ACT

Berawal dari Hong Kong, Kasus Flu Spanyol Seabad Lalu, 1.424 Warga Banjarmasin Menjadi Korban (1)

0 787

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

SEKITAR dua pekan terakhir penyebaran kasus virus Corona terus meluas ke berbagai negara di seluruh dunia. Dari data www.kompas.com, berdasarkan peta penyebaran Covid-19, Coronavirus COVID-19 Global Cases by John Hopkins CSSE, hingga Rabu (4/3/2020) pagi, jumlah kasus virus Corona di seluruh dunia telah mencapai 92.860 kasus dengan korban meninggal sebanyak 3.162 orang.

SEKITAR 76 negara di seluruh dunia yang mengonfirmasi terinfeksi virus Corona. Walaupun demikian secercah harapan muncul ketika jumlah pasien yang dikabarkan sembuh terkait virus Corona juga mengalami peningkatan cukup signifikan. Pada wilayah China atau Tiongkok sendiri, lebih dari 50 persen pasien virus Corona berhasil sembuh.

Sementara di Indonesia, pemerintah kembali mengumumkan adanya tambahan pasien positif virus corona Covid-19 pada hari Rabu (11/3/2020). Ada 7 kasus positif yang disampaikan sehingga total jumlah pasien corona mencapai 34 orang. Demikian halnya di Banjarmasin, data terakhir Dinas Kesehatan Banjarmasin per 13 Maret 2020, memantau 32 orang yang diduga suspect virus.

BACA : Banjarmasin, Kota Sungai Dihantui Bayang Krisis Air Bersih ‘Abadi’

Hingga saat ini, 22 orang sudah dinyatakan sehat, tidak terjangkit positif Covid-19. Dari 32 orang itu, 22 orang sudah dinyatakan sehat dan sisa 10 orang yang kondisinya masih dipantau.

Wajar jika “kegemparan” karena virus corona juga melanda Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Walaupun kota di ujung selatan (Borneo) ini belum ada yang positif terkena dampak virus Corona, tentunya perlu kewaspadaan tinggi. Semua pihak pun siaga menanggulangi masuknya virus mematikan ini ke Banua.

Masuknya pandemi virus mematikan sebenarnya bukan hal baru melanda wilayah Banjarmasin dan sekitarnya. Tepat satu abad silam, tahun 1918-1919, flu Spanyol yang mengguncang dunia, juga melanda wilayah yang termasuk dalam Karesidenan Borneo bagian selatan dan timur ini. flu yang oleh masyarakat Banjar dinamakan “Penjakit Aneh”, “Penjakit Rahasia”, dan “Pilek Spanje” ini telah menjadi pandemi yang menjangkiti ribuan warga di Banjarmasin. Sebagai perbandingan awal, data saat itu, flu Spanyol membunuh sekitar dua sampai 20 persen penderita

yang terinfeksi. Menurut www.historia.com., persentase tersebut jauh lebih besar dibandingkan influenza biasa yang hanya mampu membunuh 0,1 persen dari total penderita. Dahsyatnya serangan wabah ini membuat virologis Amerika Serikat Jeffery Taubenberger menyebut Flu Spanyol sebagai “The Mother of All Pandemics.”

Pada sumber lain, data dari website www.historia.com, juga melansir jumlah korban tewas diperkirakan mencapai 21 juta jiwa (John Barry) hingga 50-100 juta jiwa (Nial Johnson dan Juergen Mueller), di mana kematian terbesar terjadi pada balita, orang berumur 20-40 tahun, dan orang berumur 70-74 tahun.

BACA JUGA : Bertambah 2, Jumlah Pasien Dalam Pengawasan Covid-19 di RSUD Ulin Menjadi 5 Orang

Hal demikian berarti, dalam kurun waktu Maret 1918-September 1919, Flu Spanyol merenggut sekitar dua persen populasi dunia yang saat itu berkisar 1,7 miliar orang. Angka tersebut jauh melebihi jumlah korban Perang Dunia I yang berkisar 9,2 juta-15,9 juta jiwa.

Tahun 1918 yang menjadi tahun genting dalam sejarah umat manusia. Pandemi ini terjadi secara global.Seiring dengan babak pamungkas dari Perang Dunia I, pada tahun ini umat sejagat pun diuji dengan merebaknya pandemi flu ganas, pandemi flu Spanyol.

Flu Spanyol, menurut Novita Rusdiana Dewi (2013) disebabkan oleh virus influenza tipe A dengan subtipe H1N1 yang dengan cepat menyebar ke dunia dan diperkirakan menjadi virus influenza terganas dalam sejarah kesehatan.

Penyebaran Flu Spanyol di Hindia Belanda (Indonesia sekarang) terjadi dalam dua gelombang. Pertama, Juli 1918-September 1918, sekalipun di beberapa tempat, seperti Pangkatan (Sumatera Utara), virus ini sudah menyebar pada Juni 1918. Diduga kuat penyakit itu ditularkan penumpang dari Singapura.

Sementara, kawasan timur, seperti Borneo (Kalimantan), Sulawesi dan Maluku, masih terbebas dari Flu Spanyol selama gelombang pertama.

Berbeda dengan gelombang kedua Flu Spanyol terjadi pada Oktober-Desember 1918 meski di beberapa tempat, terutama di kawasan timur, berlangsung sampai akhir Januari 1919.Menurut Priyanto Wibowo (2009) ketika itu penguasa daerah di beberapa tempat mulai melaporkan adanya kenaikan jumlah pasien influenza dalam jumlah yang sangat mengejutkan.

Pada awal November 1918, Residen yang berkedudukan di Banjarmasin telah mengirimkan telegram darurat yang menyatakan bahwa daerahnya terserang wabah influenza. Hal ini dirangkum dalam koleksi ANRI, TZG-Agenda nomor 35536/18, bundel Algemeen Secretarie. Pandemi flu Spanyol diduga berasal dari Hong Kong.

BACA LAGI : Tunggu Hasil Uji Laboratorium, Lima Pasien Masih Diisolasi Di RSUD Ulin

Pemerintah Hindia Belanda melakukan pencegahan kepada kapalkapal dari Hongkong yang merapat di pelabuhan wilayah Hindia Belanda seperti Pelabuhan Banjarmasin untuk menurunkan penupang. Pengawasan difokuskan terhadap kapal-kapal yang datang dari Hongkong dan telah transit di Singapura menuju Banjarmasin.

Dalam telegram tersebut menurut Nofota Rusdiana Dewi (2013) dijelaskan bahwakeadaan di Banjarmasin sedang kacau. Inspektur kesehatan melaporkan adanya peningkatan kematian yang tinggi. Kematian tersebut pada umumnya disebabkan oleh penyakit Spanyol. Penyakit Spanyol disini dapat diartikan sebagai influenza/Spanis Griep atau flu Spanyol.

BACA JUGA : Sejak Januari, Dinkes Sebut 32 Orang Dalam Pemantauan Covid-19 Di Banjarmasin

Dalam telegram tersebut, Residen Borneo Timur dan Selatan yang berkedudukan di Banjarmasin melaporkan sebanyak 1.424 orang di daerahnya telah tercatat menjadi korban penyakit influenza. Pada tanggal 30 November 1918, Asisten Residen Buleleng melaporkan hal serupa kepada pemerintah di Batavia dengan mengatakan bahwa penyakit ini telah memakan banyak korban penduduknya. Tiga hari kemudian, pada tanggal 2 Desember 1918, Asisten Residen Banyuwangi juga melaporkan hal serupa.

Banjarmasin menjadi lokasi pertama di gelombang kedua tahun 1918, yang mengawali kasus kemunculan influenza (flu spanyol). Kasus ini pertama kali dilaporkan terjadi di Pelabuhan Banjarmasin, Makassar, dan Buleleng di Pulau Bali. Kasus flu spanyol diduga ditularkan penumpang kapal-kapal yang berlayar dan pulang ke Bandjakarta, Bawean, dan Batavia. Diantaranya para penumpang dari kapal S. S. Camphuys, S. S. Van Hoorn, S. S. Van Rees, dan S. S. Senang.

BACA JUGA : Bentuk Tim Gugus Tugas, Kalsel Tetapkan Status Siaga Darurat Covid-19

Priyanto Wibowo (2009) juga mengungkapkan dalam waktu singkat, yaitu sekitar satu minggu, penyakit ini mulai menyebar ke Jawa Timur. Surabaya, sebagai kota pelabuhan utama, juga diserang wabah influenza dan menjadi pintu penyebaran masuk hingga ke daerah sekitarnya. Pada akhir November 1918, Pemerintah Hindia Belanda telah menerima laporan bahwa penyakit itu telah melanda Jawa Tengah dan memasuki wilayah Jawa Barat.

Beberapa tempat menunjukkan adanya kenyataan bahwa influenza merupakan sebuah penyakit baru yang melanda daerah tersebut. Sementara itu, lokasi lainnya menunjukkan bahwa penyakit flu telah melanda daerah tersebut beberapa bulan sebelumnya.

Para pejabat tersebut melaporkan kepada pemerintah di Batavia dengan menggunakan TZG atau Telegram van zeer geheim, yang biasanya digunakan oleh birokrasi Belanda untuk menunjukkan kondisi darurat dan mendesak. (jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.