Dirgahayu

Dari Pulau Laut ke Martapura, Jadi Juru Tulis Sultan Adam (2)

Foto : Dok Mansyur

MENGULAS keberadaan tokoh Pangeran Jaya Sumitra, sebagai Raja Pulau Laut dalam catatan sejarah, seakan selalu berselimut awan gelap. Permasalahan sumber sejarah menjadi hambatan utama dalam mendudukkan Raja Pulau Laut pertama ini sebagai tokoh nyata, bukan imajiner. Bisa juga diibaratkan bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami. Memang serba meraba-raba dalam gelap dan minimnya sumber historis yang mendukung.

PERTANYAAN yang mengemuka sebagai lanjutan dari artikel sebelumnya adalah, tahun berapa perkiraan kelahiran Pangeran Jaya Sumitra? Di mana tempat kelahirannya? Siapa ibu dari Pangeran Jaya Sumitra? Benarkah Pangeran Jaya Sumitra masih trah dari Sultan Adam bin Sultan Sulaiman? Berikutnya bagaimana perjalanan hidup Pangeran Jaya Sumitra dari Pulau Laut ke Martapura?

Munnich & E. Netscher menuliskan pada tahun 1855, Pangeran Jaya Sumitra berusia 45 tahun. Kalau dikalkulasi berarti Pangeran Jaya Sumitra lahir sekitar tahun 1810. Perkiraan awal kemungkinan sang pangeran ini lahir di wilayah Kusan. Pasalnya ayahnya, Pangeran Haji Musa, saat itu masih mengelola beberapa distrik utama di wilayah Kusan yakni Selah, Selilau dan Tamuni.

Pada daerah-daerah perbukitan di wilayah ini memang ditemukan banyak cadangan emas dan kaya akan berlian. Saat Pangeran Jaya Sumitra berusia 30 tahun, ayahnya Pangeran Haji Musa mangkat tepatnya pada Januari 1840.

BACA : Pangeran Jaya Sumitra dan Resistensi Melawan Hegemoni Kolonial (1)

Sementara itu di sisi lain, terdapat sekitar lima versi pendapat mengenai siapa ibu dari Pangeran Jaya Sumitra. Pertama, pendapat C.A.L.M. Schwanner, seorang ahli geologi kelahiran Jerman yang pernah menetap di kawasan Tanah Bumbu-Pulau Laut sekitar tahun 1845-1850-an.

Menurut Schwaner, Pangeran Haji Musa hanya beristri dua orang. Akan tetapi Schwaner tidak merinci siapa nama-nama istri Pangeran Haji Musa. Schwaner hanya menuliskan, Pangeran Haji Musa memiliki keturunan dari istri pertama yakni Pangeran Panji, Pangeran Muhammad Napis, Pangeran Abdul Kadir dan Pangeran Gusti Jamaludin. Kemudian dari istri kedua adalah Pangeran Jaya Sumitra.

Versi kedua, berdasarkan silsilah keturunan Raja Raja Kotabaru menuliskan Pangeran Haji Musa beristri tiga orang yakni Ratu Salamah, adik Sultan Adam yang biasa disebut Ratu Haji Musa. Kemudian memiliki istri kedua/selir, Nyai Dimalu dan istri ketiga, Nyai Mabuk.

Dari Ratu Salamah, memiliki anak yakni Gusti Umi (Putri Kacil), Gusti Pengulu, Gusti Awang, Pangeran Kasuma Indra, Gusti Jamaluddin (Pangeran Bendahara) dan Pangeran Panji. Kemudian dari Nyai Mabuk tidak memiliki keturunan. Sementara dari Nyai Dimalu memiliki anak yakni Pangeran Abdoel Kadir, Pangeran Mohamad Napis serta Pangeran Djaja Soemitra.

Selain itu terdapat versi ketiga, masih berdasarkan silsilah keturunan Raja-Raja Pulau Laut di Kotabaru, Pangeran Djaja Samitra adalah anak dari Pangeran Haji Musa dan Nyai Ambak (adik Nyai Ratu Kamala Sari), berputra Goesti Abdoellah bergelar Pangeran Kasoema Giri. Kemudian Pangeran Kasoema Giri berputra Goesti M. Basoe yang menurunkan Goesti Abdoellah.

Sementara itu, menurut versi keempat, pendapat dari Sulaiman Nadjam, Pangeran Musa (Pangeran Haji Musa) kawin dengan Ratu Salamah, adik Sultan Adam, putri Sultan Sulaiman. Dari perkawinan ini dianugerahi tujuh orang yakni Pangeran Bendahara, Pangeran Panji, Pangeran Abdul Kadir, Pangeran Kusuma Indra, Pangeran Muhammad Nafis, Pangeran Jaya Sumitra serta Pangeran Saputra.

BACA JUGA : Hormati Raja I Pulau Laut, RSUD Kotabaru Berganti Nama Pangeran Jaya Sumitra

Versi kelima, dari silsilah Keturunan Keluarga Keturunan Datu Kabul/ Datu 10 Zuriat Raden Adipati Danoeradja (Anang Zainal Abidin). Pada sumber ini, dituliskan bahwa Pangeran Jaya Sumitra memiliki saudara lain bernama Ratu Safura. Belum ditemukan catatan siapa nama istri Pangeran Jaya Sumitra. Dari sumber silsilah hanya dituliskan bahwa Pangeran Jaya Sumitra memiliki keturunan yakni Pangeran Kesuma Giri, Gusti Aman, Gusti Bagu, Pangeran Abdurrasul, Gusti Achmad, Gusti Salamah, Gusti Kulsum, Gusti Aminah dan Gusti Fatimah.

Bagaimana kesimpulannya? masih perlu dukungan data baru sekaligus pembanding atau keperlukan komparasi. Paling tidak, secara tidak langsung ketiga versi itu sudah memberikan gambaran bagaimana keberadaan Pangeran Jaya Sumitra sebagai keturunan bangsawan.

Terdapat data tambahan mengenai kepindahan Pangeran Jaya Sumitra ke Pulau Laut. Sebagai perbandingan, terdapat pemaparan dari Cornelis Nagtegaal bahwa kepindahan pusat pemerintahan dari Kusan ke Pulau Laut sebenarnya terjadi tahun 1846-1847. Landscape Kerajaan Pulau Laut didirikan oleh Pangeran Jaya Sumitra dan Abdul Kadir. Jadi yang memindahkan Kusan ke Pulau Laut adalah Pangeran Djaya Sumitra dan Abdul kadir.

BACA JUGA : Sketsa Pesisir Borneo : Bissu dan Calabai, Sang Waria Sakti dari Kerajaan Pagatan

Nagtegaal juga menuliskan, setelah mereka mendirikan Koesan/Kusan, menyeberang ke Kampung Selinoe dan menetap di sana. Setelah beberapa saat mereka pergi ke bagian utara Pulau Laut dan melihat Kampung Sigam yang dianggap mereka lebih cocok untuk pemukiman permanen. Di sana, mereka membangun sebuah istana dan Pangeran Kadir memproklamasikan diri sebagai penguasa Pulau Laut.

Pangeran Abdulkadir dari tahun 1846-1861/1873 juga telah memerintah lanskap Batoe-litjin dan Koesan.  Kalau sumber ini yang dijadikan dasar analisa, kemungkinan besar tahun 1846-1847 Pangeran Jaya Sumitra menyerahkan tampuk Kerajaan Pulau Laut kepada Pangeran Abdul Kadir dengan legowo.

Apabila menganalisa pendapat Schwaner dalam tulisannya yang terbit tahun 1855, Kemungkinan besar dari tahun 1845-1855 sudah ada penyerahan tampuk pemerintahan dari Pangeran Jaya Sumitra ke Pangeran Abdul Kadir. Penyerahan ini karena Pangeran Jaya Sumitra mendapat panggilan Sultan Adam untuk kembali ke Banjarmasin membantu Kesultanan Banjar dalam menjalankan roda pemerintahan di ibukota Martapura.

Alasan pemanggilan ini, bisa didapatkan dari pemaparan Munnich & E. Netscher dalam artikelnya menuliskan bahwa Sulthan Adam yang pada saat itu (tahun 1855) usianya sudah 84 tahun. Kemudian permaisurinya, Njai Ratoe Kamala berusia 90 tahun.

Keduanya selaku Raja dan Permaisuri Kerajaan Banjar masih dalam kepemilikan penuh atas aset di wilayah kekuasaannya. Wajar apabila memerlukan sekretaris pribadi karena usia Sultan Adam dan Ratu Kemala Sari sudah sepuh.

BACA LAGI : Langgundi, Tenun Sarigading di Bawah Bayang Sasirangan

Oleh karena itu, perpindahan kekuasaan dari Pangeran Jaya Sumitra kepada adiknya Pangeran Abdul Kadir sekitar tahun 1845-1855, diduga bukan karena Pangeran Jaya Sumitra meninggal dunia. Akan tetapi karena permintaan Sultan Adam untuk menjadi sekretaris pribadinya sangat sulit untuk ditolak sehingga Pangeran Jaya Sumitra memutuskan untuk meninggalkan kedudukannya sebagai Raja Kusan dan Pulau Laut.

Kerajaan pun diserahkan kepada saudaranya, Pangeran Abdul Kadir sekitar tahun yang sama, yakni 1845-1855. Pendapat ini mementahkan pendapat Sulaiman Nadjam bahwa Pangeran Jaya Sumitra karena uzur, maka kerajaan diserahkan pada saudaranya Pangeran Abdulkadir bergelar Raja Pulau Laut II tahun 1861.

BACA LAGI : Berburu Binatang, Gaya Hidup Para Sultan Banjar

Benarkah Pangeran Jaya Sumitra menjadi sekretaris Sultan Adam? Terdapat sumber yang menguatkan Schwaner bahwa Pangeran Jaya Sumitra adalah sekretaris atau juru tulis Sultan Adam. J. Munnich & E. Netscher menuliskan pada tahun 1855, kegiatan Pangeran Djaja Samitra lebih banyak di Banjarmasin yakni sebagai sekretaris/schrijven/juru tulis dari Sulthan Bandjar (Sultan Adam).

Keberadaan Sekretaris Pribadi Sultan Adam, Pangeran Jaya Sumitra yang bekerja bersama dengan Pangeran Muhammad Aminullah sangat memungkinkan karena dalam beberapa sumber dituliskan bahwa Sultan Adam memerintah hingga tahun 1857. Sebagai tambahan informasi bahwa Sulthan Adam Alwatzik Billah bin Sultan Sulaiman Saidullah II atau Panembahan Adam/Sri Paduka Sultan Adam  atau Pangeran Adam  adalah Sultan Banjar yang memerintah antara tahun 1825-November 1857.

Selain itu, menurut van Rees, Pangerangs Djaya Simitra (Pangeran Jaya Sumitra) dan Hamin (Pangeran Hamim) sempat menulis surat kepada kepada Kolonel A. Vandevelde, Komandan Laut Maritim Hindia Belanda wilayah Karesidenan Borneo (Kalimantan) bagian selatan dan timur di Steamboat (Kapal Api) Celebes, Marabahan 7 Agustus 1859.

Perjalanan hidup Pangeran Jaya Sumitra tidak hanya berakhir ketika menjadi Sekretaris Sultan Adam. Berapa upah/gaji Pangeran Jaya Sumitra menjadi sekretaris Sultan? Kemudian bagaimana keturunan Pangeran Jaya Sumitra bisa tersebar di Martapura? Bagaimana kisah akhir dari perjalanan hidupnya? Akan diulas pada tulisan terakhir dari Trilogi Pangeran Jaya Sumitra ini. (jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin