Purici Bagawian

0

Oleh : Noorhalis Majid

BEKERJA tidak rapi, asal-asal – sembarangan, sekedarnya saja, asal menunaikan tugas, tidak tergambar dedikasi – komitmen dan kesungguhan, sehingga hasilnya tidak sempurna.

BANYAK salah dan cacat dalam bekerja, dan malas untuk memperbaikinya, itulah makna dari purici bagawian. Sembarangan dalam bekerja, mungkin begitu arti harfiah yang mendekati. Bisa juga diartikan dengan jorok – sembrono. Lawan dari purici adalah kerapian – kesempurnaan, bahasa sekarang disebut dengan perfect – sempurna.

Boleh jadi sebabnya karena bekerja tidak dengan hati, bahkan berat hati – tidak tulus, dan berdampak pada hasilnya. Antara pikiran, hati dan gerak tangan dalam mengerjakan sesuatu tidak satu kesatuan – tidak sinergis, maka jangan berharap kesempurnaan.

BACA : Teranyar ‘Dijamak Jibril’, Dokumentasikan Paribasa Banjar Berisi Nasihat dalam Tiga Buku

Sebenarnya, pekerjaan yang dikerjakan secara tidak sempurna, apalagi jorok, hanya akan membuang-buang waktu, karena pasti bagi seorang yang perfect, harus diulang kembali. Apalagi ketidaksempurnaan tersebut menghambat atau mengganggu proses selanjutnya. Betapa banyak hasil dari satu pekerjaan berdampak pada tahap pekerjaan lainnya, dikarenakan pekerjaan tersebut hanya satu bagian dari proses panjang atau rangkaian pekerjaan lainnya. Ketika mengganggu proses berikutnya, terpaksa harus mengulang lagi – agar hasilnya lebih baik.

BACA JUGA : Kuliner Banjar; Refleksi di Ujung Lidah, Warisan yang Tak Boleh Luntur

Bekerja memang harus maksimal, sepenuh kemampuan yang dimiliki. Bila tidak mampu, sebaiknya belajar dan bertanya pada yang mampu. Lebih penting dari itu, belajar dari kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan, baik kesalahan diri sendiri maupun oleh orang lain yang sudah melakukannya dan dipetik menjadi pelajaran. Bekerja dengan ilmu, biasanya akan lebih mudah, karena itu belajar dan terus belajar, adalah kata kunci yang tidak dapat dibantah.

BACA JUGA : Peribahasa Banjar untuk Kritik Pembangunan di Kalsel

Ungkapan ini memberikan gambaran bahwa kebudayaan banjar sangat tidak suka pada orang yang bekerja asal-asalan, tidak sepenuh hati. Karenanya, saat ada yang bekerja sembrono, disetarakan dengan purici – jorok. Maka, pesan yang ingin disampaikan adalah, hadapi segala bentuk pekerjaan dengan sepenuh hati – bekerjalah dengan hati – segenap perasaan. Kerahkan seluruh kemampuan, ilmu dan pengetahuan, agar hasil pekerjaan memuaskan semua pihak. Kalau ditemui ada hasil yang sekadarnya saja – asal jadi, bisa dipastikan hal tersebut dikerjakan oleh orang yang purici dalam bagawian.(jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar

Staf Senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin

Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.