin ke Danar Hadi di Yogyakarta.

BACA : Dikembangkan Era Residen Krosen, Kisah Kanal Oelin Hingga Kanal A Yani (2)

“Mereka belajar mewarna serta motif-motif jemputan dari kain Sasirangan. Hasilnya, ternyata sangat bagus,” tutur Effendi Ritonga. Nah, di Hari Jadi Kota Banjarmasin, mulai 24 September 1985 dan seterusnya, kain Sasirangan dipopulerkan Effendi Ritonga selaku ‘penguasa’ Balai Kota ke khalayak ramai.

“Ketika saya dipercaya jadi Ketua Kontingen Kalsel di PON XI di Jakarta, pada 9-20 September 1985, jaket para atlet dan ofisial bermotif Sasirangan. Ini bukti kebanggaan daerah dan identitas Banjarmasin,” kata purnawirawan TNI AD ini.

Walikotamadya Banjarmasin periode 1984-1989, HM Effendi Ritonga (Foto Dokumentasi Didi GS)

Pembuatan kain Sasirangan pun didorong menjadi industri rumah tangga, seiring dengan adanya kewajiban mengenakannya di hari Jumat di lingkungan pegawai negeri sipil (PNS) Pemkot Banjarmasin.

“Makanya, kain Sasirangan akhirnya bisa membumi. Begitupula, kewajiban memasang pin nama di baju PNS, juga berasal dari ide saya. Intinya, agar semua PNS itu bisa saling kenal,” kenang Effendi Ritonga.

BACA JUGA : Ada Konsep Baksa Kembang, Pengembangan Wilayah Banjarmasin Dihidupkan Lagi?

Warisan sang kolonel TNI AD ini adalah pola pembuangan sampah dengan menggunakan kantong plastik agar lebih mudah dibawa ke tempat pembuangan sementara (TPS) hingga ke tempat pembuangan akhir (TPA).

“Saya belajar dari Kota Padang, mengapa bisa bersih di sana? Ternyata, sampah itu dibungkus dalam kantong plastik, ditaruh di depan rumah, kemudian ada petugas yang mengangkutnya,” ucap Effendi.

Tak hanya itu, Effendi juga memberdayakan ‘pasukan kuning’—sebutan petugas sampah—, yang mengadopsi ala Surabaya. Kemudian para pejabat Dinas Kebersihan juga diberi handy talky (HT), agar lebih mudah berkoordinasi dengan sang walikota dalam penanganan sampah.

Asyik dalam menjalankan tugasnya selama empat tahun, baru Effendi Ritonga berpikir membangun perkantoran di tahun terakhir pada 1989.

“Bagi saya, Balai Kota itu bukan prioritas. Jika masyarakat sudah menikmati pembangunan, baru pemimpinnya berpikir untuk punya kantor. Makanya, saya sering blusukan meminjam istilah sekarang. Dari ujung ke ujung Banjarmasin sudah saya singgahi, bahkan saya naik jukung ke daerah pinggiran kota,” tutur Effendi.

Effendi Ritonga saat memimpin Sarasehan Seni Budaya Banjar di Banjarmasin pada Oktober 1988 (Foto Dokumentasi Effendi Ritonga)

BACA JUGA : Jadi Kalender Nasional, Sudah Lebih 30 Tahun Pasar Wadai Ramadhan Banjarmasin Dihelat

Agar Banjarmasin punya motto, Effendi pun mengajak para budayawan Banjar, seperti Hijaz Yamani (alm) merancangnnya. Hingga, akhirnya tercetus kata “Kayuh Baimbai” dan “Gawi Sabumi” menjadi motto Pemko Banjarmasin.

Maklum, Effendi yang penyuka sastra terkhusus puisi ini juga menghidupkan lomba cipta lagu Banjar, puisi Banjar, serta kekhasan daerah lainnya, hingga banyak melahirkan para sastrawan, budayawan dan seniman di eranya ketika Banjarmasin berulang tahun.

Kecintaan Effendi terhadap Banjarmasin tak cukup hanya di situ. Sang putra Batak ini pula yang awalnya merancang Pasar Wadai Ramadhan di depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin, meski sempat ditentang tokoh masjid terbesar di Kalsel itu, seperti Ustadz Rafli Hamdi.

“Namun dengan beradu argumen, demi mengangkat nama Banjarmasin, alhamdulillah bisa berdiri. Prosesi pembukaan Pasar Wadai Ramadhan langsung diawali Gubernur HM Said,” cerita Effendi.

BACA JUGA : Langgundi, Tenun Sarigading di Bawah Bayang Sasirangan

Ada makna filosofi Pasar Wadai itu, Effendi ingin mengingatkan bahwa Banjarmasin itu adalah kota sungai dan agamis. “Ya, Pasar Wadai itu berada di tepian Sungai Martapura, dan di sampingnya ada Masjid Raya Sabilal Muhtadin yang menjadi simbol keislamanan ibukota Kalsel,” ujar Effendi, ketika itu.

Tak salah jika desainer muda Vivi Zubedi pun pernah membawa harum kain Sasirangan saat diperagakan model internasional di London Fashion Week 2017. Bahkan, kain ini pun pernah dipakai Halima Haden, sang model yang juga mantan Miss Minnesota USA. Itulah sepenggal cerita Wakil Walikota Arifin Noor saat membuka Lomba Desain Motif Kain Sasirangan di Rumah Anno 1925 Banjarmasin, Sabtu (10/10/2021). (jejakrekam)

Penulis Asyikin/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.