NU Mampu Redam Kekerasan 1965 di Kalimantan Selatan (3)

0 312

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

NAHDLATUL Ulama (NU) merupakan faktor penting tidak terjadinya kekerasan antar masyarakat sipil di Kalimantan Selatan. Itu ketika pecah peristiwa politik pada tahun 1965, imbas dari Jakarta dengan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (PKI).

DALAM buku Berlayar di Tengah Badai: Misbach Tamrin dalam Gemuruh Politik-Seni, membahas membahas kehidupan perupa Misbach Tamrin, kelahiran tahun 1941 di Amuntai, Kalimantan Selatan.

Ia pernah mendekam selama 13 tahun di penjara Orde Baru karena tuduhan komunis. Dalam bukunya itu terungkap bahwa di Kalimantan Selatan relatif tidak terjadi kekerasan antar masyarakat sipil pada tahun peralihan politik tersebut.

Memang ada penangkapan-panangkapan dan kemudian juga penahanan-penahanan tanpa pengadilan –seperti yang dialami Misbach Tamrin dan Toga Tambunan—tetapi berbeda dengan di beberapa daerah di Jawa, Bali atau bahkan Kalimantan Tengah.

BACA : Tak Taati Soekarno, Hassan Basry Bekukan PKI di Banjarmasin (2)

Di Kalimantan Selatan, tidak ada misalnya perburuan, penyerangan, penangkapan, atau bahkan pembantaian masyarakat sipil terhadap masyarakat sipil lainnya. Dalam hal ini, para aktivis PKI dan atau yang dianggap terkait dengannya. Tidak ada yang namanya ‘dibon’ seperti di Jawa.

Relatif tidak adanya kekerasan itu karena faktor Jenderal Amir Machmud, Pangdam Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan kala itu. Sebab, Amir Machmud merupakan pengagum Soekarno. Namun hal tersebut meragukan.

Ada tiga faktor mengapa masyarakat setempat yang bukan PKI tidak turut mengejar-ngejar atau menumpas orang yang dianggap PKI.

Pertama, di kalangan masyarakat Banjar saat itu sangat kuat ikatan kekeluargaan. Mereka mengenal istilah bubuhan, artinya anggota keluarga besar. Beberapa orang Banjar sendiri banyak yang aktif di PKI atau pun organisasi yang dekat dengannya. Jadi kekerabatan ini mampu mencegah kekerasan. Tapi selain itu, orientasi keagamaan orang Banjar sangat moderat. Kebanyakan mereka orang NU.

BACA JUGA: Geliat Palu Arit Di Bumi Antasari; Epik Partai Terbesar Ketiga Di Kalsel (1)

Jadi, NU dan juga peran seorang tuan guru di Martapura yang sangat dihormati masyarakat setempat saat itu, punya pengaruh besar tidak terjadinya kekerasan.

Menurut Toga, bahwa sebelum ia tertangkap ia sempat bersembunyi dari satu daerah ke daerah lain di pelosok Kalimantan Selatan dan bertemu dengan banyak orang.

Toga yakin mereka tahu siapa tahu siapa sebenarnya ia. Namun, mereka seperti tidak peduli. Bahkan sebagian ada yang membantu, tambahnya. Memang Kalimantan Selatan tercatat sebagai basis Partai NU di luar Jawa saat itu, bahkan hingga kini.

BACA JUGA : Pemilu 1955, Ketika NU dan Masyumi Berbagi Kursi di Dapil Kalsel

Ketua Umum NU saat itu adalah KH Idham Chalid yang berasal dari Kalimantan Selatan. Tak heran kalau di Kalimantan Selatan NU merupakan partai terbesar pada tahun 1965 itu.

Apa yang dikemukakan Toga bisa disebut sebagai kesaksian. Toga bercerita datang ke Banjarmasin tahun 1962 sebagai pegawai kesehatan yang dikirim pemerintah pusat untuk ikut menangani penyakit malaria yang menyebar di kawasan tersebut.

BACA JUGA : Hassan Basry Pencetus Peristiwa Tiga Selatan, Soekarno pun Dibuatnya Marah Besar

Karena senang menulis dan berkesenian, ia kemudian turut mengelola LEKRA Kalimantan Selatan bersama Misbach Tamrin. Hal itu yang menyeretnya ke tahanan selama 14 tahun, meski ia mengaku bukanlah anggota PKI.

Menurutnya, dirinya sebenarnya anggota Partindo (Partai Indonesia). Sebelum ke Banjarmasin, Toga merupakan redaktur kebudayaan Bintang Timur, milik Partindo.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.