Dikarang Habib Ali Alhabsyi, Tradisi Pembacaan Kitab Simthud Durar Membumi di Masyarakat Banjar

0

BAGI masyarakat Banjar, tradisi membaca syair maulid Alhabsyi bersumber dari kitab Simthud Durar sangat familiar. Bahkan, nyaris hampir seluruh pengajian tabuhan terbang Banjar mengiring bait demi bait syair memuji Nabi Muhammad SAW dibawakan orang banyak.

MEMANG, selain kitab Simthud Durar, warga Banjar yang kental dengan budaya Islami pun juga telah lama mengenal kitab syair dalam memperingati hari kelahiran dan keutamaan Rasulullah SAW seperti Barzanji, Syaraful Anam, Diba’i, Burdah dan Dhiya’ul Lami’.

Peneliti sejarah Islam UIN Antasari Banjarmasin Humaidy Ibnu Sami mengakui secara umum kitab maulid Simthud Durar ditulis oleh seorang ulama karismatik asal Hadramaut, yakni Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, wafat pada 1915.

“Ya, karena nama pengarang ini pula, banyak yang menyebut kitab ini dengan sebutan ‘Maulid Alhabsyi’. Sementara, Habib Ali menulis kitab pada 1913 yang dua tahun kemudian 1915, Habib Ali meninggal dunia,” ungkap Humaidy dalam tulisan di akun facebooknya yang dikutip jejakrekam.com, Sabtu (15/8/2020).

BACA : Manaqib Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjary

Ia juga mengutip uraian sejarawan dan antropolog, Linda Boxberger, menyebut bahwa pada masa hidupnya, Habib Ali selalu mengadakan perayaan maulid dengan membaca kitab ini satu minggu sekali di Masjid Riyadh di Kota Say’un, Hadramaut.

“Khusus pada Kamis terakhir bulan Rabiul Awal, perayaan maulid ini diadakan secara meriah dan diikuti oleh banyak jamaah. Masjid Riyadh sendiri didirikan oleh Habib Ali pada 1886,” papar Humaidy.

Peneliti senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin ini menjelaskan bagaimana maulid Simthud Durar masuk ke Indonesia dan akhirnya bisa dikenal seantero negeri.

BACA JUGA : Tradisi Baayun Maulid di Kubah Basirih Diikuti Warga Pekanbaru

Menurut Humaidy, kitab maulid Simthud Durar atau Maulid Alhabsy dipopulerkan di Nusantara melalui dua jalur: yang pertama murid dan yang kedua keturunan Habib Ali. Untuk jalur murid, yang pertama kali membawa Simthud Durar ke Indonesia adalah Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi (wafat 1917).

“Awalnya Habib Muhammad mengadakan maulid di Jatiwangi, Cirebon sebelum memindahkannya ke Bogor,” kata magister pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Kemudian, karena beberapa hal, Habib Muhammad pindah ke Surabaya dan secara reguler mengadakan kajian maulid di kota ini sampai akhir hayatnya pada 1917.

BACA JUGA : Syair Syaraful Anam Menggema, Peringatan Wafatnya Ulama Muda Alalak Khidmat

Nah, setelah wafatnya Habib Muhammad, yang melanjutkan tradisi perayaan maulid Simthud Durar adalah Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (wafat 1968) atas izin keluarga Habib Muhammad.

Masih menurut Humaidy, Habib Ali Abdurrahman al-Habsyi termasuk dalam kategori murid Habib Ali pengarang Simthud Durar. Hal ini dikarenakan sejak umur 11 tahun ia memperdalam agama di Hadramaut yang mana salah satu gurunya adalah Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi.

Setelah mendapat izin dari keluarga Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi awalnya mengadakan maulid di kantor pusat Jamʿiyyat al-Khayr Jakarta sebelum memindahkannya ke masjid yang beliau dirikan di daerah Kwitang, Jakarta Pusat.

“Di Masjid Kwitang inilah, Habib Ali memulai majelis maulid pada 1918 dan berhasil mengundang banyak jamaah,” ucapnya.

BACA JUGA : Jelang Puncak Haul Guru Sekumpul, Digelar Pameran Artefak Peninggalan Nabi Muhammad SAW dan Sahabat

Humaidy juga mengutip catatan Guillaume Frédéric Pijper dari Kantor Penasehat Urusan Pribumi pemerintah kolonial Belanda, ketika ia mengobservasi kegiatan tersebut pada 1930-an, peringatan maulid Nabi di Kwitang dipenuhi sesak oleh para jamaah.

Ia memperkirakan, sekira 3.000 orang hadir dalam acara tersebut. Tidak hanya dari sekitar Jakarta Pusat, menurut Pijper, jamaah juga datang dari daerah Tanjung Priok, Jatinegara dan Tangerang. Karena populernya majelis ini, Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi kemudian lebih dikenal dengan sebutan Habib Ali Kwitang.

“Untuk ke Kalimantan, terutama ke Kalimantan Selatan, beliau mempunyai dua orang murid yakni Habib Ibrahim al-Habsyi, Nagara, Hulu Sungai Selatan,” urai Humaidy.

BACA JUGA : Pembaruan Religiusitas oleh Abah Guru Sekumpul

Namun, Humaidy berkeyakinan Habib Ibrahim tampaknya menyebarkan Maulud Habsyi hanya di kalangan terbatas, sehingga di Nagara tak pernah diketahui kegiatan orang atau masyarakat yang membacakan Maulud Habsyi semasa hidup Habib Ibrahim al-Habsyi.

Kemudian yang kedua, Habib Zein al-Habsyi, Martapura, Kabupaten Banjar. Humaidy menyebtu ulama terkemuka di kota santri ini juga salah satu yang bertanggung jawab atas tersebarnya Maulud Habsyi di Kalimantan.

“Beliau sebagai salah satu guru dari Abah Guru Sakumpul (Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani), yang mungkin mengajarkan Maulud Habsyi kepada muridnya. Sedangkan, Abah Guru Sakumpul menerima dengan sukarela dan sukacita sehingga sangat bergairah untuk menyebarkannya,” urainya.

Humaidy mengungkapkan Abah Guru Sekumpul dengan modal suara yang merdu mencipta dan mengolah syair dan rawi Maulid Habsyi dalam racikan yang indah hingga mempesona orang yang mendengarkannya.

“Bukan hanya sampai di situ, beliau juga mengkombinasi dengan syair maulud lain dan mengiringi dengan irama musik, terutama berupa tabuhan gendang dan tepukan terbang,” ucapnya.

Berikutnya, papar Humaidy, ada jalur dari Tuan Guru H. Badaruddin yang sering menghadiri majelis para habaib di Kwitang, Jakarta.

Di sana, di dalam kegiatan majelis selalu terselip pembacaan Maulid Habsyi. Mungkin karena sangat suka dengan keindahan syair-syairnya dan kedalaman makna dari isinya, beliau meminta santri-santri Pondok Pesantren Darussalam untuk menyebarkan Maulid Habsyi.

“Mereka terus berlatih hingga menjadi fasih dan lancar serta secara perlahan tapi pasti akan diterima masyarakat dan kemudian menjadi primadona yang selalu didamba dan dinanti,” ucapnya.

Selain jalur pertama, maulid Simthud Duror juga dipopulerkan melalui keturunan Habib Ali yaitu Habib Alwi bin Ali al-Habsyi (wafat 1953).

Habib Alwi adalah putra Habib Ali yang mengembara ke Nusantara setelah kematian sang ayah. Awalnya, Habib Alwi tinggal di Jakarta, sebelum pindah ke Semarang dan akhirnya menetap di Surakarta (Solo).

Pada 1934, Habib Alwi mendirikan masjid di daerah kecamatan Pasar Kliwon. Masjid tersebut diberi nama Riyadh merujuk pada nama masjid ayahnya di kota Say’un.

“Ya, karena dirinya adalah putra pengarang Simthud Durar, banyak orang menghormati dan ingin mendapatkan barokah Habib Alwi termasuk mengikuti kajian maulid yang beliau lakukan,” beber dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari ini.

Habib Alwi meninggal pada 1953 di Palembang tetapi atas wasiatnya, jasad Habib Alwi dimakamkan di samping masjid Riyadh di Surakarta.

Pasca wafatnya Habib Alwi, tradisi maulid Simthud Durar dilanjutkan oleh sang putra, Habib Anis bin Alwi al-Habsyi (wafat 2006). Di tangan Habib Anislah, perayaan maulid Nabi dengan kitab Simthud Durar semakin dikenal oleh umat Islam di Surakarta pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

Sepanjang hidupnya, Habib Anis dikenal sebagai ulama bani Alawi terkemuka di Indonesia. Untuk mengenang pengarang Simthud Durar (dan juga keturunannya: Habib Alwi dan Habib Anis), setiap bulan Rabiussani masjid Riyadh mengadakan haul Habib Ali.

Haul ini bisa dikatakan salah satu even haul terbesar di Indonesia. Karena besarnya acara ini pula, sejak 2014, Pemkot Surakarta memasukkannya dalam agenda resmi tahunan pemerintah dalam satu frame kebijakan ‘Solo Kota Sholawat’.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.