ACT

Ketika Wabah Cacar Mengubah Sejarah Perang Barito-Banjar

0 669

WABAH dan perang, seakan tak terpisahkan. Keduanya sama-sama melenyapkan banyak nyawa manusia. Ketika saat ini, publik seakan dihantui pandemi Corona, toh dalam catatan sejarah di Tanah Banjar dan Kalimantan, wabah penyakit juga mengubah jalannya sejarah.

AMBIL contoh adalah wabah pes, yang disebabkan bakteri Yersinia pestis yang menyerang bagian leher atau kelenjar getah bening, hingga mengakibatkan demam, sakit kepala dan muntah. Hingga, wabah flu Spanyol di daerah jajahan kolonial Hindia Belanda pada abad ke-20.

Sejarawan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mansyur, mengakui wabah penyakit juga berpengaruh terhadap berlangsungnya Perang Banjar tahun 1862. Versi dokumen Belanda, berlangsung 1859-1863, dan versi Kesultanan Banjar, dari 1859-1906, karena berlanjut hingga ke pedalaman Barito, Kalimantan Tengah.

“Berdasar catatan Victor T King menuliskan bahwa pasukan Belanda berulang kali gagal menangkap panglima Perang Banjar, Pangeran Antasari di hutan Kalimantan bagian selatan,” ucap Mansyur kepada jejakrekam.com, Minggu (5/4/2020).

BACA : Berawal dari Hong Kong, Kasus Flu Spanyol Seabad Lalu, 1.424 Warga Banjarmasin Menjadi Korban (1)

Namun, tragis, Pangeran Antasari justru menghembuskan nafas akibat wabah cacar bukan karena tembakan dari moncong senjata Belanda.

“Demikian dituliskan sejarah ini dalam karya Victor T King, Environmental Challenges in South-East Asia (2013)” kata Sammy sapaan akrabnya.

Monomen Perang Banjar yang didirikan di depan rumah Residen Belanda di Banjarmasin.

Ia menjelaskan terbunuhnya Pangeran Antasari karena wabah Cacar juga diungkapkan dalam catatan sejarawan, Merle Calvin Ricklefs dalam bukunya berjudul A History of Modern Indonesia since c-1300 (1993).

“Dalam buku itu, Ricklefs memaparkan, setelah pengasingannya, Antasari menjadi fokus utama penangkapan Belanda di antara mereka yang menentang penaklukan Belanda, sampai kematiannya sendiri akibat cacar pada Oktober 1862,” tutur Mansyur.

BACA JUGA : Tablet Campuran Aspirin, Hentikan Pandemi Flu Spanyol di Banjarmasin (2-Habis)

Nah, beber Mansyur, pasca kematian Pangeran Antasari, permusuhan besar pun berlanjut hingga 1863, dengan lebih banyak perlawanan bersifat sporadis.

“Selain cacar, ternyata wilayah Hulu Barito pada pertengahan abad 19 tersebut juga dilanda wabah disentri.  Hal ini ditulis H.G.J.L. Meyners (1886) menceritakan bahwa Pangeran Antassarie meninggal karena oleh cacar dan menderita disentri,” ujar sejarawan jebolan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.

Sammy mengatakan intensitas serangan cacar memang melonjak pada abad ke-19 hingga memunculkan temuan bahwa pada masa tertentu, suatu penyakit akan muncul (siklis).

“Di beberapa daerah, cacar muncul tiap tujuh tahun sekali. Di Jawa, seperti Pekalongan, cacar muncul dua tahun sekali di mana terjadi puncak-puncak wabah pada 1820, 1835, 1842, 1849, 1862, dan 1870. Dari 1019 bayi yang lahir, setidaknya 102 yang meninggal akibat cacar,” jelas Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan ini.

BACA JUGA : Ketika Temuan James Watt Memantik Perang Banjar

Berdasar dokumen sejarah, Sammy menyebut tingkat kematian akibat cacar pada anak di bawah 14 tahun juga tinggi, antara 10-30 persen.

“Usaha penanggulangan cacar pun sudah dilakukan sejak penyakit ini muncul. Sebelum vaksin ditemukan, variolasi jadi langkah medis pertama untuk pencegahan dan penanganan cacar. Variolasi dilakukan dengan menginfeksi pasien dengan virus cacar berkadar ringan,” timpal Sammy.

Kapal Onrust yang dipakai Belanda menggempur pertahanan pejuang Banjar dan Dayak pendukung Pangeran Antasari.

Ia berpendapat tubuh pasien yang terpapar cacar ringan akan membangun antibodi sehingga menghindarkan pasien dari penyakit cacar parah yang mematikan. Pun ketika wabah cacar menyerang, orang tetap tinggal karena sudah terbiasa menghadapi penyakit menular.

“Beberapa etnis yang paham bahwa cacar adalah penyakit menular tidak berusaha meninggalkan desa ketika epidemi terjadi yang ditulis Peter Boomgard dalam “Smallpox, Vaccination, and the Pax Neerlandica”,”

BACA JUGA : Benteng Oranje Nassau, Simbol Supremasi Belanda Pemicu Perang Banjar

Dalam hal ini, beber Sammy, justru Peter Boomgard menduga, keputusan penduduk untuk tinggal karena mereka sudah terbiasa dengan penyakit mematikan dan pindah desa adalah hal sia-sia.

Dari sumber lain, Sammy juga mengutip bahwa keganasan cacar tentu tak hanya menyerang pribumi. Pada 1658 di Banda, beberapa orang kulit putih juga terkena cacar.  “Namun, penderitaan mereka tak separah kaum terjajah. Orang-orang Eropa relatif lebih resisten terhadap cacar lantaran kualitas lingkungan hidup yang bersih dan makanan yang bergizi. Pun akses kesehatan bagi mereka terbuka lebar, berbanding terbalik dengan pribumi,” tutur dia.

Sammy menjelaskan orang Belanda menyebut cacar sebagai cacar anak atau penyakit anak-anak (kinderziekte) lantaran kebanyakan menyerang anak di bawah 12 tahun.

“Ada anggapan bahwa orang Eropa lebih kebal pada cacar, lantaran sudah mengenal penyakit ini lebih dulu sehingga imun tubuhnya pelan-pelan terbentuk untuk resisten pada cacar,” kata Sammy.

BACA JUGA : Tenggelamnya Onrut, Kapal Modern dari Feyenoord dalam Perang Banjar (1)

Sammy mengungkapkan di wilayah Kubu, Sumatera dan orang Dayak di Borneo percaya cara untuk menghindari cacar adalah dengan tidak berpergian ke dataran rendah dan berada di sekitar orang asing.

Benteng pertahanan Belanda di Muara Teweh, Barito Utara, masa perang Banjar-Barito.

“Bila harus melakukan transaksi, mereka akan melakukan barter bisu, melakukannya dari jarak jauh, dan menghindari dataran rendah, Kebiasaan itu berhasil menghindarkan orang Kubu dari epidemi cacar. Dalam seabad, tercatat hanya tiga kali Kubu terserang wabah cacar, jauh lebih sedikit dibanding daerah lain,” papar dia.

Sammy mengutip catatan Nieuwenhuis pada tahun 1894 yang menuliskan di pedalaman Borneo, perjalanan dari Pontianak ke Samarinda 1894 menunjukkan bahwa wabah cacar dan kolera, yang menyebar mulai dari pesisir ke arah udik, cukup lazim, sering meniadakan seperempat sampai sepertiga penduduk dari kampung yang tertular.

BACA JUGA : Perang Banjar di Hulu Barito dan Karamnya Onrust (2)

“Malaria dan sifilis kronis sangat lazim di wilayah Kapuas, Mahakam dan Apokayan. Pengamatan-pengamatan tersebut menarik perhatian pemerintah, yang tidak lama kemudian mendirikan stasiun-stasiun medis dengan dokter-dokter keliling di wilayah-wilayah itu,” pungkas Mansyur.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.