Bus Mini Bisa Jadi Solusi Gantikan Taksi Kuning, Asalkan…

WACANA konversi taksi kuning menjadi bus mini sebagai moda transportasi baru di Banjarmasin, menuai berbagai respons. Ada yang menyambut baik, ada pula yang meragukan. Benarkah kebijakan yang diambil Pemkot Banjarmasin melalui Dinas Perhubungan bisa menjadi solusi jitu bagi penyediaan moda transportasi publik yang minim di ibukota Provinsi Kalimantan Selatan ini.

PLANALOG dari Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (Intakindo) Kalsel, Nanda Febryan Pratamajaya berpendapat Banjarmasin sebagai kota metropolitan, membutuhkan moda transportasi massal yang nyaman dan aman.

“Arus urbanisasi cukup tinggi di Banjarmasin, sehingga tingkat kepadatan penduduk makin sesak. Hal ini terbukti dengan tingginya nilai jual tanah di wilayah kota, sehingga banyak yang tak terjangkau masyarakat,” kata Nanda Febryan Pratamajaya kepada jejakrekam.com di Banjarmasin, Sabtu (12/1/2019).

Selama ini, menurut Nanda, pusat perkantoran, fasilitas umum, pendidikan seperti sekolah dan kampus hingga pusat perbelanjaan mayoritas berada di pusat kota.

“Jadi, masyarakat yang berada di daerah pinggiran atau penyangga Banjarmasin tentu butuh moda transportasi massal. Ini belum ditambah beban jalan yang makin tinggi di Banjarmasin. Jadi, solusinya adalah moda tranportasi yang bisa menjawab hal itu,” papar ahli perencanaan kota jebolan Universitas Brawijaya (UB) Malang ini.

BACA :  Suntik Mati Taksi Kuning, Kadishub Banjarmasin: “Bukan Saya Tak Punya Hati”

Ketua DPP Intakindo Kalsel mencontohkan angkutan publik seperti metromini dan Kopaja di DKI Jakarta, berhasil menangkap peluang ini sejak tahun 1970-an. Namun, beber Nanda, kualitas pelayanannya semakin lama, justru menurun, ketika masyarakat ibukota mulai merasa tidak nyaman.

“Dari sini, hadir angkutan online atau daring sebagai penyelamat. Meski kedatangannya membawa angin segar, namun angkutan daring tidak bisa mengisi kebutuhan pemindahan orang dalam jumlah banyak dalam satu waktu,” ungkap Nanda.

Ia menyarankan agar Pemkot Banjarmasin dalam hal ini Dishub harus mencari solusi yang tepat, ditambah iklim persaingan yang hangat antara taksi daring dengan angkutan konvensional seperti angkot atau taksi kuning.

“Jelas, kalau masyarakat didorong naik angkutan umum, tapi kualitasnya tidak diperbaiki merupakan kebijakan yang kurang bertanggungjawab. Begitupula, membiarkan persaingan antar penyedia yang memiliki modal besar dan kecil, jelas sikap kurang simpatik,” ucap Nanda.

BACA JUGA :  Konversi Taksi Kuning Jadi Bus Mini, Ketua Organda Minta Pemkot Pakai Hati Nurani

Ia mengakui saat ini para pemilik dan sopir taksi kuning masih megap-megap mencari penumpang di tengah persaingan bisnis angkutan, ditambah pola hidup yang mulai berubah di Banjarmasin.

Nanda justru melihat wacana untuk mengganti taksi kuning menjadi bus mini juga sebuah kebijakan dilematis. Ini karena pangsa pasar para penumpang justru digantikan dengan kendaraan roda dua baik ojek online atau konvensional maupun milik pribadi, ditambah adanya taksi daring.

BACA JUGA :  Dinilai Tak Sesuai Standar Lagi, Taksi Kuning Bakal Dikonversi jadi Bus Mini

Idealnya, menurtu Nanda, kejayaan masa lalu taksi kuning bisa dijaga dengan melakukan peremajaan armada, peningkatan sumber daya manusia (SDM) khususnya sopir serta pengembangan infrastruktur pendukung berbasis teknologi informasi.

“Perlu diingat, para pemilik taksi kuning itu kebanyakan adalah pemodal kecil. Bagaimana pun, mereka sudah berjasa dalam mengurai kemacetan di Banjarmasin selama puluhan tahun. Terutama bagi masyarakat menengah ke bawah,” ucap Nanda.

Sepatutnya, masih menurut dia, Pemkot Banjarmasin mengambil peran dengan mengontrol operasional angkutan umum, namun tidak membatasi angkutan daring. “Persaingan akan terus tumbuh, sementara beban jalan terus meningkat di Banjarmasin,” ucap Nanda.

Ia menyarankan agar Pemkot Banjarmasin mulai menyusun rencana sistem angkutan umum massal yang layak dan dapat menguntungkan semua pihak. Ini menjawab kompleksitas pemenuhan angkutan massal bagi warga.

“Ya, seperti yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta dengan mengoperasionalkan TransJakarta sejak 2004. Ternyata, belied ini justru mampu menjawab kebutuhan transportasi massal warganya,” tutur Nanda.

BACA LAGI :  Lagi, Bentrok Sopir Taksi Kuning Vs Taksi Online Terjadi

Dengan begitu, Nanda mengatakan pemerintah kota bisa memprediksi jangka waktu untuk memperbaiki sistem transportasi massal yang layak, dan turut menggerakkan perekonomian wilayah dan pasar.

“Memang angkutan massal seperti bus mini, memiliki potensi yang lebih baik dibandingkan taksi kuning. Namun, sebelum itu direalisasikan, tentu perlu melibatkan semua pihak, terutama para pelaku usaha transportasi yang tergabung dalam Organisasi Angkutan Darat (Organda), pengemudi dan perwakilan rakyat di DPRD Banjarmasin,” papar Nanda.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi GS