Jalan Dakwah Syekh Ali Junaidi Al Banjary, Sebarkan Islam ke Negeri Serawak dan Berau

SATU lagi mutiara bersinar dari Tanah Banjar. Syekh Ali Junaidi Al-Banjary, begitu panggilan familiar Qadhi H Muhammad Ali Junaidi bin Qadhi H Muhammad Amin bin Mufti H Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary. Namanya pun mashyur di daerah Berau, Kalimantan Timur sebagai ulama terkemuka dan dihormati hingga kini.

SEJARAWAN muslim UIN Antasari Banjarmasin Humaidy Ibnu Sami mengungkapkan Syekh Junaidi lahir dan dibesarkan di Kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar 1285 Hijriyah atau 1864.

Dari pusat ilmu di Tanah Banjar, Syekh Junaidi muda belajar dari orangtua dan paman-pamannya yang merupakan ulama di Kampung Dalam Pagar, terutama baca tulis Arab dan Melayu Arab.

“Begitu dianggap fasih membaca Alquran, menulis Arab dan Melayu Arab, serta berbahasa Arab, dikirim belajar ke Tanah Suci Makkah untuk memperdalam ilmu agama,” tutur Humaidy Ibnu Sami kepada jejakrekam.com di Banjarmasin, Selasa (7/5/2019).

Menimba dari beberapa ulama besar di Tanah Haram, Syekh Ali Junaidi terasah keilmuannya, dalam bidang hukum Islam (fiqih), tauhid dan tasawauf. Hingga, bermukim beberapa tahun dan mengenal dekat budaya Arab.

BACA : Berawal dari Dalam Pagar, Lahir Pondok Pesantren di Tanah Banjar

Meski akrab dengan kultur Timur Tengah, Humaidy menyebut Syekh Ali Junaidi tetap tak melupakan jati dirinya sebagai orang Melayu atau Jawi.

“Makanya, namanya dikenal dengan sebutan Ali Junaidi Banjar di Makkah. Kemudian, Ali Junaidi menikah dengan perempuan Arab, hingga lahir seorang putra diberi nama Hasan. Anak Ali Junaidi, kemudian digelar Hasan Jawi atau Hasan Junai Banjar,” kata Humaidy.

Hingga pada 1947-an, Syekh Hasan Junai Jawi pernah menjadi muazzin  di Masjid Haram Makkah. Sementara, sang ayah memilih balik kampung ke Martapura. Sempat berdakwah di Tanah Banjar saat berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda, hingga akhirnya menjalani misi pencerahan ke Negeri Sarawak, Malaysia Timur, ketika ini masih berstatus negeri koloni Inggris.

“Dalam menjalankan misi dakwah ke Serawak, Syekh Ali Junaidi didampingi keponakannya, Syekh Ismail Khatib. Cukup lama mereka menetap di Mukah, Serawak menjadi guru agama di negeri jiran ini. Diperkirakan sekitar tahun 1898 Masehi atau 1315 Hijriyah,” beber Humaidy.

Di kampung yang terletak di tepian Sungai Batang Mukah, Syekh Ali Junaidi menikah dengan seorang wanita Melayu, dan melahirkan zuriat hingga sekarang di Serawak, Malaysia. Usai dari Mukah, Syekh Ali Junaidi kembali lagi ke Martapura. Tak seberapa lama, Syekh Ali Junaidi kembali dikirim berdakwah ke daerah kekuasaan Kerajaan Berayu atau Berau, Kalimantan Timur. Saat itu, kerajaan ini terbelah menjadi dua, Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung.

“Sebagai pendakwah Islam, Syekh Ali Junaidi memilih tinggal di posisi tengah, antara Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung, tepatnya di tepi Sungai Segah, berada di hilir Sungai Batumiang,” kata lulusan S2 UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini.

BACA JUGA : Menuju Haul ke-212 Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary di Dalam Pagar Martapura

Keberadaan Syekh Ali Junaidi ini sangat mewarnai kampung itu hingga kini dikenal dengan Kampung Banjar. Persisnya, di Jalan Pulau Derawan, kawasan pelabuan speedboat menuju ke Pulau Derawan, Pulau Maratua,  Pulau Sangalaki dan lain-lain.

“Saat mendirikan semacam pondok pesantren, Syekh Ali Junaidi mendapat restu dari Sultan Kesultanan Gunung Tabur. Jadilah, kawasan itu menjadi pusat ilmu Islam, serta perkampungan para santri,” tutur Humaidy.

Berada di Berau, Syekh Ali Junaidi menikah lagi hingga dikarunia beberapa anak antara lain Muhammad Asy’ari, H Muhammad Yusuf, Muhammad Ja’far, Husin, Mukhtar, dan Antung Barlian. Tak hanya berdakwah di Berau, Syekh Ali Junaidi juga menyebarkan ajaran keselamatan itu ke Tenggarong, Kutai Kertanegara. Di tempat ini, Syekh Ali Junaidi menikah dengan Baiyah bin Ibrahim dan dianugerahi dua putra, Abdul Manaf dan Abdul Manan.

“Saat berdakwah di Kesultanan Gunung Tabur, Syekh Ali Junaidi dipercaya menjabat qadhi, mufti dan penasihat keraton di masa pemerintahan Hindia Belanda. Bahkan, sempat membangun masjid di daerah dakwahnya,” urai Humaidy.

BACA JUGA : Datu Kandang Haji, Pengasas Pendidikan Islam Tertua Tanah Banjar

Jalan dakwah Syekh Ali Junaidi pun terhenti. Ketika jasadnya sudah menua, hingga awal Ramadhan 1362 Hijriyah, Syekh Ali Junaidi jatuh sakit. Tepat pada 20 Ramadhan 1362 Hijriyah, salah satu mutiara Banjar ini menghembuskan nafas terakhir.

Jenazahnya dikebumikan pada Selasa, 21 Ramadhan 1362 Hijriyah bertepatan pada 1941, dalam usia 71 tahun di alkah keluarga di Kampung Banjar, Sungai Segah, Berau.

“Jasanya dalam mendakwahkan Islam baik di Serawak, Berau, Tenggarong, dan Belitung (Banjarmasin), Syekh Ali Junaidi Al Banjary pun dikenang sebagai waliyullah. Ini karena dedikasinya selama hidup mengajarkan ajaran Islam yang penuh rahmat kepada semua orang,” imbuhnya.(jejakrekam)

 

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news and updates delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time