ACT

Menggali Ilmu Taguh dalam Tradisi Masyarakat Banjar

1 1.107

ILMU kebal atau taguh dalam tradisi Banjar, Kalimantan Selatan, sudah kesohor. Ini menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan kultur nenek moyang yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

BUDAYAWAN Nahdlatul Ulama (NU) Kalsel, Humaidy Ibnu Sami mengakui ada dua sisi, ketika seseorang ingin menonjolkan diri dengan kemampuan atau kehebatannya, justru hal itu juga menutupi kekurangannya.

“Dalam tradisi masyarakat Banjar, salah satu khazanah kekayaaan budayanya juga dikenal dengan sebutan ilmu taguh. Ilmu kebal diri apakah mempan dibacok dengan senjata tajam atau tahan peluru atau senjata api itu dipelajari oleh sebagian orang,” ucap Humaidy kepada jejakrekam.com, Kamis (16/4/2020).

Dari penelusuran peneliti senior Lembaga Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin ini ada dua aliran yang dikenal sebagaimana lazimnya di dunia persilatan.

BACA : Barajah dan Bawafak, Kesaktian Kertas Kusam Bersimbol Ayat Alquran

Ada yang menempuh jalan syariat (Islam) atau golongan putih (white magic) dengan amalan dan sebagainya. Jalan lainnya adalah bersekutu dengan makhluk astral dalam hal ini jin atau perantara lainnya untuk menambah kekuatan atau kedigjayaan (black magic).

“Taguh atau kebal yang dimaksud bisa kebal terhadap berbagai senjata tajam hingga kebal terhadap pelor. Tingkat kekebalannya, ada sebatas kulit, sampai daging hingga kebal dari kulit sampai tulang,” papar Humaidy.

Akademisi UIN Antasari Banjarmasin ini menguraikan sedikitnya ada 8 metode atau cara berdasar tradisi kepercayaan yang dipegang masyarakat Banjar.

BACA JUGA : Alquran dan Tradisi Lisan Masyarakat Banjar

Humaidy menyebut ada istilah taguh dari lahir, ketika seorang anak sejak lahir bakalabut atau semacam selaput yang melapisi tubuhnya.

“Taguh yang menjadi anugerah ini disebut taguh kurung-kurung. Biasanya, taguh ini terjadi ketika selaputnya itu dibuka dengan cara digigit atau digurat sembilu,” tuturnya.

Berikutnya, menurut Humaidy, taguh dengan untalan yakni menelan sejenis hasil balampah (bertapa) atau dari kekuatan hewan seperti minyak gajah, minyak bintang, minyak gilingan gangsa, minyak sulingan mayat, bulu mariaban dan banyak lagi.

“Dalam tradisi masyarakat Banjar sering disebut  ilmu taguh jalan ke kiwa atau kiri,” kata Humaidy.

Ia mengungkapkan metode ketiga adalah taguh dengan polesan atau minyak atau air tertentu yang sudah dibacakan mantera atau dilampahi (dalam tradisi Banjar).

“Sedangkan, metode keempat adalah taguh dengan mandi. Orang Banjar sering menyebutnya dengan mandi taguh. Yakni, ketika seseorang menjadi kebal lantaran mandi dengan aira sudah dirapal bacaan-bacaan Alquran oleh ulama atau orang berilmu,” urai Humaidy.

BACA JUGA : Ketika Wabah Cacar Mengubah Sejarah Perang Barito-Banjar

Menurut dia, dalam metode mandi taguh ini biasanya ada ritual khusus seperti duduk mencungkung telapak kaki manjajak (berpijak) di atas mata tajam lading (pisau).

“Selanjutnya, seluruh tubuh ditutup kain hitam sudah mandi ditimpas (ditebas) sebagai uji coba,” ujarnya.

Humaidy menyebut lagi ada pula taguh dengan rajah. Yakni, berupa huruf Arab tertentu yang mengandung kekuatan seperti ditato dengan jarum khusus yang dituliskan seorang ahli rajah.

“Guratan yang dituliskan itu tidak terbaca atau permanen, berbeda dengan tato dengan tinta khusus,” katanya.

Masih menurut Humaidy, dalam tradisi masyarakat Banjar adapula dikenal dengan taguh dengan ditanam pada bagian tubuh tertentu. Biasanya, di bagian belakang dengan memasukkan benda berkhasiat semacam wasi (besi) kuning, wasi tuha (besi tua), batu intan dan lannya.

Metode berikutnya adalah taguh dengan mengenakan azimat atau jimat, sesuatu benda yang selalu dibawa seseorang sebagai hiasan atau sangu (bekal).

“Jimat ini bisa berbentuk rantai babi, picis mimang, tanduk kucing, ulin manang, wifik, baju barajah, babasal, cemeti, biji baras, tambang liring  dan lain-lain,” urainya.

Humaidy juga menyebut metode terakhir adalah taguh dengan amalan, ajian, atau lampahan dalam tradisi masyarakat Banjar yang kental dengan sentuhan napas Islam.

“Kekebalan yang didapat seorang karena amalannya seperti Hizb, Ratib, Wirid dan doa yang didawamkan setiap hari, minggu dan bulan,” tuturnya.

Menariknya, Humaidy mengungkapkan untuk kekebalan seperti taguh dirajah dan amalan justru berdasar kitab-kitab klasik (kuning) hingga pengamalan yang dikenal di dunia sufisme atau riyadlah ruhaniyah.

“Di masyarakat Banjar, ilmu taguh jalur kanan atau aliran putih biasanya menggunakan kitab-kitab klasik seperti Syamsul Ma’arif, Tajul Mulk, Al-Awfaq dan Mujarrabat,” ucapnya.

Humaidy menilai metode taguh jalan kanan ini bersifat positif, bahkan tidak ada risiko samping, terutama saat hendak menjemput azal (sakaratul maut). “Berbeda tentu dengan taguh jalan kiri, sering berefek negatif baik pada diri pemakai maupun orang lain,” tuturnya.

BACA JUGA : Batatamba, Menggali Ritus dan Metode Penyembuhan Penyakit di Tengah Masyarakat Bakumpai

Peraih magister pendidikan sejarah Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengungkapkan di zaman dulu, para ulama Banjar biasanya menggunakan metode ilmu kebal untuk menghadapi ilmu hitam saat berdakwah ke pedalaman.

“Sebab, tak jarang para ulama Banjar harus berhadapan dengan tokoh sakti lokal dalam syiar Islam. Bahkan, kerap ditantang adu kesaktian, hingga harus ada bekal untuk mengalahkan tokoh lokal tersebut agar penyebaran Islam bisa lebih mulus,” papar Humaidy.

Bukan hanya itu, dalam Perang Banjar, Humaidy mengungkapkan ada gerakan perlawanan para pejuang Tanah Banjar melawan kolonial Belanda dengan mengamalkan ilmu-ilmu kebal.

“Makanya, ada gerakan Baratib Ba’amal yang menggunakan Hizb, Ratib, Wirid dan doa dalam berperang. Mereka pun tak takut senjata tajam maupun terjangan peluru dari penjajah Belanda,” tuturnya.

Bahkan, menurut Humaidy, banyak ulama Tanah Banjar justru memberi bekal kepada para pejuang baik dengan doa, amalan, memandikan, hingga memberi jimat agar lebih percaya diri dalam medan laga.

“Tak bisa dipungkiri, peranan ilmu taguh dalam turut memerdekaan negeri ini tak bisa diabaikan, walau ini ada sebagian yang memukirinya,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
1 Komentar
  1. REZURAsantoso berkata

    terima kasih, artikel yang sangat menarik ,menambah wawasan tentang keberagaman di indonesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.