Insiden Air Teh Beracun yang Diduga Dilakukan Anggota Khusus Gerwani/PKI di Amuntai (5-Habis)

0 566

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

AWAL tahun 1965, Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui ormasnya, Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (Serbupri) Cabang Kewedanaan Tabalong (kini Kabupaten Tabalong) di Tanjung, berunjuk rasa.

ORGANISASI underbow PKI ini menuntut perusahaan perkebunan karet Hayup dan Tabalong Kiwa, milik pemodal Inggris sejak sebelum Perang Dunia 2 agar meningkatkan upah para buruh.

Aksi yang disertai tindak kekerasan itu diamankan oleh Kepolisian Tanjung. Dari peristiwa itu, PKI memfitnah Kepolisian Tanjung telah melakukan penyiksaan terhadap salah seorang pengurus Serbupri bernama A Talib –Indo Arab-Indonesia– sehingga menderita gegar otak dan harus dirawat di rumah sakit.

BACA : Tak Taati Soekarno, Hassan Basry Bekukan PKI di Banjarmasin (2)

Apabila, ada kunjungan tamu penting, seperti pejabat atau tokoh masyarakat, A Talib yang bergaya tidak melihat itu, berteriak-teriak bagaikan orang gila.

PKI juga punya ormas Serikat Buruh Daeerah Autonom (Serba), bagi pegawai pemerintah daerah, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)dan berbagai ormas lainnya yang berada di bawah naungannya.

Dalam kegiatan politiknya,PKI senantiasa mencetuskan bermacam semboyan yang kemudian dipopulerkan oleh seluruh anggota dan simpatisannya di seluruh Indonesia. Sekitar enam bulan sebelum peristiwa 30 September 1965 meledak, semboyan mereka adalah tunggu tanggal mainnya.

BACA JUGA : NU Mampu Redam Kekerasan 1965 Di Kalimantan Selatan (3)

Suatu teror politik yang sangat menyeramkan. Puncak teror itu adalah peristiwa 30 September 1965 yang menyebabkan gugurnya putra terbaik Indonesia, ketika tujuh jenderal yang dibunuh secara keji dan kejam serta dimasukkan ke Lubang Buaya di Jakarta.

Pada wilayah Hulu Sungai Utara (HSU), mereka memanfaatkan momen penutupan Pekan Pemuda pertama se Kalsel yang berlangsung di Amuntai. Pekan Pemuda yang menyelenggarakan berbagai pertandingan, festival, olahraga, kesenian dan budaya tersebut ditutup oleh Wakil Gubernur Kalsel H Imansyah.

Selama kegiatan itu, penulis (maksudnya Anang Abdul Muin, peminat masalah sosial politik tinggal di Amuntai) dan beberapa orang temen dari Kantor Departemen Penerangan (Kandeppen) Kabupaten HSU, mendapat kepercayaan dari panitia pelaksanaan untuk menerbitkan buletin setiap hari di samping kegiatan rutin penulis sebagai koresponden surat kabar dan RRI.

BACA JUGA: Geliat Palu Arit Di Bumi Antasari; Epik Partai Terbesar Ketiga Di Kalsel (1)

“Ketika menyelesaikan buletin terakhir, yang akan disebarkan kepada para undangan resepsi penutupan itu, kami harus bekerja ekstra keras. Karena suasana panas, dari pojok sekretariat kantor Bupati HSU yang menghadap lapangan tempat upacara –kini kantor Kodim 1001/HSU Amuntai– kami minta air teh yang disediakan ibu-ibu untuk para undangan,” tulis Anang Abdul Muin.

Ternyata, ada anggota khusus Gerwani/PKI dari Banjarmasin yang memasukkan sejenis racun ke dalam tempat teh tersebut, tapi alhamdulillah tidak menimbulkan korban.

Sebab, air teh yang tercemar racun itu dituang ke dalam gelas dan siap untuk dibagikan. Ternyata, sempat diketahui oleh seorang ibu yang merasa curiga karena di permukaan gelas-gelas tadi berbuih. Air teh langsung ditumpahkan ke jendela, diganti dengan yang baru dan bersih.

BACA JUGA : Sofyan Baraqbah, Sayid Komunis Yang Diburu Tentara Baret Merah (4)

“Allah Maha Besar, telah menyelamatkan Wagub Kalsel dan ratusan orang lainnya dari bahaya racun perbuatan jahat PKI tersebut. Entah apa yang terjadi, seandainya racun di gelas-gelas tersebut sempat diminum para undangan,” tulis Anang Abdul Muin lagi.

Sejak tanggal 1 Oktober 1965, ABRI sebagai aparat pemerintah melakukan penangkapan terhadap anggota PKI dan ormas-ormasnya di seluruh Indonesia, termasuk yang berada di daerah Hulu Sungai Utara dan Tabalong.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.