Karmila Menjadi Anjing, Sebuah Ulasan

1

Oleh: Rizki Anggarini Santika Febriani

AGAKNYA abanyak yang menilai bahwa ulasan saya terhadap cerpen Menunggu Kembalinya Seekor Anjing karya Rafii Syihab kurang tajam dan menggigit. Saya menerima penilaian itu dengan alasan saya tidak begitu memahami pada awalnya apa isi cerpen ini. Namun, setelah banyak berdiskusi dan berefleksi, saya pikir saya sudah cukup paham dan mampu memberikan ulasan yang lebih tajam terhadap karya ini.

SEDIKIT pengantar terlebih dahulu Menunggu Kembalinya Seekor Anjing menceritakan mengenai Karmila yang memutuskan menjadi seekor anjing sejak suaminya tiba-tiba menghilang. Suaminya adalah satu dari sedikit orang yang masih bertahan untuk melawan tambang yang memasuki kawasan mereka dan mengakibatkan jalanan retak, sawah tidak subur dan kehidupan masyarakat terganggu. Pada awalnya, ada banyak masyarakat yang melawan tambang ini, namun perlawanan ini mulai redup seiring dengan iming-iming uang yang diberikan perusahaan.

Ada unsur magis  disini ketika suami Karmila, Irwan Pelo bertemu dengan Paul yang merupakan nama samaran Wiji Thukul yang digunakannya ketika berada di Kalimantan Barat. Mengingat meskipun setting waktu dan lokasi tidak disebutkan secara tersurat, penulis mengaku banyak unsur dalam cerpen ini diambil dari cerita nyata yang terjadi di kampung halamannya. Sehingga kita dapat membayangan bahwa cerita ini bersetting di Kalimantan Selatan pada sekitar tahun 2000-an ke atas. Ini terpaut sangat jauh dari rentang waktu Wiji Thukul terakhir terlihat di Pontianak sekitar tahun 1996.

Cerpen ini terbagi menjadi bagian-bagian, seperti potongan puzzle yang menurutku cukup sulit untuk disatukan, karena keterkaitan antara satu bagian dan bagian lainnya tidak erat. Ada 2 sudut pandang yang digunakan, sudut pandang “aku” yang digunakan untuk menceritakan tokoh Irwan Pelo dan sudut pandang orang ketiga yang serba tahu untuk menceritakan tokoh Karmila. Awalnya, saya tidak tahu siapa kah tokoh aku yang bertemu dengan Paul ini, sampai dijelaskan kembali oleh penulisnya. Mungkin saya akan mengetahui sosok aku jika sejak awal menceritakan tokoh aku, bukan tokoh Karmila.

Anjing dan Dehumanisasi Karmila

Semiotika terkait anjing ini menjadi tanda tanya sejak awal. Mengapa anjing? Mengapa bukan symbol hewan lain yang lebih dekat dengan kebudayaan masyarakat Banjar pada umumnya. Mengingat masyarakat Banjar yang mayoritas muslim selalu mengasosiasikan anjing dengan hal yang negative. Ini dijawab oleh penulis dengan mengatakan, “anjing itu adalah hewan yang setia dalam membela tanahnya.” Ketika Karmila memilih menjadi anjing, maka ia dimaknai sedang menjaga tanahnya.

Judul dari Menunggu Kembalinya Seekor Anjing juga dipilih karena secara jelas dalam salah satu dialog, Karmila mengatakan bahwa, “ya, suamiku anjing yang galak, tapi ia manis sekali.” Disini penulis seperti ingin mengatakan bahwa suami Karmila diibaratkan sebagai seekor anjing yang menjaga tanahnya dari tambang-tambang yang ingin merampas tanahnya.

Namun, ketika sosok Karmila digambarkan dengan begitu rendah, saya tidak menangkap makna perlawanan dengan menjadi anjing tadi. Penulis mendeskripsikan sosok Karmila dengan kalimat:

“Karmila berjalan serupa anjing dengan dua lutut dan tangannya, …. Pakaian compang-camping di tubuh kurus itu,….. Rambutnya panjang berantakan, penuh debu dan tanah serta lumpur yang menggumpal di ujung-ujung tangannya. Telapak tangannya penuh goresan seperti juga di banyak bagian tubuh lainnya. …. Ia hidup seperti anjing tanpa tuan.”

Apakah deskripsi tersebut menggambarkan seseorang yang sedang berjuang untuk menjaga tanahnya dan menuntut keadilan atas hilangnya suaminya? Atau justru mendeskripsikan perempuan yang terkena gangguan jiwa karena kehilangan suaminya? Secara sekilas mungkin banyak pembaca akan memilih pilihan kedua bahwa Karmila menjadi anjing bukan sebagai bentuk perlawanan tetapi sebagai bentuk gangguan kejiwaan akibat peristiwa traumatik yang dialaminya.

Di sisi lain, karya ini bisa jadi juga sangat mencerminkan bagaiman masyarakat Indonesia sangat tidak menghargai perempuan. Saya ingat sebuah opini kontroversial yang ditulis oleh Julia Suryakusuma di thejakartapost.com berjudul ‘Tilik’, Sexist Stereotype and Our Collective Insanity  dimana ia marah ketika dalam film tersebut perempuan-perempuan menggunakan truk untuk bepergian. Julia menganggap penggambaran itu secara simbolis bisa dimaknai sebagai perempuan dilihat sebagai sapi atau objek yang bisa dipindahkan dengan truk. “And why are the women traveling in a truck? Symbolically, does this mean that women are seen as cattle or object that can be trucked around?” tanyanya.

Dalam konteks ini, saya pikir jika yang membacanya adalah Julia Suryakusuma bisa jadi ia akan langsung marah karena secara gamblang penulis menggambarkan bagaimana tokoh Karmila menjadi anjing. Julia tidak perlu lagi bertanya-tanya apakah tokoh Karmila dilihat sebagai sapi atau objek lain seperti dalam film Tilik, karena sudah jelas tokoh Karmila digambarkan sebagai anjing yang tidak juga memiliki kesan heroik dalam perlawanannya namun terkesan pathetic dan menjijikkan, terutama dengan dialog, “lihat! Janda itu meminum air kotoran ayam,…” dan “aku akan menjadi anjing agar suamiku kembali.”

Ketika Menjadi Anjing adalah Jalan Ninja Karmila

Mari kita berandai-andai bahwa kita semua paham ketika Karmila menjadi anjing, maka itu adalah bentuk perlawanan Karmila, alih-alih penghilangan kemanusiaan Karmila. Maka, kita harus telaah apa penyebab Karmila melawan? Sebenarnya sudah sangat jelas sejak awal dituliskan bahwa Karmila melawan – dengan menjadi anjing – karena ia ingin menunggu kembalinya suaminya, makanya judulnya adalah Menunggu Kembalinya Seekor Anjing. Dialog, “aku akan menjadi anjing agar suamiku kembali,” pun memperkuat alasan Karmila melawan.

Tentu saja tidak ada yang salah dengan alasan tersebut, banyak orang yang juga berjuang karena kehilangan orang-orang yang dikasihinya. Contoh saja aksi kamisan  yang pada dasarnya juga menuntut  kasus pelanggaran HAM berat baik yang korbannya meninggal maupun yang hilang untuk diusut tuntas. Aksi kamisan ini sendiri digagas oleh anggota-aggota keluarga korban. Saya pikir ada banyak sekali orang yang baru melawan ketika ketidakadilan menimpa mereka secaa personal, seperti yang terjadi pada Karmila.

Namun yang mengganjal dari saya pribadi adalah mengapa baru ketika suami Karmila hilang, ia melawan? Apakah sebelumnya Karmila tidak melawan padahal kita tahu bahwa suami Karmila adalah orang yang melawan tambang. Perlawanan Karmila pun terkesan terlepas dari perlawanan suaminya. Suaminya menjadi anjing untuk menjaga tanahnya, Karmila memutuskan menjadi anjing agar suaminya kembali.

Saya tidak ingin membanding-bandingkan urgensi perjuangan Irwan Pelo dan perjuangan Karmila, karena keduanya sama-sama penting. Saya ingin highlighting fakta bahwa perbedaan perjuangan antara Irwan Pelo dan Karmila justru seakan memperkuat pandangan bahwa isu lingkungan adalah isu yang maskulin. Ini terlihat dari bagaimana ketika Irwan Pelo asik berjuang mempertahankan tanahnya hingga bertemu dengan Paul, peran Karmila tidak ada dalam perjuangan Irwan Pelo. Padahal, tentu saja kita tahu bahwa apa yang dirasakan oleh Irwan Pelo – tanah retak, sawah tidak subur – juga dirasakan oleh Karmila. Namun, Karmila pasif sekali disini. Ia baru mulai aktif berjuang ketika Irwan Pelo hilang, itu pun karena ia ingin suaminya kembali bukan karena ia menyadari bahwa lingkungannya rusak.

Padahal, kita bisa melihat ada banyak sekali perlawanan perempuan akibat lingkungan hidup mereka dirusak atau diancam. Kita bisa melihat aksi ibu-ibu Kendeng dengan menyemen kakinya sendiri atau aksi mama-mama di Papua yang menolak sawit dan terdokumentasi dalam film pendek berjudul Mama Mariode . Penulis memang sempat mengatakan bahwa perlawanan Karmila juga terinspirasi dari perlawanan ibu-ibu Kendeng. Tetapi dalam naskah tulisannya, saya merasa bahwa dibandingkan dengan perlawanan ibu-ibu Kendeng, perlawanan Karmila lebih mirip perlawanan yang dilakukan keluarga penyintas dalam aksi kamisan.

Bagaimana Perlawanan Karmila Digambarkan?

Saya sudah mengatakan sebelumnya bahwa saya tidak ingin membandingkan urgensi perlawanan Irwan Pelo dan perjuangan Karmila, namun saya ingin membandingkan bagaimana penulis menggambarkan perjuangan keduanya. Ketika kita membaca bagian perlawanan Irwan Pelo, kita merasakan denyut perlawanannya. Ia secara magis bisa bertemu dengan sosok Wiji Thukul misalnya, dimata-matai oleh tim mawar, ancaman-ancaman yang ada, dikhianati teman seperjuangan, kewaspadaan dan kecurigaan yang tinggi pada orang asing, dan lain sebagainya. Pembaca dibuat deg-degan dengan aksi-aksi yang dilakukan oleh Irwan Pelo. Akhir cerita dari Irwan Pelo pun sangat gagah dimana ia hilang secara misterius dalam perjuangannya.

Lalu bagaimana ketika kita melihat perjuangan Karmila? Apa yang kita sebagai pembaca rasakan melihat perjuangan Karmila? Menganggap apa yang dilakukan Karmila sebagai sebuah perjuangan saja agak sulit sebenarnya, karena kesan pertama yang di dapat bukan lah Karmila sedang melawan, tetapi Karmila tidak bisa move on dari suaminya hingga mengalami gangguan kejiwaan. Kalau pun kita bisa memandang apa yang dilakukan Karmila adalah bentuk perlawanan, kok ya bentuk perlawanan Karmila itu justru melepaskan dia dari dignity-nya sebagai manusia?

Dari sini saya kemudian ingin bertanya-tanya apakah penulis memandang perlawanan yang dilakukan Karmila atau perempuan pada umumnya macam gangguan kejiwaan? Karena ada perbandingan yang sangat kontras dalam menggambarkan perjuangan keduanya.

Jika kita mengibaratkan bahwa perlawanan Irwan Pelo sebagai perlawanan laki-laki dan perlawanan Karmila sebagai perlawanan perempuan, seperti ada kesan bahwa perjuangan laki-laki itu sungguh sangat heroik. Sementara, perlawanan perempuan itu macam gangguan kejiwaan yang aneh, tidak banyak dimengerti orang dan tidak membangkitkan semangat orang lain bahkan seolah dilepaskan dari kemanusiaannya sendiri. Mungkin sayanya yang terlalu jauh menafsirkan bagian ini.

Male Gaze dalam Menggambarkan Tubuh Karmila

Pada kegiatan Sidang Majelis Cerpen, Sabtu kemarin, Dewi Alfianti menggungat penulis dengan mempertanyakan, “mengapa Karmila digambarkan sebagai sosok perempuan yang cantik?” dan lanjut membahas mengenai posisi Karmila dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis model Sara Mills. Penulis sempat menanggapi bahwa, Karmila digambarkan sebagai sosok yang cantik karena kasihan, karena tokoh Karmila sudah mengalami banyak sekali nestapa dalam hidupnya jika ditambah fakta bahwa ia tidak cantik maka nasibnya sungguh sangat malang.

Dari tanggapan tersebut, saya mendapatkan kesan bahwa penulis menganggap bahwa menjadi cantik itu adalah sebuah nilai plus dalam diri perempuan. Sehingga jika nasibnya jelek, tidak cantik pula itu bak sudah jatuh tertimpa tangga. Pertanyaan besarnya adalah mengapa kesan seperti ini muncul? Bagaimana kemudian kecantikan Karmila digambarkan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan mengaitkannya dengan teori male gaze yang diperkenalkan oleh Laura Mulvey  pada 1975 lalu. Awalnya teori ini sebenarnya hanya untuk melihat karya berupa film, tapi saya pikir teori ini juga relevan untuk membedah bagaimana penulis menggambarkan sosok Karmila. Apalagi teori ini juga sudah digunakan untuk melihat karya-karya lain seperti yang dilakukan oleh Aprina Murwanti ketika membedah lukisan-lukisan perempuan yang dilukis oleh laki-laki .

Teori male gaze atau tatapan laki-laki adalah cara pandang yang melihat bahwa perempuan merupakan objek seksual yang berfungsi untuk menyenangkan laki-laki. Dalam film, ini terlihat jelas dari bagaimana kamera menyorot tubuh perempuan misalnya dengan memfokuskan pada bagian-bagian seperti payudara dan pantat yang dianggap menarik secara seksual bagi laki-laki. Dalam cerpen ini kita bisa melihat bagaimana tatapan laki-laki dari deskripsi yang diberikan terhadap tokoh Karmila. Penulis mendeskripsikan tokoh Karmila dengan:

“…, perempuan itu sungguh merupakan janda yang manis, tak kalah manis dari banyak gadis kampung yang masih perawan. Umurnya masih dua puluh tujuh tahun. Saat orang-orang tahu bahwa ia menjanda, banyak lelaki yang mengincarnya untuk dijadikan istri atau kekasih atau sekedar teman untuk menumpahkan berahi yang kepalang memuncak. Kecantikan alaminya seperti sihir yang tak hilang bahkan ketika ia masih milik suaminya……, jika suatu saat bidadari hadir di antara sawah dan lumpur dengan keringat yang menetes serupa sungai, rupa dan bentuknya tak jauh berbeda dengan Karmila.”

Deskripsi tersebut bukan cara seorang perempuan melihat perempuan lain. Tetapi cara seorang laki-laki menggambarkan dan memandang perempuan. Tak lebih dari sekedar objek fantasi tokoh laki-laki, penulis laki-laki dan pembaca laki-laki. Mungkin ini kemudian membuat banyak orang bertanya-tanya, lantas apakah ada female gaze atau tatapan perempuan? Jika iya seperti apa itu? Tentu saja ada, meskipun female gaze belum banyak berkembang. Female gaze tidak kemudian dimaknai sebagai perempuan yang mengobjektifikasi laki-laki untuk kepuasaan pribadinya. Tetapi lebih kepada bagaimana membuat pembaca atau pemirsanya merasakan apa yang perempuan rasakan dan alami. Female gaze kupikir bisa menjadi bahasan di lain waktu.

Mari kembali pada male gaze dan pengobjektifikasiannya terhadap tubuh perempuan untuk kepuasan seksual laki-laki, apakah ada dampaknya? Dampak psikologis yang harus dibayar perempuan sangat besar akibat dari male gaze ini. Perempuan pelan-pelan melakukan self-objectification atau mengobjektifikasi tubuhnya sendiri, mereka memandang bahwa aset perempuan yang paling berharga adalah kecantikannya, tubuh fisiknya. Darisitu perempuan juga mulai meletakkan nilai lebih pada kecantikannya daripada sikapnya atau cara berpikirnya. Pada kasus-kasus lebih ekstrim ini bisa menyebabkan gangguan mental seperti anorexia atau bulimia hanya agar mereka bisa memuaskan pandangan laki-laki.

Dari sini jangan heran ketika ada perempuan yang di cat call tapi malah senang. Karena mereka sudah terlanjur mengobjektifikasi tubuh mereka sendiri dan cat call justru dipandang sebagai validasi atas fisik mereka yang mampu memenuhi standar menggairahkan bagi laki-laki, alih-alih dipandang sebagai pelecehan.

Pada laki-laki sebaliknya, male gaze yang diproduksi terus menerus tanpa intervensi akan membuat mereka merasa berhak untuk menentukan bagaimana sebaiknya tubuh perempuan di kemas, dengan pakaian seperti apa misalnya. Ini juga membuat normalisasi cat call dengan dalih hanya memuji tubuh perempuan yang mereka anggap menarik. Perempuan tidak lagi mereka pandang sebagai manusia yang utuh dengan segala kompleksitasnya namun direduksi menjadi seonggok daging saja.

Saya ingin berpikir positif bahwa ketika mendeskripsikan sosok Karmila, penulis juga ingin menggambarkan realitas yang ada mengenai bagaimana banyak laki-laki memandang perempuan. Namun disisi lain, apa yang dilakukan penulis juga adalah bentuk objektifikasi terhadap perempuan yang dampak berkepanjangannya merugikan baik laki-laki maupun perempuan.

Akhirnya …

Saya cukup senang untuk membedah karya ini dengan lebih detail. Tentu saja masih ada hal-hal lain yang bisa dibedah seperti stigma status janda yang disematkan pada Karmila, alienasi orang-orang dengan gangguan mental, perihal madu dan dimadu, kesombongan laki-laki yang menganggap mereka dapat membahagiakan perempuan atau bagaimana tokoh ibu-ibu muda memandang laki-laki dengan sangat dangkal. Dianggapnya laki-laki akan mau dengan Karmila karena kecantikannya saja. Bukan kah ini mereduksi laki-laki hanya sebatas sebagai makhluk visual dalam mencari pasangan? Tapi, ini mungkin lain waktu saja saya bahas, mengingat sudah terlalu panjang dan saya rasa ini sudah cukup tajam dan menggigit.(jejakrekam)

Penulis adalah Aktivis Narasi Perempuan

(Isi dari artikel ini sepenuhnya tanggungjawab penulis bukan tanggung jawab media)

1 Komentar
  1. Y'Ongo berkata

    Tidak berhenti sampai di sini. Terus melangkah Rafii

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.