Teranyar ‘Dijamak Jibril’, Dokumentasikan Paribasa Banjar Berisi Nasihat dalam Tiga Buku

0

NOORHALIS Majid tergolong penulis produktif. Matang di pengalaman di dunia aktivis dan budaya, khususnya Banjar, Kalimantan Selatan, memicu kreativitas untuk mengabadikan karya diri lewat tulisan di buku.

PERIBAHASA atau paribasa dalam bahasa Banjar yang menggambarkan kearifan lokal, pesan moral dan nasihat pun dikumpulkan Noorhalis Majid. Semua ditulis dengan bahasa kekinian, jadilah kini telah terangkum dalam tiga buku.

“Ya, sudah ada tiga buku berisi paribasa dan ungkapan Banjar atau berbahasa Banjar ditulis dan dibukukan,” ucap Noorhalis Majid kepada jejakrekam.com, Kamis (17/6/2021).

Mantan Kepala Ombudsman Perwakilan Kalsel ini menjelaskan semua buku itu merupakan paribasa dan ungkapan Banjar. Tiap buku berisi 200 tema.

“Artinya dengan tiga buku sudah terdokumentasi berbentuk buku sebanyak 600 tema artikel paribasa dan ungkapan Banjar,” ujar pria yang pernah memimpin Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin.

BACA : Peribahasa Banjar untuk Kritik Pembangunan di Kalsel

Majid menyebut buku pertama berjudul ‘Tatarang Tangguk’. Kemudian, buku kedua bertajuk ‘Hambar Satrup’, dan buku ketiga atau teranyar, bertema ‘Dijamak Jibril’. 

“Mudah-mudahan akan terbit buku keempat dan kelima, sehingga genap lima buku. Ini berarti terdokumentasi 1.000 tema dan ditulis dalam bentuk artikel,” papar mantan Ketua KPU Kota Banjarmasin ini.

Menurut Majid, hal ini dilakoninya sebagai upaya untuk melestarikan paribasa dan ungkapan Banjar. Di mata dia, kalau tidak ada yang melestarikan, pasti akan hilang atau dilupakan.

“Sayang rasanya, karena hal ini merupakan kekayaan pengetahuan. Isinya berupa nasihat, dan berbagai pelajaran hidup yang berkembang di tengah masyarakat Banjar, bagi generasi sekarang dan akan datang,” tutur Majid.

Ia mengakui tidak melakukan riset secara khusus terhadap penulisan ini. Namun, hanya berdasar ingatan atau memori sebagai orang Banjar, terutama berbagai pelajaran dari orangtua yang selalu menggunakan paribasa dan ungkapan dalam kesehariannya. “Termasuk, ada masukan dari sejumlah kawan yang lebih memahami kebudayaan Banjar,” kata Majid.

BACA JUGA : Mengukur Eksistensi Bahasa Banjar Dari Karya Sastra Hingga Karya Akademik

Owner Rumah Alam Sungai Andai ingin mengakui ada sejumlah penerbit yang sangat membantu dirinya. Untuk buku pertama dan ketiga diterbitkan oleh Pustaka Banua. Penerbit ini dikelola dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr Taufik Arbain beralamat di Jalan Pramuka Komplek Smanda Perum Bumi Pramuka Asri Nomor 19 Blok D Banjarmasin, Banjarmasin.

Sedangkan, buku kedua diterbitkan oleh Tahura Media. Publisher ini masih berada di ibukota Kalimantan Selatan, tepatnya di Pemurus Luar, Kecamatan Banjarmasin Timur, yang juga menerbitkan esai atau hasil riset dari penulis-penulis lokal Banua.

“Penerbitan buku-buku ini semua milik kawan-kawan yang membantu dengan berbiaya murah,” kata Majid.(jejakrekam)

Penulis Rahm Arza
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.