Bajakah Ada Banyak Jenis dan Khasiatnya, Ini Penjelasan David Suwito

BAJAKAH dalam bahasa Dayak Ngaju berarti akar-akaran. Sedangkan, dalam bahasa Maanyan dinamakan wakai, yakni ratusan spesies tumbuhan pembelit-pemanjat yang ada di hutan hujan Kalimantan. Jadi, bajakah bukan spesies, tapi nama sekelompok akar-akaran.

HAL ini diungkapkan David Suwito, Widyaiswara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam akun facebooknya, David Su yang dikutip jejakrekam.com, Kamis (15/8/2019).

Menurut David Suwito, pemanfaatan bajakah untuk obat kanker sudah dilakukan masyarakat Dayak Ngaju sejak ratusan tahun silam dari kearifan lokal masyarakat setempat.

“Jadi, adik-adik SMA 2 Palangka Raya kemarin bukan penemu pertama, hanya memperkenalkan dunia tumbuhan bajakah dalam upaya mempresentasikan tumbuhan khas hutan hujan Kalimantan dan itu layak untuk diapresiasi,” ucap David Suwito.

Mahasiswa doktoral ilmu lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini mengingatkan agar berhati-hati menggunakan bajakah untuk pengobatan kanker. Menurut David Suwito, hanya penduduk asli yang mengetahui bakajah yang asli, sehingga bagi orang yang tak memiliki penyakit jika mengkonsumsi malah menjadi racun. “Ada kandungan bahan aktif yang kuat di dalamnya yang akan berbahaya,” beber David.

BACA : Kayu Bajakah Obat Kanker, Khasiat Kelakai Diteliti Fakultas Kedokteran ULM

Jebolan Master of Environmental and Energy Management, University of Twente, Enschede Belanda ini mengungkapkan ada bajakah merah yang airnya bisa diminum dari tebasan batangnya, namun tak punya khasiat. Ada pula, menurut David, bajakah yang bersifat racun yang digunakan sebagai tuba untuk membuat ikan lemas, dengan terlebih dulu dipikul hingga berbusa.

“Bajakah juga bisa digunakan sebagai sampo untuk mencegah kerontokan rambut. Ada pula bajakah yang digunakan untuk mengusir makhluk halus, bajakah untuk mengikat sesuatu, anti bisa ular, untuk sabun mandi, obat penyakit kulit, obat KB, obat kuat, ada lagi bajakah untuk menyembuhkan keputihan,” tutur sarjana manajemen hutan Universitas Palangka Raya ini.

Masih menurut David Suwito, ada pula bajakah untuk memperbesar penis, ada bajakah sangat beracun yang getahnya buat mata sumpit, ada bajakah tempat ayun-ayun dan main di hutan dan ratusan lainnya.

“Jadi, jangan asal konsumsi bajakah. Karena jika tidak sesuai jenisnya, malah bisa membawa maut. Nah, berdasar pengalaman dan kesaksian, hanya bajakah kuning yang viral itu efektif untuk kanker payudara,” kata David Suwito.

Untuk itu, peraih S2 Perencanaan Pengelola SDA dan Lingkungan Universitar Padjajaran (Unpad) Bandung ini juga menyarankan dengan ratusan jenis bajakah jika ingin untuk pengobatan harus dipastikan diantar penduduk lokal yang sudah mengenal tumbuhan itu secara turun temurun.

“Selain bajakah, sebenarnya adalah ribuan jenis tanaman obat yang dimanfaatkan masyarakat Dayak di Kalimantan,” ucap David Suwito yang berdarah Dayak Maanyan ini.

BACA JUGA : Moratorium Sawit, 12 Protokol Masyarakat Adat Dayak Perlu Diperjuangkan

Dalam postingannya lagi, David Suwito juga meminta berhati-hati dengan penawaran akar bajakah yang tengah boming dengan harga Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per bungkus. Menurut dia, bajakah kuning yang berkhasiat itu juga memiliki khasiat berbeda.

“Bajakar akar kuning itu memang obat, tapi obat diabetes dan gangguan fungsi hati bukan kanker. Berdasar tetua kampung atau ahli pengobatan Dayak Ngaju, bajakah untuk kanker juga harus ada aturannya, tidak bisa direbus dan diminum begitu saja,” tutur David.

Sumber Foto : Khasiat.co.id

 

Ia menguraikan paling umum aturannya adalah yang sakit ikut ke hutan untuk minum air langsung dari tebasan pertama di hutan, baru dilanjutkan dengan minum rebusannya. Tahap kedua, saat menggunakan bajakah ini tidak boleh mengkonsumsi cabe dan lada dalam bentuk apapun.

“Setelah sembuh, ada ada pamali khusus (pantangan khusus) yaitu tidak boleh mengkonsumsi makanan olahan yang berpengawet. Biasanya hanya disarankan makan sayur, jamur dan juhu ikan sungai segar,” tuturnya.

BACA LAGI : Datoe Bukit dan Hutan Meratus yang Menyimpan Mozaik Tumbuhan Berkhasiat

David menjelaskan juhu merupakan masakan khas Dayak yang dibumbui seperti asam kuning plus diberi sayuran hutan atau sayur organik dari ladang.  “Berikutnya, tidak boleh makan makanan hangus atau berkerak,” katanya.

Untuk ke hutan, pengambilan bajakah untuk kanker ini ada syaratnya juga, semisal beras dan telur dalam piring untuk meminta izin ke “pemilik hutan”. Begitu pula, dalam kondisi khusus, tabib tradisional juga akan mengkombinasikan dengan konsumsi bawang Dayak merah dan akar benalu,” tuturnya.(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi