Melestarikan Kuntau di Tengah Langkanya Guru Bela Diri Tanah Banjar

0

AKULTURASI budaya Banjar yang bercorak kemelayuan dengan seni bela diri asal Tiongkok, melahirkan jurus-jurus mematikan dalam kuntaw atau ada juga yang menyebut dengan kuntau. Dari maknanya, kuntaw atau kuntau itu berasal dua kata yakni kun yang berarti jadi, dan tau membawa maksud isyarat.

NAH, untuk menghidupkan kembali tradisi bakuntaw atau bakuntau itu, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya Banjarmasin di Jalan Brigjen H Hasan Basry menggelar seni pertunjukan bertajuk “Membawa Langkah Menjunjung Adat” yang dibawakan Sanggar Seni Ading Bastari asal Kabupaten Tapin. Sedangkan, tradisi kuntau atau bakuntau yang kental dengan budaya Banjar Hulu  disuguhkan Perkumpulan Kuntau Jasa Datu Macan Kumbang Haruyan, Hulu Sungai Tengah (HST) di Balairung Sari Taman Budaya Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Sabtu (25/2/2017) malam.

Agar tradisi bakuntau ini tak hilang ditelan zaman, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan, HM Yusuf Effendi berharap lewat pentas seni pertunjukan ini bisa lebih memperkenalkan tradisi kuntau agar mendunia. “Tradisi olahraga bela diri khas Banjar ini harus tetap terjaga. Bahkan, bisa dibangkitkan menjadi cabang olahraga yang mendunia, seperti pencak silat,” ucap Yusuf Effendi didampingi Kepala UPTD Taman Budaya Kalimantan Slatan, Fahrurrazi.

Seirama dengan itu, Fahrurrazi mengatakan bela diri kuntau memiliki karakteristik tersendiri, dengan aspek kebugaran. “Dalam raga yang sehat ada jiwa yang sehat,” ujar Fachrurrazi.

Terkait guru Kuntau, ia mengakui saat ini terbilang langka dan sulit dicari, terutama guru-guru yang berkualitas serta memiliki nilai kejiwaan yang terkandung dalam seni bela diri Banjar. “Kami juga mencari sampai ke Banua Anam,” tutur mantan atlet catur nasional ini. Fahrurrazi mengatakan kuntau tradisional Banjar  memiliki nilai terkandung antara yang baik dan kurang baik. “Silat modern dan kuntau akan dijadikan warisan budaya dunia,” kata pria yang hobi catur ini.

Sedangkan,  Yusuf menambahkan untuk mengangkat kembali budaya kuntau, tentu perlu sebuah kajian mendalam dari sisi keilmiahannya. “Saat ini masih diinventarisir budaya-budaya kuntau yang ada di semua daerah. Termasuk, di setiap kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan ini tentu memiliki guru kuntau yang mumpuni,” tandas Yusuf lagi.(jejakrekam)

Penulis : Afdi NR

Editor  : Didi GS

Foto    : Afdi NR

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.