The Banjarmasin Secret; Berburu Harta Karun BJ Haga, Gubernur Borneo Tahun 1938-1942 (4)

Oleh : Mansyur 'Sammy'

Foto : Dok KTLV/Pribadi

DARATAN Borneo, ternyata menyimpan sejumlah harta karun yang menunggu ditemukan pemburunya. Satu diantaranya adalah harta karun yang disimpan Bauke Jan Haga. Gubernur yang pada masa Hindia Belanda di Borneo bagian Selatan dan Timur (sekarang menjadi wilayah Kalsel, Kalteng dan Kaltim) tahun 1938-1942.

ATAS perintah Gubernur Bauke Jan Haga harta kekayaan pejabat militer, pejabat pemerintah, saudagar Cina, Arab dan hasil tambang emas di Gunung Mas, Pengaron, Muara teweh, Intan di Cempaka, dikumpulkan dan disimpan di suatu tempat.

Sudah tiga seri tulisan ini dibuat. Terakhir edisi 17 Juli 2018, setahun yang lalu. Tulisan tidak berlanjut ke seri terakhir karena banyaknya kendala terutama bersangkutan dengan perburuan harta karun yang melibatkan sejumlah pihak. Akhirnya bermuara pada keping keping sejarah tertentu yang riskan, agak sensitif diungkap. Hingga saat ini, perburuan tetap dilakukan dan dimana harta tersebut disembunyikan, masih menjadi misteri dan teka teki.

Seperti dijelaskan di artikel sebelumnya, Gubernur Bauke Jan Haga sudah memperhitungkan hal-hal terburuk di akhir pemerintahannya. Sejak tahun 1943, setelah Jepang berekspansi di Borneo mulai memburunya. Hasilnya nihil. Tentara pendudukan Jepang yang berupaya mengorek keterangan hingga menyiksanya sampai mati, tidak mendapatkan apa-apa.

BACA : The Banjarmasin Secret : Berburu Harta Karun BJ Haga, Gubernur Borneo Tahun 1938-1942 (3)

Bauke jan Haga, Gubernur Borneo menyimpan rahasia harta ini sampai dia meninggal dalam penyiksaan di Benteng Tatas, Banjarmasin (sekarang lokasi Masjid Sabilal Muhtadin) pada tahun 1943.

Pada tahun 2017 lalu, perburuan harta berharga ini mengemuka. Tepatnya di bulan Mei 2017 lalu, dalam tulisan Pramudya Handoko “Memburu Harta Karun Bauke Jan Haga di Pedalaman Kalimantan”dalam himpas-dki.blogspot.co.id. Tulisan ini dibuat berdasarkan sumber dan saksi-saksi yang ikut dalam pencarian harta tersebut.

Semua orang, baik orang dekat Haga hingga pengawalnya yang setia, termasuk istrinya tidak ada yang tahu dimana harta tersebut disembunyikan. Sejak tahun 1942, selama kurang lebih 75 tahun harta itu terpendam di bumi Borneo, tanpa ada yang menemukannya.

Hingga masa kemerdekaan ditandai kekalahan Jepang atas sekutu tahun 1945 sampai masa Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi, animo masyarakat mendapatkan harta ini tidak surut. Perburuan harta pun melihatkan warga lokal secara diam diam. Sayang, tidak berbuah hasil. Bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Dalam penelusuran penulis, terdapat dua lokasi dugaan keberadaan harta karun Haga. Pertama di wilayah Mandiangin (Kalimantan Selatan). Kedua, harta karun ada di wilayah Kapuas hingga Puruk Cahu (Kalimantan Tengah).

BACA JUGA : The Banjarmasin Secret : Berburu Harta Karun BJ Haga, Gubernur Borneo Tahun 1938-1942 (2)

Dugaan bahwa harta karun ada di Mandiangin, dilatari beberapa hal. Dalam website oorlogsgravenstichting.nl dituliskan bahwa pada suatu kesempatan sekitar tahun 1939 wilayah Banjarmasin (Kantor Gubernur) dikunjungi oleh Menteri Eelco Nicolaas van Kleffens.

Dalam kunjungan Kleffens ini, Haga menyelenggarakan perayaan selama empat hari di Borneo, tepatnya di suatu tempat berjarak sekitar 40 kilometer yang bersuasana panas tropis. Kemungkinan daerah tempat penyelanggaraan pesta yang dimaksud adalah wilayah Bukit Besar Mandiangin. Alasannya, karena tempat inilah yang berjarak sekitar 40-50 kilometer dari Banjarmasin. Kemudian kondisi geografis di Bukit Besar umum-nya dicirikan iklim tropis.

Pada sumber Majalah (Magazine) Tropisch Nederland, Tijdschrift ter Verbreiding van Kennis omtrent Oost en West Indie edisi (volume) ke 12 tahun 1939-1940, tertulis BJ Haga membangun pesanggrahan (tempat peristirahatan) yang dilengkapi kolam renang (zwembad) dan lapangan tenis (tennisbaan) yang diresmikan 26 Ferbruari 1939.

Kemudian BJ Haga juga dipercayakan menjadi Ketua Afdeling Zuid-Oost Borneo van de Stichting Centrale Vereeniging tot bestrijding der Tuberculose in Nederlandsch Indie (Ketua Yayasan Central Masyarakat, Afdeeling Kalimantan bagian selatan dan timur untuk memerangi Tuberkulosis di Hindia Belanda) tahun 1938-1941, membangun Sanatorium Mandiangin sebagai pusat pengobatan penyakit Tuberculose atau TBC di Mandiangin.

BACA LAGI : The Banjarmasin Secret : Berburu Harta Karun BJ Haga, Gubernur Borneo Tahun 1938-1942 (1)

Berdasarkan informasi masyarakat setempat terdapat ruang bawah tanah (bungker), yang diduga sebagai tempat penyimpanan harta karun. Akses ke ruang bawah tanah tersebut adalah Sanatorium Mandiangin yang bersebelahan dengan pesanggrahan Mandiangin. Pesanggrahan ini sekarang sudah dibangun menjadi bangunan “pesanggrahan” baru yang representatif oleh pihak Balai Tahura Mandiangin.

Karena begitu pentingnya wilayah ini sehingga Ratu Juliana, Putri Ratu Wilhelmina dari Belanda di tahun 1939, diam diam datang ke wilayah ini untuk meresmikan Pesanggrahan dan Sanatorium Mandiangin. Menurut masyarakat setempat, bangunan Hindia Belanda di Bukit Besar Mandiangin terinspirasi bangunan villa yang megah di daerah Puncak, Jawa Barat. Bangunan diresmikan Ratu Juliana, Putri Ratu Wilhelmina. Kunjungan ini bukan kunjungan biasa, tetapi berkaitan dengan rencana menyimpan harta karun Haga di wilayah Mandingin.

Pada masa Jepang tahun 1942-1945, mereka juga mengorek keterangan tentang harta karun Haga. Pendudukan Pulau Borneo mula-mula oleh Angkatan Darat sekaligus pendudukan atas kota Banjarmasin pimpinan Kapten Okamoto berlangsung sampai dengan Mei 1942. Pada bulan Mei 1942 itu pula, Angkatan Laut Jepang menggantikan Angkatan Daratnya seraya mulai menyusun Pemerintahan (Pemerintahan Militer) berpusat di Banjarmasin.

BACA LAGI : Ini Bukti Warisan Kesultanan Banjar Itu Kaya Raya, Sayang Rakyat (Belum) Sejahtera?

Keterangan lisan lain dari masyarakat mengemukakan Pemerintahan Angkatan Laut Jepang menjaga ketat wilayah Mandiangin untuk melindungi sekaligus memfasilitasi pencarian harta ini. Sayangnya, karena perebutan internal Pemerintahan Angkatan Laut Jepang sehingga terjadi konflik perebutan harta ini di Mandiangin. Tembak menembak antara sesama tentara pemerintahan Jepang ini, bahkan terdengar sampai di desa desa sekitar wilayah Mandiangin.

Konflik ini akhirnya sampai ke telingan pemimpin tertinggi Tentara Pendudukan Jepang di Banjarmasin, sehingga akhirnya wilayah Mandiangin ditutup dari akses berita dan aktivitas wilayah.Akhirnya struktur geografis Mandingin (bukit besar), nya mulai diubah oleh tentara Jepang. Sampai sekarang akan terlihat di beberapa tempat wilayah geografis bukit besar tidak alami.

Menurut masyarakat ini adalah upaya untuk mengaburkan lokasi harta. Sampai akhir pendudukan Jepang tahun, harta ini masih tersimpan di Mandiangin. Pada waktu itu menurut keterangan masyarakat setempat pemerintah Jepang kemudian membuat pemetaan lokasi harta yang kemungkinan besar di kemudian hari bisa diambil. Peta itu ada di tangan Kaisar Jepang. Kebenarannya, tentunya masih tanda tanya.

Pada versi lain, diperkirakan Jepang berhasil membawa beberapa harta karun yang disimpan di Mandingin. Dibuktikan pada saat Jepang menyerah dalam Perang Pasifik tahun 1945, tentara Jepang yang dilucuti sekutu tertangkap tangan membawa banyak butiran intan. Intan diletakkan dalam Pedang Samurai. Jadi pedang samurai tentara Jepang ini hanya dilengkapi tsuka atau gagang yang dibungkus erat dengan kain yang disebut tsukaito. Kemudian bagian saya (sarung katana), yang terbuat dari kayu.

BACA JUGA : Cerita Keris Abu Gagang dan Pangeran Hidayatullah di Tanah Pengasingan

Pada masa kemerdekaan pun, keberadaan harta karun Haga di Mandiangin ini tetap menjadi rahasia publik. Banyak hal yang menjadi indikasi. Di antaranya kunjungan Presiden RI, yang selalu datang ke Mandiangin setiap periode pemerintahan. Mulai dari Soekarno hingga Presiden Jokowi. Kunjungan ini bisa berupa lawatan diam diam maupun dibalut acara kenegaraan.

Apakah ada hubungannya dengan harta karun? Tentunya hanya segelintir pihak tertentu yang tahu. Karena itulah status Mandiangin dijadikan hutan lindung, sehingga tidak sembarang orang bisa melakukan aktivitas merusak alam di wilayah ini. Menurut dugaan masyarakat setempat, ini hanya pengalihan dari upaya sebenarnya melindungi harta karun. Wallahu a’lam.

Demikian juga terkait dengan pembangunan Waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ir.P.M. Noor yang merupakan satu-satunya PLTA di Kalimantan Selatan. Ir. P.M. Noor adalah mantan Menteri Pekerjaan Umum tahun 1956-1959 dan Gubernur Kalimantan tahun 1945-1950. Berkat waduk ini PT. PLN berhasil menggerakkan generator turbin hingga 3 x 10.000 KW yang berguna menerangi masyarakat Kalimantan Selatan, bahkan Kalimantan Tengah.

Peristiwa pelaksanaan pengalihan sungai ini terjadi pada tanggal 18 Juli 1969, terjadi peristiwa heroik. Tampil sebagai pahlawan, operator Hazama Gumi dari Jepang. Operator warga Jepang tersebut akhirnya ditunjuk memasukkan bulldozer ke tengah sungai yang makin menyempit, dan tindakan yang cukup berbahaya ini akhirnya berhasil dilakukan. Pembangunan Waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ir.P.M. Noor menurut masyarakat setempat adalah bantuan Jepang.

BACA LAGI : Keraton Dibumihanguskan, Belanda Sita Regalia Kesultanan Banjar

Akan tetapi sebenarnya bukan bantuan semata, tanpa embel apa apa. Semasa pengerjaan Waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ir.P.M. Noor, hampir setiap malam helikopter Jepang turun di wilayah Bukit Besar, Mandiangin. Diduga melakukan upaya awal dalam pencarian harta karun. Dalam perkembangannya, tidak ada berita apakah harta ini ditemukan atau tidak. Mencari rahasia dari segelintir kalangan.

Terlepas dari hal ini, wilayah mandiangin kini menjadi referensi dari para pemburu harta karun. Mengapa hal ini diungkap ke publik? sebenarnya memberikan pelajaran bahwa untuk mencapai sesuatu, mendapatkan hal dan kesuksesan perlu perjuangan. Catatan sejarah memberikan pelajaran di masa lalu.

Selain wilayah Mandiangin, ada dugaan lain mengenai harta karun BJ Haga di wilayah Kalimantan Tengah. Bagaimana proses dan hasilnya? Apakah harta karun sudah didapatkan? Akan dijawab dalam artikel berikutnya sebagai tulisan terakhir. (jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin