Pembelian Ketupat dan Lontong Tak Seramai Hari Raya Idul Fitri

PERAYAAN Idul Adha yang berlangsung empat hari, cukup lama dibandingkan Hari Raya Idul Fitri. Namun, ternyata permintaan ketupat atau lontong untuk menu utama menyantap hidangan daging kurban tak seramai datangnya Hari Raya Idul Fitri.

HAL ini dirasakan para pedagang ketupat yang memanfaat datangnya perayaan Idul Adha yang dimulai pada Rabu (22/8/2018) dengan membuka lapak dadakan di sepanjang Jalan Achmad Yani Km 1, Banjarmasin, Selasa (21/8/2018). Tampak ada belasan pedagang yang berasal dari kampung ketupat, Sungai Baru, mendirikan lapak untuk menyambut para pengendara untuk membeli makanan khas hari raya itu.

“Memang, kalau perayaan Idul Adha lebih panjang dibandingkan Hari Raya Idul Fitri. Namun, hal itu tak menjamin permintaan ketupat dan lontong lebih besar, dibandingkan hari raya puasa itu,” ucap Noor Hayati, pedagang ketupat asal Sungai Baru ini kepada jejakrekam.com, Selasa (21/8/2018).

Menurut dia, ada belasan pedagang yang berasal dari Sungai Baru mendirikan lapak untuk menjemput para pembeli agar tak harus mendatangkan sentra produksi ketupat di Banjarmasin itu. Untuk harga yang dibandrol Hayati bersama pedagang ketupat lainnya, rata-rata seharga Rp 6 ribu per biji baik ketupat, maupun lontong.

“Harganya rata-rata Rp 6 ribu per biji untuk ketupat dan lontong ukuran sedang. Kami hanya membuat sedikit dibandingkan saat perayaan Idul Fitri lalu,” kata Hayati.

Dia menyebut untuk pembuatan ketupat, pada Idul Fitri lalu sedikitnya membutuhkan 5 karung beras. Sedangkan, pada Hari Raya Idul Adha ini hanya dua karung beras per hari. Begitupula, lontong dan aneka panganan lainnya, tidak terlalu banyak dibandingkan saat menyambut lebaran.

“Mungkin karena umat Islam sudah tak puasa, jadi ketika perayaan Hari Raya Idul Adha sudah terbiasa memakan lontong atau ketupat. Kebanyakan permintaan ketupat atau lontong untuk menemani menu sate atau soto khas Idul Adha,” tutur Hayati.

Meski begitu, Hayati mengakui cukup meraih untung dengan menggelar lapak di tepi Jalan Achmad Yani yang menjadi poros masuk dan keluar Kota Banjarmasin. Rata-rata uangan ratusan ribu saat berjualan dari siang hingga malam hari bisa dibawa pulang ke rumah.

“Ya, alhamdulillah bisa mendapat untung, dibandingkan menunggu pembeli di rumah. Kalau beli di rumah, harganya memang lebih murah sekitar Rp 2 ribu. Ya, seperti ketupat ukuran sedang di tingkat agen hanya dijual Rp 4 ribu per biji,” tandasnya.(jejakrekam)

Penulis Sirajuddin
Editor Didi GS
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news and updates delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time