Pakai Tablet Android, Anak Berkebutuhan Khusus Lebih Nyaman Belajar

KECANDUAN anak terhadap gawai bisa diarahkan ke hal positif. Media berbasis informasi teknologi ini bisa menjadi wahana pembelajaran bagi anak, khususnya anak berkebutuhan khusus. Inovasi ini dikembangkan Abdul Halim, hingga menyabet penghargaan.

ABDUL Halim merupakan guru SLB Negeri Pembina Provinsi Kalsel terpilih sebagai penerima penghargaan Anugerah Guru Indonesia (AGI) 2019 oleh Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI) di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (20/9/2019) lalu.

Sang pendidik ini memenuhi dua kriteria penilaian karena inovasinya dalam proses pembelajaran di kelas serta peningkatan kompetensinya sebagai seorang guru.

Inovasi yang dilakoni Abdul Halim dalam penggunaaan tablet berbasis android untuk media pembelajaran berhasil mengembangkan pola digitalasi pendidikan, hingga akhirnya IG disupport PT Samsung Elektronik Indonesia, kepincut.

BACA : Menjadi Orangtua dengan Anak Berkebutuhan Khusus

Dalam kreativitas guru, Halim termasuk yang sering masuk finalis hingga pada AGI 2019 membuahkan hasil, karena pola pembelajaran terhadap anak penyandang disabilitas lewat tablet berbasis adroid dianggap sangat bermanfaat bagi digitalisasi pendidikan di Indonesia.

“Awalnya, saya iseng saja mengirim video, karena saya sudah terbiasa menggunakan tablet android dengan tambahan pen stylus pada proses pembelajaran di kelas. Ternyata, pola pembelajaran itu menarik IGI pusat dan saya mendapat penghargaan,” ucap Abdul Halim kepada jejakrekam.com di Banjarmasin, Rabu (25/9/2019).

Sebagai pengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan menggambar, Halim pun bisa memancing reaksi para siswanya di SLB Pembina Provinsi Kalsel untuk belajar dengan nyaman khususnya bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) baik tunagrahita, tunarungu, tunadaksa, autis, ADHD dan lainnya.

“Dalam proses belajar, ABK tentu memilih berbagai hambatan sesuai ketunaannya. Tentu perlu media untuk memudahkan mereka menyerap pelajara. Dengan tablet android, saya bisa mengajar anak satu per satu melalui pendekatan individual,” papar Halim.

Guru yang hobi melukis ini mencontohkan siswa kelas 3 SDLB bernama Alung. Siswa ini penyandang tunadaksa karena hanya memiliki satu tangan dan tak punya jari jemari. Untuk menopang tubuhnya, Alung yang hanya memiliki satu kaki ini tentu tak kuat.

“Namun, Alung merupakan anak yang percaya diri dan ceria. Dia suka bercerita, dengan menggunakan aplikasi “Speak to Tex” di google, saya cobakan dia untuk menulis dengan mulutnya. Kawan-kawan guru di IGI biasa memakai aplikasi Menemu Baling (menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga). Cukup dengan berbicara, tulisan pun muncul sendiri. Tentu akan memudahkan dia menulis tanpa tangan,” beber Halim.

BACA JUGA : Anak Berkebutuhan Khusus Berpotensi Menjadi Anak yang Jenius

Begitu pula, untuk menggambar, tablet android punya perangkat pen stylus. Pen ini pun memudahkan Alung menggambar dan mewarna sesuka hati. Kemudahannya adalah cukup menyentuhkan mata pen ke layar, tanpa menekan, maka objek pun jadi.

“Pertama mencoba, ternyata dia cukup pintar dengan menyelipkan pen ini di lipatan lengan bajunya sehingga pen tidak jatuh ketika diangkat,” kata Halim.

Lain lagi dengan Aulia. Siswa kelas 12 SMALB ini merupakan penyandang autis dan low vision. Autisnya menyebabkan dia sesekali akan tantrum, berteriak-teriak dan tak bisa diam. Satu matanya sudah tak bisa melihat dan satu matanya lagi hanya bisa melihat pada jarak dekat.

“Namun kelebihannya adalah ingatannya yang kuat, pintar mengaji dan bermain musik serta suka menyanyi. Aulia punya daya serap yang tinggi pada pendengarannya. Cukup dengan memperdengarkan suara rekaman bacaan Alquran, maka dia bisa mengingat dan menirukan dengan lagu dan tajwid yang benar,” ungkap Halim.

Aulia sendiri sudah hafiz beberapa surah pendek hingga hampir 1 juz. Saat ini, menurut Halim, Aulia lebih tertarik dengan arti/terjemahnya. Dengan menggunakan tablet android, Aulia bisa mendekatkan matanya dan membaca terjemahan dari running teks video bacaan Alquran.

Ada lagi Amin. Siswa kelas 8 SMPLB merupakan penyandang tunagrahita yang punya hambatan/kesulitan dalam mengingat dan menangkap pelajaran.

“Anak seperti ini dalam pembelajarannya mutlak harus menggunakan objek yang konkret. Kita tidak bisa bercerita sesuatu yang abstrak, otaknya akan kesulitan membayangkannya. Di sinilah perlunya media, gambar dan ilustrasi sebagai pendukung,” paparnya.

BACA LAGI : UNBK Gabungan SMPN 14-SMPN 16 Banjarmasin Diikuti Siswa Berkebutuhan Khusus

Lagi-lagi, tablet android yang dipakai Halim terbukti memudahkannya dalam menampilkan illustrasi atau gambar yang diinginkan kepada Amin. Berbagai aplikasi media pembelajaran dan game edukasi telah dipasang di tablet androidnya. “Dengan itu, pembelajaran akan jadi lebih menyenangkan dan efektif,” ucapnya.

Contoh terakhir adalah Aldy. Siswa kelas 5 SDLB merupakan penyandang Tunarungu yang tak bisa mendengar dan berbicara. Namun, Aldy punya kelebihan dalam menggambar.

“Dengan menggunakan pen stylus di tablet android, memudahkan saya  membuatkan contoh sket atau objek gambar, tanpa harus menggunakan kertas dan peralatan gambar lainnya,” tutur Halim.

BACA LAGI : Catatan Ombudsman bagi Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun 2019

Dengan empat contoh ABK itu, Halim berkeyakinan betapa uniknya para siswanya di tengah keterbatasan tersimpan potensi dan kelebihan yang bisa jadi tak dimiliki oleh anak-anak umumnya.

“Dari sini, tugas guru adalah mengembangkan potensi mereka sehingga kelebihan dan keunikan mereka itu bisa dimanfaatkan dengan baik untuk kehidupan mereka.  Alhamdulillah, tablet android dengan pen stylus, jelas memudahkan saya mengajar anak-anak ABK. Termasuk, bisa menyalurkan hobi saya dalam melukis,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Didi GS