Ibnu-Arifin-Calon

Batatamba, Menggali Ritus dan Metode Penyembuhan Penyakit di Tengah Masyarakat Bakumpai

0 327

PANDEMI Covid-19 memicu kekhawatiran global, tak terkecuali Indonesia, khususnya Kalimantan Selatan. Hal itu juga menguak khazanah ramuan obat tradisional yang menjadi bagian dari kearifan lokal Nusantara.

KETIKA jahe, temulawak, hingga ramuan jamu menjadi solusi alternatif dalam menjaga ketahanan tubuh dari serangan virus atau bakteri yang mematikan tengah dilirik publik.

Kekayaan ethnomedice (pengobatan tradisional) itu pun juga dimiliki salah satu etnis penghuni Pulau Borneo, suku Dayak Bakumpai.

Diskusi terpumpun menggali kekayaan pengobatan tradisional Bakumpai pun terbilang menarik. Sosiolog dan antropolog FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Setia Budhi menungkapkan ada istilah batatamba dalam masyarakat Bakumpai yang sudah dikenal luas dan menjadi warisan turun temurun, hingga kini masih dipraktikkan.

Dari perbendaharaan doktor jebolan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) ini, dalam masyarakat Bakumpai dikenal dengan sebutan haban (sakit) baik fisik (haban jasadi) maupun non fisik mencakup psikologis, gangguan makhluk astral dan lainnya (haban ji huang).

BACA : Suku Bakumpai, Penyambung Kesultanan Banjar Dengan Masyarakat Dayak

“Metode pengobatan pun dibedakan untuk sakit fisik dan non fisik. Ada yang menggunakan rempah-rempah berkhasiat maupun ritus-ritus yang dipercaya bisa mengusir atau menyembuhkan penyakit,” papar Setia Budhi, dalam diskusi Hapakat yang dipandu sosiolog muda FKIP ULM, Nasrullah di Ruang Maddona, Hotel Fave, Banjarmasin, Rabu (18/3/2020) malam.

Peserta diskusi yang menggunakan bahasa Bakumpai sebagai moda komunikasi juga menuangkan testimoni model pengobatan leluhur yang masih berlaku. Bahkan, dalam diskusi kali ini juga dihadiri Ketua DPRD Batola Saleh, Ketua KPU Batola Rusdiansyah dan anggota DPRD Kalsel yang juga Ketua DPC PDIP Batola, Fahrin Nizar turut memaparkan kesaksiannya terhadap model pengobatan tradisional ini.

BACA JUGA : Ketika Sastrawan Dan Budayawan Banjar Galau Akan Langkanya Hayati Banua

Diakui Setia Budhi, justru di negara Tiongkok, jenis pengobatan modern secara medis dan tradisional masih dipertahankan, bahkan didukung dengan regulasi pemerintah.

Di tengah mewabahnya virus Corona yang memicu histeria masyarakat dunia, Setia Budhi mengajak tak ada salahnya untuk menggali kearifan lokal yang justru sangat berkelindan dengan kondisi masyarakatnya.

“Ya, dalam batatamba (penyembuhan) ada beberapa jenis yang dikenal di masyarakat Bakumpai seperti batatenga, batuping bawayang, badewa, bapalas hingga tulak bala. Tujuannya tentu untuk mencapai kesembuhan dan proteksi terhadap marabahaya, terutama gangguan penyakit,” paparnya.

BACA JUGA : Usulkan Ada Kampung Budaya, Menjawab Kegelisahan Generasi Muda Bakumpai

Setia Budhi mengakui sentuhan ajaran Islam sangat kental dalam mewarnai budaya pengobatan masyarakat Bakumpai, terutama pada ritus penyembuhan penyakit non fisik maupun marabahaya seperti tulak bala, impa are serta melazimkan zikir, shalat sunnah dan shalat taubat.

“Ada pula metode bakasai dengan membalutkan atau menggosokkan ke anggota tubuh dari rempah atau bahan obat tradisional berkhasiat. Hingga barabun atau membakar bahan yang mujarab atau kini dikenal dengan aroma terapi,” tutur Setia Budhi.

Motode pengobatan dengan media air seperti dalam ritus mandi badudus, basambur (menyemburkan air dari ahli pengobatan atau orang berilmu), bamusik seperti dalam ritus Badewa atau bawayang, batuping (tari topeng), barudat (tarian yang terpengaruh Islam), batimung (spa dengan rempah atau tumbuhan berkhasiat) serta lainnya.

“Inilah menjadi tugas kita untuk menginventarisir kearifan lokal pengobatan uluh (orang) Bakumpai. Termasuk, bisa nantinya membangun lembaga pengobatan tradisi uluh Bakumpai,” bebernya.

BACA JUGA : Gerakan Laung Bahenda, Sebuah Perlawanan Simbolik Dan Kearifan Dayak

Ritual dan budaya batatamba ini pun makin kaya, karena peserta diskusi lainnya juga membeberkan kuatnya tradisi sungai di tengah masyarakat Bakumpai, hingga dikenal dengan bersahabat dengan makhluk astral dan mitologi, seperti buaya atau naga. Termasuk, tokoh-tokoh pewayangan.

Bahkan, aktivis pemberdayaan masyarakat adat Kalsel, Adenansi pun mencatat ada beberapa tumbuh-tumbuhan atau herbal yang dipakai masyarakat Dayak Meratus justru sejalan dengan pengobatan medis. “Hal ini menjadi penting bagi kita untuk mengumpulkan kembali apa saja herbal bermanfaat bagi model penyembuhan atau pengobatan tradisional. Sebab, hutan Kalimantan sangat kaya akan itu, bukan hanya akar bajakah yang sempat boming,” papar Adenansi.

Beberapa peserta diskusi seperti Ruslim Jumiade, HAR Zaidan, Rafiqurrakhman, Bardin, Jamaluddin, Willy Ramadan hingga Indra Gunawan mengurai pengalaman serta kehebatan tabib dari masyarakat Bakumpai dalam metode pengobatanya.

Terlebih lagi, dari ritus pengobatan tradisional ini selalu menghadirkan adanya kekuatan dari Sang Maha Penyembuh, Allah SWT, buah dari ajaran Islam yang dijaga erat masyarakat Bakumpai.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
-  I K L A N  -

- I K L A N -

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.